Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan

Bantu Turunkan Kejadian Penyakit Kardiovaskular di Indonesia

0912-195

Tema WHO 2009 adalah penyakit kardiovaskular. Tema inilah yang juga diusung PT. Pharmasolindo untuk meramaikan stand acara Kongres Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia XIV (Kopapdi XIV) di Jakarta, dalam mengeluarkan produk kardiovaskularnya demi menurunkan kejadian penyakit kardiovaskular di Indonesia. Produk kardiovaskular tersebut adalah Nopril® dan Kaftensar® sebagai antihipertensi serta Nitrokaf® sebagai antiangina.

Setiap tablet 10 mg Nopril® mengandung lisinopril dihidrat yang setara dengan 10 mg lisinopril dari golongan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-I). Sedangkan antihipertensi lain yaitu Kaftensar® merupakan tablet salut selaput yang mengandung 54,5 mg kalium losartan yang setara dengan 50 mg losartan dari golongan angiotensin II receptor blocker (ARB). Sementara, Nitrokaf® mengandung giliseril trinitrat (GTN).

Nopril® dapat diberikan pada pasien yang mengalami hipertensi esensial dan hipertensi renovaskular secara tunggal ataupun kombinasi dengan antihipertensi kelas lain. Selain itu, dapat diberikan pula pada pasien yang mengalami kongesti jantung sebagai tambahan terapi dengan diuretik dan digitalis.

Obat yang dapat diatur dosisnya pada pasien dengan kerusakan ginjal ini dapat dimakan sebelum, selama, ataupun sesudah makan. Dosis awal diberikan pada 10 mg dan efektifnya bila tunggal adalah 20 mg sehari. Dosis dapat ditingkatkan bergantung pada tekanan darah pasien atau jika efek terapi belum dicapai dalam 2-4 minggu dengan dosis maksimum 80 mg/hari.

Nopril® diinisiasi pada dosis 5 mg untuk pasien yang tidak dapat melanjutkan diuretik. Bila terdapat hipertensi renovaskular, terutama bila dengan stenosis arteri renalis bilateral, dapat menyebabkan respons berlebihan pada dosis awal sehingga dapat diberikan dosis yang lebih rendah lagi, misalnya 2,5 mg atau 5 mg.

Golongan antihipertensi lain yang ditawarkan PT. Pharmasolindo adalah ARB, terutama losartan. Kaftensar® yang merupakan penghambat reseptor angiotensin II bekerja menurunkan tekanan darah dan beban kerja jantung. Pada awal pengobatan, dosis yang diberikan sebanyak 50 mg dan efek antihipertensi maksimal akan diperoleh setelah 3-6 minggu awal terapi. Beberapa pasien akan memperoleh efek tersebut pada dosis 100 mg. Kelebihannya produk ini adalah tidak memerlukan penyesuaian dosis awal pada pasien lanjut usia (lansia) atau pasien dengan gangguan ginjal, termasuk yang sedang mengalami hemodialisis karena diekskresi melalui dialisis. Pasien dengan penurunan volume intravaskular, misalnya yang sedang mendapat terapi diuretik dosis tinggi, dosis awal yang diberikan dapat 25 mg saja. Dosis yang lebih kecil juga dianjurkan pada pasien dengan gangguan hati. Bila mendapat dosis berlebih maka efek yang dirasakan paling sering adalah hipotensi, takikardia, dan bradikardia dikarenakan efek parasimpatik obat ini.

Sementara itu, Nitrokaf® memberikan dua bentuk sediaan bagi klinisi sehingga dapat memilih, yaitu kapsul retard berisi GTN 2,5 mg dan kapsul retard forte berisi GTN 5 mg. Obat ini dikontraindikasikan pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap GTN, anemia berat, trauma kepala, peningkatan tekanan intrakranial, perdarahan serebral, glaucoma insipien, kegagalan sirkulasi akut, seperti syok, hipotensi, dan menggunakannya bersama sildenafil.

Efek klinis menguntungkan yang diberikan gliseril trinitrat (GTN) atau yang dikenal juga sebagai nitrogliserin adalah efek dilatasi vena dan arteri besar, serta dilatasi arteriol pada dosis GTN yang lebih besar. Dosis kecil GTN menyebabkan venodilatasi perifer dengan redistribusi volume darah sirkulasi yang keluar dari jantung dan paru serta melalui sirkulasi splanknik dan mesenterik. Hal tersebut tentu dapat mengurangi preload jantung. Kemudian akan bermanifestasi dengan penurunan ukuran ruang jantung, tekanan pengisian ventrikular dan tekanan dinding, serta tekanan darah sistemik. Pada pasien dengan kerusakan ventrikel kiri, terdapat adanya peningkatan ringan cardiac output dan volume sekuncup dengan penggunaan GTN.

GTN juga menginduksi vasodilatasi arteri yang semakin tampak efeknya dengan penambahan dosis dan konsentrasi plasma. Efek vasodilatasi arteriol baru tampak pada dosis GTN yang lebih tinggi. Konduktansi arteri yang meningkat dan penurunan resistansi vaskular perifer dengan penggunaan GTN menyebabkan reduksi afterload ventrikel kiri. Penurunan preload maupun afterload ventrikel kiri dan kanan tersebut disebabkan oleh GTN yang menurunkan kerja jantung dan menurunkan kebutuhan oksigen sehingga rasio permintaan oksigen miokard dan masukan oksigen miokard meningkat, dan akhirnya iskemia miokard dapat dikurangi atau dicegah.

Efek lain yang dimiliki GTN adalah peningkatan rasio aliran darah subendokardial dan subepikardial, mencegah atau mengembalikan vasokonstriksi arteri koroner, dan mendilatasi pembuluh darah kolateral koroner. Selain itu, GTN  juga memiliki efek anti-agregasi bagi pasien angina maupun non-angina. (Kholisah)
 
Banner