Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Profil

Prof. DR. Dr. Retno Widowati Soebaryo, SpKK(K):

Harus Berada di Peringkat Atas

0912-180

Mulanya, beliau bercita-cita menjadi dokter anak. Tetapi, karena mendapat pencerahan dari sang suami maka beralih minat ke bagian kulit. Beliau sempat cemas ketika namanya tidak muncul saat pengumuman penerimaan residen bagian kulit. Namun, akhirnya beliau merasa lega setelah diterima di bagian kulit dan ternyata terjadi kekeliruan dalam daftar residen yang diterima. Perjalanan karier di bidang kulit pun telah dilaluinya. Sebetulnya, beliau sempat merasa jenuh, namun segera aktif kembali karena pada dasarnya beliau memang menyukai berbagai kegiatan. Inilah sosok Prof. DR. Dr. Retno Widowati Soebaryo, SpKK(K), yang kami temui di poli kulit kelamin, tepatnya di kamar alergi imunologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, siang itu.

Belajar di bagian kulit kelamin membuat profesor yang ramah dan pandai bercerita ini memiliki pemikiran yang terbuka. Perubahan ini bukan terjadi begitu saja, namun merupakan pengaruh positif yang ditularkan kepala departemen kulit saat itu, Prof. Juari. “Kami suka diajak berkumpul bersama di ruang G5 dan menonton film biru,” kenang Prof. Retno. Kegiatan tersebut dilakukan agar para calon dokter kulit kelamin memiliki minat pada dunia kelamin. Selain itu, setiap dokter kulit kelamin harus mengenal betul alat kelamin perempuan dan laki-laki karena nantinya akan menangani suami istri.

Sekian lama mengikuti pendidikan dalam bidang kulit kelamin, akhirnya ia ditawari menjadi asisten muda di subdivisi alergi imunologi. Untuk memperdalam ilmunya tentang alergi, ia belajar alergi di departemen ilmu penyakit dalam dengan Prof. Santoso Cornain. Melihat potensi yang cukup besar, ia dikirim ke Amsterdam, Belanda, untuk memperdalam ilmu alergi. Di sini kesempatan baginya untuk menggali ilmu alergi sebanyak-banyaknya.

Di luar ilmu yang ditekuninya, profesor yang aktif di berbagai organisasi profesi ini sekarang menjabat sebagai anggota panitia etik dan hukum RSCM. Mengenai etik dalam dunia kedokteran, ia mengungkapkan bahwa seharusnya nilainilai lokal dipertahankan. “Misi kita sebetulnya menolong orang, seharusnya kita sebagai dokter adalah orang yang memperhatikan etika.” Etika sangat penting dalam dunia kedokteran. Bila seorang dokter tidak memiliki etika maka ia akan tersingkir. “Sebagai contoh, jika akan masuk royal society maka etika akan menjadi pertimbangan yang sangat penting.” Beliau mengilustrasikan, dalam pertemuan-pertemuan internasional, bila ingin mengajukan pertanyaan selalu dimulai dengan penghargaan kepada pembicara, misalnya mengucapkan terima kasih karena telah diberikan kesempatan bertanya. Penekanannya pada etika didukung oleh latar belakang keluarganya yang sangat menjunjung etika. Kakeknya adalah Radjiman Joyodiningrat, salah seorang tokoh pendiri negara ini. Ibunya yang tidak lain anak Radjiman, selalu berpakaian sesuai dengan posisinya saat itu. Selain itu, sang ibu menekankan prinsip mengambil yang baik dari orang lain dan mempertahankan yang baik dalam diri sendiri

Ketika ditanya mengenai pengalamannya selama menjalani pendidikan dokter, dengan panjang lebar ibu dari  empat orang putra ini menjelaskan. “Suatu ketika, saya melihat pameran yang menampilkan model tubuh manusia dengan pembuluh darah yang di dalamnya terdapat sel darah merah yang mengalir. Saya terkesima.” Sejak saat itu, beliau bercita-cita mengikuti pendidikan kedokteran. Saat lulus SMA, ia secara diam-diam mendaftar ke Fakultas Kedokteran karena ibunya tidak mengizinkan dia menjadi dokter. Namun, setelah mendapatkan penjelasan, akhirnya ibunda dapat menerima.

Ada kebijakan khusus saat ia menjadi mahasiswa kedokteran, yakni mahasiswa bisa memilih urutan ujian. “Saya selalu memilih untuk ujian pada hari pertama karena apapun hasilnya yang penting saya sudah selesai ujian,” ungkapnya mengenang. Selain itu, menurut Prof. Retno, pada hari pertama yang menguji biasanya para profesor dan mereka punya pertanyaan standar untuk ditanyakan. Sikap yang diambil itu terpatri dalam motto hidupnya. “Motto saya adalah saya harus selalu ada di peringkat atas karena bila berada di peringkat atas pasti kita akan diikutsertakan ke mana-mana. Dengan demikian, aktivitas kita akan lebih banyak dan dilakukan di mana-mana.” Demikian ungkapnya berapi-api.

Sedikit memberikan pendapat mengenai penggunaan pembersih sehari-hari untuk dermatitis atopi, Ketua Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Kulit Kelamin-FKUI, ini menyatakan bahwa pertama dapat digunakan sabun dengan PH balance karena kondisi kulit kering pada pasien dermatitis atopik adalah kondisi sine qua non atau kondisi yang tidak dapat diubah sehingga penggunaan moisturizer harus diterapkan. Selain itu, hal-hal yang menyebabkan kulit kering seperti mandi dengan air panas harus dihindari.

Dalam terapi dermatitis atopik seringkali digunakan produk-produk pembersih hipoalergenik. Pembersih hipoalergenik terutama tidak menggunakan pewangi atau zat tambahan lain yang dapat menimbulkan masalah pada kulit sehingga tidak menambah masalah pada kulit yang pada dasarnya sudah rentan, demikian ujarnya menutup pembicaraan. (hidayati)

 
Banner