| Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan |
Lebih Dini Melawan Diabetes

Dewasa ini, penanganan diabetes tidak terbatas hanya pada pencegahan komplikasi atau pengendalian kadar gula darah, tetapi juga mencakup pencegahan atau penundaan terjadinya diabetes itu sendiri. Intervensi dilakukan pada pasien lebih dini, yaitu sebelum pasien jatuh dalam kondisi diabetik, tetapi telah memiliki risiko tinggi diabetes melitus. Risiko tinggi yang dimaksud adalah Impaired Fasting Glucose (IFG) dan Impaired Glucose Tolerance (IGT), atau kombinasi keduanya.
Impaired fasting glucose didefinisikan sebagai peningkatan kadar gula darah puasa (100-126 mg/dl), sedangkan impaired glucose tolerance didefinisikan sebagai peningkatan kadar gula darah plasma dua jam setelah intake 75 gram glukosa pada tes toleransi glukosa oral (140-200 mg/dl). Kemudian kombinasi IGT dan IFG yang dimaksud merupakan gabungan dari kedua kondisi tersebut. Baik IFG maupun IGT merupakan bagian dari perjalanan penyakit diabetes melitus pada tahap yang sangat dini.
Penemuan kasus IFG dikaitkan dengan beberapa faktor seperti genetik, jenis kelamin lelaki, dan kebiasaan merokok pada individu yang bersangkutan. Sedangkan IGT dikaitkan dengan inaktivitas fisik, diet yang tidak sehat, dan postur tubuh pendek. Patofisiologi IFG dikaitkan dengan terjadinya penurunan sensitivitas sel-sel hepar terhadap insulin, jumlah sel ß pankreas yang rendah berkepanjangan, dan menigkatnya sekresi glucagon secara tidak tepat. Sedangkan terjadinya IGT dikaitkan dengan patofisiologi berupa penurunan sensitivitas insulin perifer dengan sensitivitas sel hepar terhadap insulin mendekati normal, kehilangan sel ß pankreas secara progresif, dan peningkatan sekresi glucagon secara tidak tepat.
Bila kondisi ini dibiarkan berlanjut, akan terus memperburuk resistansi insulin dan pasien masuk dalam kondisi diabetes. Selanjutnya, bila kadar gula darah penderita diabetes tidak dikendalikan dengan baik, akan terjadi kerusakan pembuluh darah yang kemudian bermanifestasi sebagai retinopati diabetik, neuropati diabetik, nefropati diabetik, stroke, maupun penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, penting sekali menata laksana IGT dan IFG. Berdasarkan penelitian yang disampaikan Prof. Dr. Budisantoso, SpPD, KEMD, individu dengan IGT memiliki prevalensi penyakit arterosklerosis dan hubungan dengan hipertensi, dislipidemi, dan obesitas sentral lebih besar. Dalam jangka waktu 15 tahun, pasien dengan IGT akan mengalami penebalan tunika intima dan arterosklerosis arteri karotis. Penelitian lain yang disampaikan oleh Dr. Suharko Soebardi, SpPD, KEMD, juga menyimpulkan bahwa risiko terjadinya diabetes lebih tinggi pada individu dengan IGT ataupun IFG, dan paling tinggi pada individu dengan kombinasi IGT-IFG dibandingkan individu normal. Fakta-fakta tersebut disampaikan dalam simposium Jakarta Diabetes Meeting 2009 yang bertempat di hotel Mercure, Ancol, 10-11 Oktober 2009.
Tujuan terapi pencegahan adalah mereservasi cadangan sel ß pancreas dan mencegah/menunda terjadinya komplikasi, baik komplikasi mikrovaskular maupun kardiovaskular yang banyak terjadi pada penderita diabetes. Untuk menemukan strategi pencegahan diabetes terbaik, telah dilakukan berbagai studi yang membandingkan efektivitas pengaturan pola makan, berolah raga, dan pemberian agen antidiabetik oral.
Studi Diabetes Prevention Program membandingkan efek-tivitas intervensi berupa olah raga 150 menit/minggu dan penurunan berat badan >7%, dengan pemberian metformin 2 x 850 mg sehari, dan dengan plasebo. Hasilnya, modifikasi gaya hidup berhasil menurunkan insidens diabetes melitus sebanyak 58% dan penggunaan metformin dapat menurunkan 31% insidens dibandingkan dengan kelompok penerima plasebo. Khusus untuk individu lanjut usia, metode modifikasi gaya hidup lebih efektif mencegah diabetes, sedangkan untuk individu dengan obesitas, penggunaan metformin memberi hasil yang lebih memuaskan. Penelitian lain menggunakan akarbose 3 x 100 mg menunjukkan bahwa akarbose dapat menurunkan 24% insidens diabetes melitus. Kemampuan olah raga maupun metformin mencegah diabetes melitus dikaitkan dengan efek peningkatan sensitivitas insulin perifer. Hal ini juga ditemui baik pada pasien yang berolah raga maupun yang mengonsumsi metformin. Demikian disampaikan Dr. Dante Saksono, SpPD, PhD dalam kesempatan yang sama.
Namun, pada kenyataanya, keunggulan terapi modifikasi gaya hidup dibandingkan medikamentosa mengalami kendala. Sulit menjaga gaya hidup pasien untuk jangka panjang. Atau pada kasus lain, pasien gagal mencapai gaya hidup yang ditargetkan. Pada kondisi demikian, dapat digunakan terapi medikamentosa menggunakan metformin, agen antidiabetik oral golongan biguanid yang telah terbukti efektif menurunkan insidens diabetes. Penggunaan metformin sebagai terapi pencegahan diabetes ini semakin dipermudah dengan tersedianya glucophage XR dan glucovance. Namun, bagaimanapun, terapi modifikasi gaya hidup tetap memiliki tempat yang tidak tergantikan dalam upaya pencegahan diabetes. (gita)







