| Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan |
Lebih Perhatian pada Pasien Influenza yang Imunokompromais
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) per 18 Oktober 2009 yang disampaikan Dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, pada Kongres PAPDI 2009 di Hotel Hyatt, jumlah penderita AI terkonfirmasi dari seluruh region WHO adalah 424.345 kasus dengan kematian berjumlah sekitar 4000-an kasus.
Dr. I Ketut Agus Somia, SpPD-KPTI dari Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, memaparkan perbedaan influenza, baik influenza musiman, AI, maupun SF berdasarkan kasus di rumah sakitnya. Gejala utama AI dan SF yang paling dominan adalah demam lebih dari 37,8oC. Gejala lain yang ada pada influenza musiman seperti feverishness, kongesti hidung, lemah, hilang nafsu makan, sakit kepala, dan nyeri otot, belum tentu ada pada AI dan SF. Erni juga menegaskan bahwa waktu inkubasi ketiga jenis influenza tersebut sama. Dalam menangani kasus influenza ini, apapun jenisnya, perlu diwaspadai pasien yang berisiko tinggi yang umumnya pada keadaan gangguan penurunan sistem kekebalan tubuh. Demikian tambah DR. Dr. Martin C. Rumende, SpPD-KP yang ikut menyampaikan kuliah pada sesi ini.
Adapun pasien yang berisiko tinggi tersebut, menurut Erni lagi, adalah anak-anak usia di bawah 5 tahun, lanjut usia (lansia) di atas 65 tahun, dan wanita hamil. Selain itu, pasien risiko tinggi lain adalah pasien dengan kondisi penyakit paru kronik, kardiovaskular kecuali hipertensi, ginjal, hematologi, neurologi, neuromuskular, gangguan metabolik, dan keadaan imunosupresi, termasuk yang disebabkan oleh pengobatan maupun HIV. Kategori pasien risiko tinggi lainnya adalah pasien di atas 19 tahun yang mendapat aspirin jangka panjang dan pasien yang tinggal di panti atau fasilitas perawatan jangka panjang. Menurut Martin, untuk pasien risiko tinggi terse-but perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih jeli, baik dari anamnesis, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan penunjang. Dengan begitu, segala hal yang dapat menyebabkan se-orang pasien dengan influenza dalam posisi risiko tinggi, dapat segera diketahui. Hal ini penting diketahui untuk kepentingan penatalaksanaan.
Sementara itu, Agus menjelaskan bahwa penderita AI ringan dan tidak termasuk kelompok risiko tinggi, tidak perlu diberikan antivirus. Sedangkan AI ringan pada kelompok risiko tinggi yang telah disebutkan sebelumnya, mesti diberi antivirus secepatnya hingga sepuluh hari. Antivirus yang dianjurkan dipakai oleh WHO adalah oseltamivir. Namun, alam telah pula menyediakan tanaman yang kaya polifenol yang memiliki efek antiviral, antibakteri, antiinflamasi, imunomodulator, dan antioksidan. Tanaman tersebut merupakan varietas Cistus incanus yang bernama Cystus052.
Pada 1999, Bouamama dkk., di Maroko memulai penelitiannya terhadap ekstrak C. incanus ini. Dalam penelitiannya tersebut dikatakan bahwa ekstrak C. incanus memiliki efek antimikroorganisme, baik pada bakteri maupun jamur. Dengan meningkatnya angka kesakitan dan kematian akibat influenza, ditambah sulitnya membuat vaksin bagi virus ini dikarenakan kemampuan antigenic shift dan antigenic drift yang dimilikinya, penelitian pada ekstrak C. incanus makin dikembangkan lagi. Sementara itu, Droebner dkk. melalui penelitian in vitro menyebutkan bahwa selama 24 jam pertama setelah infeksi, pemberian Cystus 052 dosis tunggal memberikan efektivitas pada virus H5N1 sebanyak 100 kali lipat lebih baik dibandingkan oseltamivir. Setelah penelitian in vitro yang dilakukannya, Droebner melanjutkannya dengan uji klinis terkontrol plasebo. Pada penelitian tersebut, Drobner mendapatkan waktu sembuh dari gejala influenza pada subjek yang diberikan Cystus052 lebih cepat 2,5 kali dibandingkan plasebo. Efek protektif yang dimilikinya diperkirakan berasal dari komponen polifenol polimer pada permukaan virus yang kemudian menghambat ikatan hemaglutinin pada reseptor sel.
Droebner juga memperoleh potensi antiviral melawan H5N1 melalui nilai IC50, EC50, K, Vmax, dan Ki dari Cystus052 yang lebih poten dibanding oseltamivir. Oleh karena itu, melalui penelitiannya ini Droebner dkk., menyimpulkan bahwa Cystus052 dapat menjadi antivirus efektif dengan potensi profilaktif melawan virus influenza, termasuk tipe A atau H5N1.
Cystus incanus ini diformulasikan oleh PT Interbat menjadi produk yang bernama AVITER® yang dapat menjadi protektor absolut pertahanan tubuh pasien, terutama saat melawan virus influenza. AVITER® yang mengandung C. incanus 125 mg dan berbagai senyawa lain, seperti glycyrrhizinic, asam malat, glukosamin HCl, L-arginin, glisin, asam glisirizinik, zink sulfat, kalsium pantotenat, piridoksin, asam folat, dan sianokobalamin ini diindikasikan untuk membantu menjaga sistem imunitas tubuh. (Kholisah)






