Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan

Menyingkap Perkembangan Terbaru Patofisiologi Dermatitis Atopik

0912-186

Gatal sering menjadi keluhan utama yang menyebabkan pasien datang berobat ke dokter. Apalagi jika gatal yang dirasakan tidak mengenal waktu dan mengganggu aktivitas. Konsentrasi berkurang, pekerjaan terhambat, yang pada akhirnya pasien merasakan hidupnya menjadi tidak nyaman. Belum lagi jika daerah gatal sering digaruk dan terkena infeksi sekunder. Selain gatal, kulit menjadi nyeri dan tampilannya semakin tidak enak dilihat. Semua hal tersebut merupakan kenyataan yang sering terjadi pada pasien dengan dermatitis atopik. Siklus gatal-sembuh terus berulang sehingga pasien akan “berlangganan” pada dokter.

Jumlah kasus dermatitis atopik semakin meningkat dalam tiga dekade terakhir. Peningkatannya pun tidak main-main, yaitu 2-3 kali lipat. Hal inilah yang mendasari pentingnya penelitian mengenai dermatitis atopik, suatu penyakit yang masih menyimpan berbagai rahasia penting untuk tata laksananya. Dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan X Persatuan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) 29-31 Oktober 2009, diadakan satu sesi yang membahas imunologi dengan mengundang tiga pembicara ahli. Sesi ini dibuka oleh Prof. DR. Dr. Endang Sutedja, Sp.KK(K) yang bertindak sebagai moderator.

Prof. DR. Dr. Retno Widowati Soebaryo, Sp.KK(K) memulai sesi dengan memaparkan imunologi dan sistem pertahanan kulit secara umum. “Secara umum, sistem imunitas dibagi menjadi dua, yaitu imunitas bawaan dan imunitas didapat yang keduanya saling memengaruhi,” ujar Retno yang saat ini masih aktif mengajar di FKUI/ RSCM. Retno juga menambahkan bahwa meskipun tubuh kita memiliki lapisan pertahanan yang terdiri dari sawar kulit, antimicrobial peptide, dan selsel imun, mikroba juga berusaha bertahan untuk menginfeksi. Salah satu caranya dengan membentuk kapsul polisakarida yang membuat bakteri sulit dikenali antimicrobial peptide. Namun, tubuh kita tidak kalah pandai karena defensin dan katelisidin memiliki sifat imunoatraktan yang mendatangkan sel-sel imun menuju tempat invasi.

Adanya kerusakan sawar kulit, misalnya karena kurangnya sintesis lipid di kulit, memudahkan terjadinya inflamasi yang disebut dermatitis. Hal ini sering terjadi pada individu berusia di atas 50 tahun yang kulitnya cenderung kering. Dengan memperbaiki sawar kulit, dermatitis dapat teratasi. “Sekarang banyak moisturizer dengan komponen lipid yang serupa dengan kulit yang dapat mencegah dermatitis,” ujar Retno.

Setelah mengupas mengenai sistem imunitas bawaan, Retno melanjutkan dengan memaparkan sistem imunitas didapat atau adaptif. Sistem imunitas ini memerlukan waktu untuk terjadi karena dipicu oleh sel Langerhans dan dermal dendritic cell yang mengambil antigen, memrosesnya, dan mempresentasikannya pada jaringan limfoid. Pada akhirnya, sel-T dari jaringan limfoid akan ikut andil dalam melawan agen infeksi.

Pengaruh defek imunitas kulit dalam terjadinya dermatitis atopik dijelaskan oleh Prof. Giam Yoke Chin, MBBS, NMED (PED), FAMS, FANB yang didatangkan dari Singapura. Giam mengatakan bahwa keluhan pasien yang kerap berulang didasari oleh adanya defek pada imunitas kulit. Defek yang terjadi telah diketahui karena mutasi yang menyebabkan fungsi pellagrin sebagai pelembab natural tidak bekerja. Akibatnya, kulit pada pasien dermatitis atopik menjadi rentan. Oleh karena itu, pemakaian moisturizer untuk pasien dermatitis atopik sudah tepat karena sesuai dengan patofisiologi yang mendasarinya.

Selain mengungkap peranan pellagrin, Giam berpendapat mengenai aktivitas protease kulit pada dermatitis atopik. Protease berperan dalam membersihkan sel-sel mati di kulit yang tampak sebagai eksfoliasi atau pengelupasan kulit. Menurut Giam, kadar protease yang lebih tinggi pada daerah sekitar mata, lipatan siku, dan lipatan kulit menyebabkan kulit menjadi lebih tipis sehingga lesi pada dermatitis atopik sering ditemukan pada tempat-tempat tersebut.

Tampil sebagai pembicara ketiga tidak mengurangi semangat Dr. Bernadette B. Arcilla, Ph.D dari Filipina untuk menyampaikan pengaruh mikroorganisme pada kulit pasien dengan dermatitis atopik. Sepakat dengan dua pembicara sebelumnya, Arcilla menyatakan bahwa kerusakan sawar kulit merupakan penyebab dari dermatitis atopik. Adanya defek imunitas mempengaruhi kolonisasi bakteri di kulit. Selain itu, jumlah ceramide yang lebih sedikit pada pasien dengan dermatitis atopik menyebabkan penurunan aktivitas antibakteri sehingga mempermudah terjadinya infeksi kulit. Lebih lanjut, Giam juga menjelaskan bahwa pH kulit yang lebih alkali meningkatkan kolonisasi Stafilokokkus aureus sehingga mempermudah terjadinya infeksi berupa furunkel atau abses.

Meskipun kulit pasien sering terkena infeksi, Giam mengingatkan bahwa penggunaan antibiotik hanya direkomendasikan pada infeksi aktif. Hal itu bertujuan untuk menghindari terjadinya resistensi. Sementara itu, penggunaan moisturizer yang mirip dengan struktur kulit sangat direkomendasikan untuk pasien.

Dari ketiga pembicara ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa defek sawar kulit merupakan patofisiologi utama pada dermatitis atopik. Adanya mutasi pada pellagrin, kurangnya jumlah ceramide, dan aktivitas protease menyebabkan kulit cenderung kering. Penggunaan moisturizer atau pelembab disarankan oleh ketiganya, karena sesuai dengan dasar patofisiologinya. Namun, tidak sembarang pelembab yang digunakan. Pelembab yang paling serupa dengan pelembab alami kulit adalah pelembab yang paling layak menjadi pilihan untuk diberikan pada pasien. (Yusuf)

 
Banner