| Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan |
Edukasi Penting untuk Kendalikan Prevalensi Diabetes

Perjalanan penyakit diabetes dimulai dari kondisi pradiabetes. Pada kondisi ini, sudah mulai terjadi gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa. Jika kondisi ini dibiarkan, lama-lama akan menjadi diabetes. Selanjutnya, diabetes yang telah menahun akan menimbulkan berbagai komplikasi seperti ulkus diabetik, neuropati, nefropati, retinopati, dan gang-guan-gangguan lain yang lebih lanjut. Bila sudah sampai tahap komplikasi maka memerlukan biaya perawatan yang lebih tinggi. Melihat kondisi yang demikian, langkah yang lebih tepat dalam mengendalikan prevalensi diabetes adalah mencegah agar jangan sampai terjadi kondisi pradiabetes. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan edukasi. Demikian dikatakan DR.Dr. Achmad Rudijanto, SpPD-KEMD dalam acara Temu Media “Kendalikan Diabetes agar Kualitas Hidup Meningkat” di Jakarta, 9 November 2009.
Acara yang terselenggara atas kerjasama Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), sanofi aventis, dan Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia yang jatuh pada 14 November 2009. Peringatan Hari Diabetes Dunia telah dilakukan sejak 1991. Untuk periode 2009-2013, tema yang diangkat adalah “Edukasi dan Pencegahan Diabetes.” Kampanye global dilakukan untuk menghimbau semua pihak yang berkepentingan untuk membantu meningkatkan kepedulian masyarakat tentang diabetes, sekaligus cara mengatasinya.
Mengenai prevalensi diabetes, Dr. Rudijanto yang juga menjabat Ketua Persadia menyatakan, “Menurut Data Depkes 2008, saat ini terdapat 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia (sekitar 12 juta orang) menderita diabetes dan sebesar 11% dari jumlah tersebut merupakan kelompok pradiabetes.” Beliau juga memprediksikan jumlah kedua kelompok tersebut akan meningkat. “Dalam proyeksi tahun 2030 diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 21 juta orang. Oleh karena itu, edukasi yang berkelanjutan memainkan peranan penting dalam mencegah proyeksi tersebut,” ujar dokter yang tinggal di Malang itu. Edukasi menjadi fokus program kerja Persadia dalam 3 tahun mendatang. Edukasi dilakukan dengan beberapa kegiatan seperti menerbitkan buku panduan untuk pradiabetes, mengadakan pelatihanpelatihan untuk para dokter, perawat, dan ahli gizi.
Sementara itu, Mr Gilbert Julien, Presiden Direktur Sanofi-Aventis Indonesia, dalam acara tersebut mengatakan, “Sanofiaventis telah memiliki pengalaman selama lebih dari 85 tahun dalam bidang riset dan inovasi dengan mengkoordinasikan dan mengoperasikan lebih dari 20 pusat penelitian di tiga benua.” Anggaran yang disediakan untuk penelitian dan pengembangan mencapai lebih dari 4 milyar Euro setahun atau 40 trilyun rupiah (122 milyar sehari). Dari kegiatan tersebut, sanofi-aventis telah menghasilkan berbagai obat-obatan seperti untuk penyakit dalam bidang kardiovaskular, onkologi, trombosis, penyakit dalam, susunan saraf pusat, gangguan tulang (osteopororsis) dan metabolisme (diabetes), serta vaksin.
Sehubungan dengan Hari Diabetes Dunia, sanofi aventis menunjukkan komitmennya dengan memberikan akses yang luas terhadap obat yang berkualitas bagi pasien dan juga akses untuk memperoleh informasi serta edukasi mengenai diabetes. “Untuk membuka akses informasi dan memberikan edukasi, sanofi-aventis membuat program Diabetes EduCenter yang merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) kami,” ungkap Mr. Julien. Tujuan diadakannya program tersebut adalah untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang diabetes dan cara mengendalikannya sehingga kualitas hidup lebih meningkat.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Roy Panusunan, SpPD-KEMD, menyatakan bahwa negara dengan prevalensi diabetes tertinggi di dunia adalah India 50,8%; China 43,2; Amerika Serikat 26,8; Rusia 9,6%; dan Brazil 7,6%. Sementara, prevalensi diabetes di Indonesia tertinggi di Maluku Utara 11,1% dan Jakarta yang kehidupan westernisasinya cukup kental, hanya menduduki peringkat sembilan. Untuk mengantisipasi peningkatan prevalensi diabetes di Indonesia perlu dilakukan edukasi bagi orang yang belum menderita penyakit tersebut. “Berjalan kaki selama tiga puluh menit dapat mencegah terjadinya diabetes,” saran Dr. Roy. Ketua konsultasi Diabetes RS Pantai Indah Kapuk ini menginformasikan bahwa rumah sakit tersebut memiliki Program Klinik Edukasi Diabetes yang meliputi perawatan kaki, senam, ceramah diabetes, dan konsultasi gizi. Selain itu, dengan adanya Diabetes EduCenter yang pertama diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih baik dan edukasi yang lebih intensif kepada pasien serta masyarakat mengenai pentingnya mengenal penyakit diabetes berikut upaya pencegahannya. (hidayati)






