| Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan |
Upaya Menyediakan Agen Kemoterapi yang Terjangkau bagi Pasien Kanker

Insiden kanker secara global masih diduduki oleh kanker payudara pada peringkat pertama, disusul dengan kanker usus besar, kanker prostat, dan kanker kulit. Sedangkan bila dilihat dari sisi gender, pada pria didominasi oleh kanker prostat dan kanker payudara pada kaum wanita. Penyakit kanker dapat diobati dengan berbagai modalitas seperti pembedahan, kemoterapi, radiasi, terapi hormonal, terapi imunologi, terapi gen, dan terapi suportif berupa pengendalian nyeri. Dari sejumlah modalitas di atas, kemoterapi tetap memegang peran penting dalam pengobatan kanker.
Berbeda dengan insiden kanker secara global, insiden kanker pada kaum pria di India didominasi oleh kanker paru, diikuti dengan kanker esofagus, kanker mulut, dan kanker usus. Sedangkan insiden kanker pada kaum wanita di India relatif sa-ma dengan insiden kanker secara global, yakni kanker payudara, kemudian kanker serviks, ovarium, dan esofagus. Demikian Rajeev Pai dari Naprod Life Science mengungkapkan dalam sesi Integrated System Cancer Treatment in Indonesia, di Auditorium Rumah Sakit Kanker Dharmais, 11 November 2009.
Mencermati ketersediaan kemoterapi pada praktik terkini, Rajeev menerangkan dengan mengilustrasikan pengobatan kanker untuk kanker payudara dan kanker kepala serta leher. Untuk kanker payudara digunakan cyclophosphamide + doxorubicin + 5FU, atau cyclophos + methotrexate + 5FU, atau doxorubicin + cyclophos. Terapi uta-ma kanker payudara tersebut cukup terjangkau bagi pasien. Sedangkan paclitaxel + docetaxel + vinorelbine yang termasuk terapi tahap lanjut harganya lebih mahal. Untuk kanker kepala dan leher digunakan cisplatin + 5FU yang ditujukan bagi kanker stadium lanjut yang belum pernah menjalani kemoterapi. Harga agen kemoterapi ini cukup terjangkau. Agen kemoterapi lain, yakni methotrexate + paclitaxel tersedia dengan harga yang dapat dijangkau. Sedangkan docetaxel + cisplatin + 5FU yang ditujukan untuk pasien kanker yang telah diterapi sebelumnya, memiliki harga yang lebih mahal.
Masih diterangkan Rajeev Pai, biaya kemoterapi berhubungan dengan stadium kanker. Jika kanker dideteksi lebih dini, biaya pengobatan dapat diminimalisasi. Ketersediaan sejumlah besar protokol pengobatan cukup membantu menurunkan biaya terapi. Pasien dapat memilih salah satu protokol pengobatan tersebut berdasarkan kondisi keuangannya. Meski telah memilih agen kemoterapi dengan harga yang lebih murah, agen kemoterapi ini tetap memiliki efektivitas dan efek terapetik yang sama dengan agen kometarapi yang harganya lebih mahal. Salah satu pabrik yang dapat menyediakan dan menawarkan kemoterapi dengan harga cost effective adalah Naprod.
Pada kesempatan yang sama juga diadakan workshop dengan tema “Affordable Cancer Drug.” Drs. Herizal Busnamy, Apt., MM dari PT. Pharmasolindo yang merupakan anak perusahaan PT Kimia Farma Tbk, yang menjadi salah satu pembicara dalam workshop tersebut menerangkan tentang produksi kemoterapi yang terjangkau. Kimia Farma menyediakan pelayanan untuk bidang onkologi yang meliputi diagnosis dan terapi kanker, terapi suportif dan rehabilitasi, bahkan untuk perawatan paliatif kanker. Tercatat ada enam belas produk kanker yang dimiliki Kimia Farma, baik dalam bentuk kapsul, liquid, maupun injeksi.
Untuk menyiasati mahalnya harga agen kemoterapi, Kimia Farma yang merupakan salah satu perusahaan farmasi nasional berupaya menyediakan agen kemoterapi dengan harga yang terjangkau. Seperti diterangkan Drs. Herizal, untuk menghasilkan harga agen kemoterapi yang terjangkau, beberapa cara telah dilakukan. Cara pertama dengan membuat produk kopi bekerjasama dengan Naprod (perusahaan farmasi yang khusus menghasilkan produk onkologi), 18 SKU produk kemoterapi, dan menghemat biaya 20-50% setiap produk. Cara kedua dengan meratakan distribusi agen kemoterapi sehingga mudah didapat dan tersedia di semua provinsi. Cara ketiga dengan menjamin kualitas kemoterapi yang dihasilkan. Harga agen kemoterapi yang dimiliki oleh Kimia Farma lebih terjangkau. Kenyataan ini dapat dilihat dari perbadingan antara produk Kimia Farma dengan produk originator. Produk Kimia Farma lebih murah 20-50% dari produk originatornya. Harga yang murah ini sesuai dengan panduan WHO mengenai penggunaan obat yang rasional (2001). Meski dipasarkan dengan harga yang terjangkau, produk ini tetap memiliki efek terapetik yang sama dengan originatornya mengingat obat ini telah melalui uji bioekivalensi dan bioavailabilitas. (hidayati)







