steroids
Banner
Translate
Edisi No 07 Vol XXXVI - 2010 - Editorial

Faktor Risiko Kejadian Arthritis Gout pada Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar


Artritis gout atau arthritis pirai adalah penyakit reumatik akibat gangguan kinetik asam urat (hiperurisemia) yang menyebabkan inflamasi artikuler akut yang sakit hebat. Arthritis gout menahun dengan kadar asam urat yang tidak terkendali dapat menyebabkan komplikasi dan risiko cacat sendi seumur hidup. Sendi dapat hancur total akibat pembeng-kakan yang parah. Gout terjadi akibat interaksi antara faktor risiko genetik dengan faktor risiko lingkungan. Sekitar 60% anggota keluarga yang ada riwayat penyakit gout akan terkena serangan gout dan hampir 47,4% di antara mereka adalah pria.

Dua enzim yang memproduksi asam urat berlebih adalah Phosporibosyl-pyrophosphate (PRPP) yang meningkatkan konsentrasi PRPP menjadi kunci sintesa purin, dan defisiensi hypoxanthine guanine phosphoribosyl transperase (HGPRT) yang berfungsi meningkatkan metabolisme guanin serta hipoxantin menjadi asam urat.

Di Amerika, insiden gout primer meningkat sangat pesat pada 1977-1978 (20,2 /100.000) dan pada 1995-1996 (45,9/100.000). Survei kesehatan nasional melaporkan jumlah penderita gout pada 1992 sebesar 2 juta kasus dan pada 1996 pada pria meningkat lebih dari 4,6% sedangkan pada wanita 2%. Pada Suku Maoris, New Zealand, prevalensi gout dilaporkan 5%, tertinggi pada kelompok usia 65 tahun atau lebih. Di Indonesia, arthritis gout terjadi pada usia yang lebih muda, sekitar 32% pada pria berusia kurang dari 34 tahun. Pada wanita, kadar asam urat umumnya rendah dan meningkat setelah usia menopause. Prevalensi arthritis gout di Bandungan, Jawa Tengah, prevalensi pada kelompok usia 15-45 tahun sebesar 0,8%; meliputi pria 1,7% dan wanita 0,05%. Di Minahasa (2003), proporsi kejadian arthritis gout sebesar 29,2% dan pada etnik tertentu di Ujung Pandang sekitar 50% penderita rata-rata telah menderita gout 6,5 tahun atau lebih setelah keadaan menjadi lebih parah.

Berbagai faktor risiko berpengaruh secara berbeda terhadap kejadian arthritis gout dan faktor risiko yang paling kuat adalah kebiasaan makan daging (OR = 5,7). Arthritis gout sering dianggap penyakit pria karena pada pria kadar asam urat cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan usia. Kelompok pria berisiko menderita arthritis gout 4,04 kali lebih besar daripada wanita. Sebaliknya, pada wanita, peningkatan kadar asam urat dimulai sejak masa menopause karena hormon estrogen berperan membantu sekresi asam urat melalui urine. Asam urat yang meningkat melampaui ambang batas yang dapat ditolerir berakibat pada gangguan ginjal, sendi, dan saluran kemih. Pada pasien berumur di atas 65 tahun, rasio penderita arthritis gout wanita dan pria adalah satu banding tiga, akibat kehilangan efek uricosurik dari estrogen pada saat menopause.

Artikel hasil penelitian Faktor Risiko Arthritis Gout pada Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, oleh Buraerah, Hakim, Abdullah, dan Maupe Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Univer­sitas Hasanuddin, kami bahas dalam editorial Medika No. 7 Tahun ke XXXVI, Juli 2010. Penelitian tersebut mendeteksi beberapa faktor risiko yang dapat dikendalikan yang dapat digunakan untuk upaya promosi dan pencegahan penyakit. Faktor risiko tersebut meliputi obesitas (OR=2,60); hipertensi (OR=2,30); dan kebiasaan makan daging (OR=5,25). Kebiasaan makan daging merupakan faktor risiko yang paling kuat. Selain itu, ditemukan faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan yang berguna untuk menentukan prioritas sasaran program pence­gahan, meliputi jenis kelamin laki-laki (OR = 4,04) dan riwayat gout dalam keluarga (OR = 3,7).

Konsumsi lemak berlebihan dan pembakarannya menjadi kalori mengganggu ekskresi asam urat melalui urine. Reduksi kalori secara mendadak untuk menurunkan berat badan dapat menyebabkan ketonemia yang mencetuskan serangan gout. Kekalahan asam urat berkompetisi dengan keton untuk keluar dari tubuh melalui urine membuatnya tertahan dalam tubuh. Hipertensi ditemukan pada 25-50% penderita gout dan sekitar 2%-14% penderita hipertensi menderita gout. Hubungan itu terjadi melalui mekanisme penurunan jumlah aliran darah ke ginjal yang berhubungan dengan hipertensi dan hiperurisemia. Konsumsi daging memperberat kerja enzim hipoksantin untuk mengolah purin. Akibatnya, banyak asam urat tergenang di dalam darah dan dalam bentuk butiran di sekitar sendi.

Untuk mencegah serangan arthritis gout dianjurkan untuk modifikasi gaya hidup dengan mengatur pola makan dengan menghindari makanan yang mengandung purin tinggi seperti daging atau jeroan seperti coto, menjaga berat badan tubuh dengan diet dan olah raga teratur, serta mengendalikan hipertensi dengan terapi yang disertai pengukuran kadar asam urat darah secara berkala. Penyakit artitis gout yang menyiksa tersebut juga disebabkan oleh perilaku makan yang tidak se-hat. Peningkatan kesejahteraan umat manusia ternyata berdampak buruk terhadap kesehatan melalui perilaku yang tidak mendukung kesehatan. Dalam kesejahteraan yang se­makin membaik, perilaku sehat sering dirasakan berat dan mendera, meskipun disadari bahwa hal itu bermanfaat bagi kesehatan. (Nasrin Kodim)
 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm