Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan

Rehidrasi Penting dalam Penanganan Demam Dengue pada Anak-anak

0912-181

Pola kejadian Demam Dengue (DD) saat ini cenderung berubah, yakni tidak hanya terjadi pada masa pancaroba dan mempunyai gejala-gejala yang tidak jelas. Diharapkan masyarakat tetap waspada terhadap gejala yang timbul dan memberikan pertolongan pertama yang tepat dan cepat untuk mengurangi risiko perburukan yang terjadi pada pasien. Dalam rangka menyebarluaskan pengetahuan tentang penanganan Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue (DBD) Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama salah satu perusahaan farmasi di Jakarta dan Tika Bisono sebagai Duta Kampanye Tangani Tepat DBD Anak memberikan penyuluhan tentang pentingnya penanganan demam DBD pada anak. Kegiatan yang berlangsung antara November sampai Desember 2009 ini ditujukan kepada warga, pasien Puskesmas, dan pasien beberapa RSUD di Jakarta.

Menggambarkan jumlah pasien DBD di Jakarta, Dr. Dien Emawati, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengatakan kasus tersangka DBD yang tercatat di DKI Jakarta sampai dengan 30 Oktober 2009 sebanyak 26.522 kasus yang tersebar di enam wilayah kota/kabupaten. Secara absolut, kasus terbanyak terdapat di Jakarta Timur 8.193 kasus. Sedangkan secara proporsional jumlah kasus dibandingkan dengan jumlah penduduk terbesar ada di Jakarta Selatan 391 per 100.000 penduduk. “Setelah dilakukan pelacakan kasus di lapangan ternyata yang benar-benar menderita DBD dan berdomisili di DKI Jakarta sekitar 16.028 kasus (68%), sisanya adalah kasus bukan DBD,”demikian ungkap Dr. Dien.

“Demam dengue terbagi atas Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD merupakan bentuk demam dengue yang lebih parah dibandingkan dengan DD,” demikian Dr. Alam Tumbelaka, SpA(K) menjelaskan. Dikatakan lebih parah karena perdarahan dan syok yang terjadi terkadang dapat berujung pada kematian. Untuk itu, penentuan diagnosis DD dan DBD pada anak seharusnya menggunakan kriteria yang tepat. Demikian juga dengan kriteria pemeriksaan, juga harus tepat dan murah. Hal ini perlu dilakukan mengingat diagnosis akan sangat menentukan terapi yang akan diberlakukan. Jika diagnosis tidak tepat maka terapi tidak mengenai sasaran. Akibatnya, penyakit tidak sembuh atau bahkan mengalami perburukan yang berakibat fatal.

Masih menurut Dr. Alan, secara umum DD mempunyai ciriciri seperti panas tinggi selama 2-7 hari, nyeri perut, perdarahan berupa bintik-bintik merah di kulit, mimisan, gusi berdarah, BAB darah, dan muntah darah. Gejala ini biasanya muncul pada hari ke-4 sampai 7 setelah terinfeksi nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, demam dengue memiliki gejala prodromal tidak khas berupa nyeri kepala, nyeri tulang belakang, dan lelah. Meski gejala yang timbul tidak khas, masih bisa diketahui dengan tanda suhu tinggi mendadak, kadang menggigil, kemerahan pada wajah, nyeri di belakang bola mata, nyeri otot/ sendi, anoreksia, konstipasi, kolik, dan nyeri tenggorokan. Demam berlangsung 5-6 hari (bifasik) dan disertasi ruam makulopapular.

Pada DBD, gejala yang muncul dan syok serupa dengan gejala DD, namun disertai sakit/ nyeri ulu hati yang terus menerus, perdarahan pada hidung, mulut, gusi atau memar pada kulit, dan muntah yang terus menerus terkadang disertai darah. Selain itu, juga disertai tinja yang berwarna hitam, rasa haus yang berlebihan, kulit yang pucat dan dingin, serta penurunan kesadaran dan mengantuk. Fase kritis DBD berlangsung 24-48 jam atau sekitar hari ke-3 sampai hari ke-5 perjalanan penyakit. Pada fase ini, pasien tidak dapat makan dan minum, tidak ada nafsu makan dan atau muntah-muntah. Untuk menghindari terjadinya perdarahan yang berakibat pada syok, pasien harus mengonsumsi cairan yang banyak atau rehidrasi. Jenis cairan tidak dibatasi, cairan apapun boleh dikonsumsi baik susu, jus, teh manis, air putih, air kelapa, isotonik, dll. Bila cairan untuk rehidrasi tidak dapat diberikan per oral maka harus diberikan cairan rumatan secara infus. Hal ini mutlak diperlukan sebab bila tidak dilakukan maka pasien dapat mengalami syok yang berakibat fatal. (hidayati)

 
Banner