Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan

Perindopril Berikan Keuntungan Ganda bagi Proteksi Kardiovaskular

0912-185

Hipertensi didefinisikan oleh konsensus JNC VII sebagai tekanan darah di atas 140 mmHg untuk nilai sistolik dan di atas 90 mmHg untuk nilai diastolik. Kondisi ini merupakan salah satu masalah medis yang sangat populer di masyarakat. Meskipun demikian, terkadang penyandang hipertensi menganggap sepele kontrol tekanan darahnya. Padahal, masalah kesehatan yang bisa muncul akibat hipertensi sangat banyak, di antaranya adalah kerusakan berbagai organ target dan peningkatan risiko komplikasi seperti stroke dan penyakit jantung koroner.

Salah satu obat yang terbukti menurunkan tekanan darah sekaligus memberikan perlindungan proteksi kardiovaskular yang baik adalah golongan ACE-inhibitor. Berbagai aspek mengenai obat ini dibahas dalam 21st Weekend Course in Cardiology (WECOC) yang diselenggarakan pada 1 November 2009 di Hotel Shangri La Jakarta. Pada sesi manajemen hipertensi terbaru yang membahas perbandingan ACE-inhitor dan ARB itu, ketiga pembicara dan satu moderator sepakat bahwa perindopril (salah satu obat dari golongan ACE-inhibitor) superior dibandingkan obat-obat golongannya dan terhadap golongan anti-hipertensi lain.

Bertindak sebagai moderator adalah konsultan jantung senior Harapan Kita, Dr. Faisal Baraas, SpJP(K). Dr. Sunarya Soerianata, SpJP(K) sebagai pembicara pertama membahas hipertensi secara garis besar dan bagaimana sistem RAA (renin angiotensin aldosteron) berperan dalam kejadian hipertensi. “Ada dua obat anti-hipertensi yang bekerja pada sistem RAA ini, yaitu angiotensin reseptor bloker (ARB) dan ACE-inhibitor,” ujar Soerianata yang saat ini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Kardiologi Indonesia (PERKI).

Masing-masing obat memiliki keunggulan. Namun, pada berbagai studi meta-analisis ditemukan bahwa golongan ACE-inhitor memiliki efek penurunan tekanan darah lebih besar daripada ARB. Selain itu, ACE-inhibitor juga memberikan berbagai manfaat lain, terutama dalam kaitannya dengan proteksi sel endotel pembuluh darah (vaskular). Pembahasannya diperdalam oleh dua pembicara selanjutnya.

Dr. Isfanuddin Nyak Kaoy, SpJP(K), Ketua Departemen Kardiovaskular Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara/RS Adam Malik, Medan, menyampaikan dengan tegas bahwa pendekatan hipertensi tidak saja pada penurunan tekanan darah, tapi juga langsung pada pembuluh darah. Pemberian ACE-inhibitor, dalam hal ini perindopril, pada beberapa uji klinik besar di luar negeri memberikan tidak saja penurunan darah yang signifikan secara statistik, namun juga penurunan endpoint (target penelitian) yang lain, yaitu infark miokard dan kematian.

Perindopril menunjukkan penurunan darah pasien hipertensi pada ‘dose dependent manner’ atau terkait dosis. Dalam dua minggu, tekanan darah turun dari 159/95 mmHg menjadi 147/87 mmHg. Pada bulan keenam, terjadi penurunan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan penurunan tekanan darah diastolik lebih dari 16 mmHg. Dengan demikian, perindopril menurunkan tekanan darah sampai di bawah angka 130/80 mmHg. Pada akhirnya, 86% pasien akan mencapai target penurunan tekanan darah yang diinginkan. Sebagai kesimpulan, Isfanuddin mengatakan bahwa perindopril merupakan kebutuhan krusial untuk mengontrol tekanan darah, sekaligus memutus rantai kejadian kardiovaskular.

Sebagai presentasi pamungkas, DR. Dr. Bambang Budi Siswanto, SpJP(K) dari Pusat Jantung Nasional Harapan Kita menyampaikan keunggulan lain yang diberikan perindopril di samping penurunan tekanan darah. Berdasarkan studi EUROPA dan HOPE, Bambang menyatakan bahwa efek perindopril tidak saja menurunkan tekanan darah, tetapi juga memiliki efek kardioproteksi. Mekanismenya adalah melalui dasar biomolekuler. Angiotensin 2 memberikan efek yang buruk pada pembuluh darah melalui peningkatan aktivitas norepinefrin dan endotelin yang meningkatkan PAI-1 dan tPA (tissue plasminogen activator). Keduanya akan menyebabkan agregasi trombosit dan peningkatan matriks ekstraseluler, yang memperburuk fungsi endotel vaskular.

Berdasarkan studi molekular, ACE-inhibitor menurunkan kolagen periarteriolar sebesar 52%, kolagen interstitial sebesar 22%, dan coronary reserve sebesar 67%. Secara khusus, perindopril mempertahankan arterial stiffness (kelenturan arteri). Pada Pertinent Study (sub-studi EUROPA) ditemukan bahwa pemberian perindopril menurunkan apoptosis endotel. Selain itu, Ceconi et al., dalam penelitiannya berhasil membuktikan perbaikan apoptosis pada sel endotel yang diisolasi dari tikus yang mendapat perindopril. Bambang juga menyampaikan bahwa perindopril menjaga keseimbangan bradikinin dan angiotensin 2. Bradikinin memiliki efek positif terhadap endotel pembuluh darah, sementara angiotensin 2 mempunyai efek sebaliknya.

Sebagai kesimpulan, perindopril direkomendasikan untuk pasien hipertensi yang juga ingin mendapatkan perlindungan kardiovaskular. Perindopril memiliki afinitas tertinggi pada jaringan ACE, peningkatan bradikinin yang melindungi kardiovaskular, serta memiliki efek antiapoptosis yang sangat besar. “Dengan semua keunikan dan keunggulan yang dimiliki, rasanya perindopril dapat dianjurkan bagi pasien hipertensi di Indonesia,” tutup Bambang. Saat ini, perindopril dipasarkan oleh PT. Servier Indonesia dengan nama dagang BIOPREXUM 5 & 10 mg. Bila ingin penurunan tekanan darah lebih lanjut maka dapat digunakan sediaan kombinasi perindopril 5 mg dengan indapamide 1,25 mg atau BIOPREXUM PLUS. (Aswin)

 
Banner