| Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan |
Batuk, Tidak Perlu Sulit Pilih Antitusif atau Ekspektoran
Batuk merupakan mekanisme pertahanan penting untuk membantu membersihkan sekret berlebihan dan berbagai materi asing dari saluran napas. Namun, batuk pula yang menjadi faktor penting dalam penyebaran infeksi, dapat mempertahankan kesadaran selama aritmia letal dan atau mengubah aritmia ke ritme jantung yang lebih normal, serta merupakan salah satu gejala utama penting mengapa pasien mencari pertolongan medis dan bersedia mengeluarkan uangnya.
Batuk melibatkan arkus refleks yang kompleks, dimulai dari stimulasi reseptor iritan. Sebagian reseptor tersebut berlokasi di sistem pernapasan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pusat batuk tersebar di medulla. Selain keterlibatan saraf pusat dan saraf tepi yang kompleks, batuk juga melibatkan otot polos pada cabang bronkus. Dengan demikian, iritasi pada mukosa bronkus akan mneyebabkan bronkokonstriksi yang menstimulasi reseptor batuk di aliran trakheobronkial.
Batuk yang efektif bergantung pada kemampuan untuk mencapai aliran udara dan tekanan intratorakal yang tinggi, serta kemampuan meningkatkan pembuangan mukus yang menempel di dinding saluran napas. Sedangkan batuk yang tidak efektif dapat terjadi saat otot pernapasan menjadi lemah atau bila permukaan saluran pernapasan yang bersangkutan mengalami perubahan. Walaupun berbagai pengobatan untuk meningkatkan batuk atau protrusif secara nonfarmakologis dapat meningkatkan mekanisme batuk, uji klinis membuktikan efek yang lebih baik pada morbiditas dan mortalitas pasien yang masih kurang.
Walau batuk merupakan mekanisme fisiologis dan tidak baik bila disupresi sembarangan, batuk kronik dan berat akan sangat menggangu pasien. Pasien dengan batuk kronik dan berat akan sulit beristirahat dan merasa lelah, terutama pada pasien usia lanjut. Saat inilah, diperlukan obat yang dapat mengurangi frekuensi dan intensitas batuk.
Kodein merupakan salah satu agonis opioid yang memiliki efek menekan batuk. Efek penekan batuk yang dimilikinya bekerja di sentral. Berbeda dengan morfin, kodein lebih efektif diberikan oral dibanding parenteral untuk mendapatkan efek analgesik dan depresan saluran napas. Kodein memiliki afinitas rendah pada reseptor opioid dan efek analgetik yang dimilikinya diakibatkan konversinya menjadi morfin. Sementara, efek antitusif yang dimilikinya dikarenakan ikatannya pada reseptor berbeda yang mengikat kodein itu sendiri.
Pemberian kodein pada dosis yang lebih rendah cukup memberikan efek supresi dibandingkan dosis untuk analgesik. Adapun dosis yang dapat diberikan adalah 10-20 mg, sedangkan untuk memberi efek supresi yang lebih maka dosis dapat ditingkatkan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sekret yang berlebihan di saluran pernapasan dapat menginduksi terjadinya batuk, sehingga penting diketahui dari pasien apakah batuknya menghasilkan sekret atau dapat dikatakan batuk yang produktif. Bersihan mukosilier merupakan proses di mana mukus saluran pernapasan dan beberapa zat yang terjebak di antaranya dibersihkan dari paru. Hal ini penting sebagai mekanisme pertahanan tubuh manusia. Demikian pula mukus yang menyebabkan rangsangan untuk batuk. Namun, pemberian beberapa obat diketahui berefek pada upaya bersihan mukosilier ini. Salah satu jenis ekspektoran yang dapat membantu membersihkan mukus tanpa mengubah transport mukosilier adalah guaiafenesin.
PT. Pharmasolindo dalam kesempatan Kongres Perkumpulan Ahli Penyakit Dalam Indonesia XIV (Kopapdi IV) ikut mengetengahkan Codipront®, baik yang hanya mengandung kodein sebagai antitusif maupun yang juga mengandung guaiafenesin. Tersedianya dua pilihan yang lengkap ini memudahkan klinisi membantu pasien sesuai dengan jenis batuknya.
Di dalam kapsul dan sirup Codipront® antitusive, selain kodein anhidrat terdapat pula feniltoloksamin yang keduanya dalam bentuk resinat terikat dengan ion-exchanger. Sementara, kapsul dan sirup Codipront® cum expectorant mengandung codein anhidrat, feniltoloksamin, dan guaifenesin. Di dalam sirup Codipront cum expectorant® juga terdapat ekstrak Thymi. Feniltoloksamin di atas memiliki efek antihistamin dan ekstrak Thymi memberi efek ekspektoran ringan.
Codipront® antitusive diindikasikan bagi batuk kering (nonproduktif) yang disertai dengan alergi. Sementara, Codipront® cum expectorant dapat digunakan untuk meringankan batuk dan membantu pengeluaran dahak dari saluran pernapasan pada keadaan alergi, paroksismal, serta bronkitis akut dan kronik. Tentu Codipront® memiliki kelebihan dibanding kodein lainnya, karena telah terbukti mengurangi intensitas dan frekuensi batuk segera setelah satu jam pemberian. Selain itu, aksi obat ini lebih panjang karena memiliki formula sustained-release.
Efek samping yang mungkin timbul di awal pengobatan adalah mual dan muntah. Bila lebih lanjut, maka dapat timbul konstipasi, sakit kepala ringan, sedikit mengantuk, induksi glaukoma, perubahan jumlah sel darah merah, dan kelainan buang air kecil. (Kholisah)






