Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Kolom

Mencapai MDG: Menyehatkan Ibu atau Menurunkan Kematian Ibu Melahirkan?

Prof. Dr. Purnawan Junadi, MPH, PhD.i

Perhatikan perlakuan masyarakat kita terhadap orang yang meninggal. Pengurus RT/RW langsung memasang bendera kuning di wilayah sekitar rumah orang yang meninggal. Keluarga terdekat langsung mengunjungi keluarga yang meninggal dan memberi sedekah seikhlasnya. Orang sekitarnya dengan suka rela membantu berbagai hal terkait dengan urusan jenazah dan mengantarnya sampai ke peristirahatan terakhir. Kalau di kota-kota, kita akan lihat bagaimana pengantar jenazah “membantu” mengamankan jalan yang dilalui sehingga orang yang meninggal itu bisa sampai di peristirahatan terakhir dengan cepat dan aman.

Kolom - Purnawan JunadiBayangkan kalau masyarakat kita punya perhatian yang sama terhadap ibu yang akan melahirkan. RT/RW akan memberi tanda di rumah-rumah yang mempunyai ibu hamil, bahkan tanda khusus pada waktu akan melahirkan. Orang-orang sekitar menyumbang untuk meringankan biaya melahirkan dan suka rela membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan melahirkan, seperti berjagajaga, menyediakan berbagai perlengkapan yang diperlukan, menyiapkan kendaraan yang bisa dipakai begitu tanda-tanda melahirkan untuk memanggil penolong persalinan maupun mengantarnya ke polindes atau klinik bersalin.

Tingginya angka kematian ibu mung-kin menunjukkan bahwa perhatian masyarakat kita terhadap keluarga ibu yang akan melahirkan belum besar. Perhatian kita malahan baru besar kalau ibu itu kemudian meninggal dalam proses melahirkan. Informasi Angka Kematian Ibu (AKI) 2007 menunjukkan 228 per 100 ribu kelahiran hidup (data SKN 2009). Dengan berbagai program yang ada, mulai program Safe Motherhood, MPS (making pregnancy safer), sampai GSI (gerakan sayang ibu), kelihatannya AKI itu masih jauh di atas target MDG, yaitu sekitar 125 per 100 ribu kelahiran hidup. Mengapa?

Menurut saya, persoalannya bermula dari indikator MDG itu sendiri. Ketika para kepala negara bertemu pada September 2000 mendeklarasikan MDG, tujuan kelimanya adalah sangat mulia: memperbaiki kesehatan ibu. Tetapi, begitu tujuan itu diterjemahkan menjadi ukuran keberhasilan, berubah menjadi 2 indikator, yaitu indikator angka kematian ibu dan persentase kelahiran yang ditangani oleh tenaga kesehatan (lihat Laporan Bank Dunia 2003). Orang lupa bahwa pilihan indikator menentukan kebijakan yang akan dipilih dan program yang akan dijalankan. Indikator sering kali menentukan agenda pemerintahan dan diskusi yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, matimatian sektor kesehatan menjalankan program agar seluruh kelahiran ditangani oleh tenaga kesehatan. Ribuan bidan di desa dilatih dan disebar, namun yang benar-benar tinggal di desa kita tidak jelas.

Pakar ahli kesehatan masyarakat umumnya mengategorikan masalah tingginya angka kematian ibu itu dalam sebutan 3 Terlambat (3T), yaitu terlambat mengenali bahaya dan memutuskan mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan; terlambat membawa ibu ke fasilitas rujukan; dan terlambat memperoleh tindakan yang tepat di fasilitas rujukan. Penekanan kita pada penyediaan bidan desa, puskesmas PONED (pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar), dan rumah sakit PONEK (pelayanan obstetri neonatal emergensi komprehensif) menunjukkan bahwa kita fokus pada T yang terakhir. Padahal, kalau masalah kita adalah T yang pertama, yaitu banyaknya keluarga yang tidak bisa mengenali bahaya ibu hamil atau melahirkan (soal pengetahuan) atau keluarga kurang perhatian/ peduli dan menganggap kehamilan seperti masalah sehari-hari (soal kesadaran), maka penyediaan fasilitas pelayanan menjadi tidak efektif. Sama saja menyediakan tem-pat pesta, tapi lupa menyebar undangan. Tetapi, itulah penyakit kita: mencari jawaban yang mudah atas soal yang kompleks. Menyediakan sarana pelayanan memang jauh lebih mudah daripada mendidik masyarakat untuk bertanggung jawab atas kesehatan keluarganya.

Penerjemahan lain atas tingginya masalah kematian ibu melahirkan dalam 4 Terlalu (4T), yaitu terlalu muda menikah, terlalu sering hamil, terlalu banyak melahirkan, dan terlalu tua untuk hamil, menunjukkan bahwa barangkali kita salah timing dalam menangani masalah ini. Solusi masalah ini barangkali terletak pada bukan bagaimana menangani ibu yang telah hamil dan akan melahirkan, tetapi pada bagaimana menangani kesehatan serta kesejahteraan ibu yang tidak hamil. Isyu di sini berkisar dari soal-soal sekitar seks (memisahkan rekreasi dari kehamilan), kesehatan (menyehatkan ibu sehabis hamil sebelum hamil kembali), sampai ke soal sosio budaya: pernikahan di bawah umur dan keluarga berencana.

Terlibatnya berbagai isu mengenai kesehatan ibu hamil dan ibu melahirkan ini menunjukkan bahwa kesehatan tidak mungkin dipisahkan dengan soal nonkesehatan, baik ekonomi maupun sosial budaya. Menyempitkan penanganannya hanya ke soal-soal kesehatan, seperti orang yang mencari kunci di tempat terang. Bagaimana ceritanya? Begini: ada seseorang parkir mobil di tempat gelap lalu menunju rumahnya. Di teras rumahnya yang terang, ia baru tahu kalau kuncinya jatuh. Oleh karena itu, ia menunduk-nunduk mencari kunci di sekitar rumahnya. Tetangganya yang melihat ia berputar-putar menjadi ingin tahu dan bertanya, “Ada apa Pak?” “Kunci saya hilang,” jawabnya. “Di mana hilangnya?” “Ya, dari tempat parkiran mobil sampai ke teras rumah ini,” jawabnya lagi. “Sudah dicari di tempat parkiran pak? Siapa tahu di sana!” “Malas ah, di sana gelap. Enak mencari di sini. Terang.”

i Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

 

Tambah komentar


Kode Pengaman
Kode Baru

Banner