| Edisi No 12 Vol XXXV - 2009 - Editorial |
C-Reactif Protein dan Laju Endap Darah Marker Inflamasi pada Infeksi Malaria Akut
Sampai kini, di negara tropis dan subtropis, malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama, khususnya di negara berkembang dengan jumlah kesakitan 270 juta dan kematian 1 - 2,5 juta per tahun. Di Indonesia, malaria ditemukan di berbagai daerah endemis, terutama di kawasan Timur. Malaria bahkan masih menjadi masalah kesehatan di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, padahal dahulu pernah terkendali. Sampai kini dikenal empat spesies plasmodim penyebab penyakit malaria, meliputi P. falciparum, P. vivax, P. ovale, dan P. Malariae yang merupakan protozoa obligat intraselular genus plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Di seluruh dunia, telah dikenal sekitar 400 spesies nyamuk Anopheles dan 67 spesies di antaranya terbukti menularkan penyakit malaria serta 24 spesies nyamuk Anopheles tersebut terbukti ditemukan di persada Indonesia. Selain lewat gigitan nyamuk, malaria dapat juga ditularkan melalui transfusi, jarum suntik yang tercemar darah, dan melalui plasenta dalam kehamilan.
Standar baku emas diagnosis malaria adalah hasil pemeriksaan mikroskopis konvensional berupa hapusan darah/tetes tebal. Metoda sederhana dan murah ini dapat menemukan, mengidentifikasi, serta menghitung parasit di dalam darah penderita. Namun, metode pemeriksaan tersebut relatif rumit dan memerlukan waktu yang relatif lama. Keunggulan pemeriksaan mikroskopis adalah kemampuannya untuk mengetahui morfologi, identifikasi, dan perhitungan parasit secara lebih jelas serta mudah. Namun, sensitivitas hasil pemeriksaan mikroskopik tersebut tergolong rendah. Pemeriksaan infeksi malaria lain yang juga sering dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin, urin rutin, faal hati, dan faal ginjal.
Gejala klinis malaria dipengaruhi oleh jenis/storm plasmodium, imunitas tubuh pejamu, dan jumlah parasit yang menginfeksi penderita. Penyakit ini bermula dari masa inkubasi dan berlanjut dengan keluhan prodromal berupa kelesuan, malaise, sakit kepala, nyeri tulang/otot, anoreksia, diare, sakit perut, mual, dan muntah. Gejala klinik yang klasik meliputi trias malaria, yaitu periode dingin, periode panas, dan periode berkeringat. Penyakit ini menyebabkan reaksi inflamasi berupa produk sitokin dan protein fase akut yang dapat dijadikan marker deteksi inflamasi. Beberapa petanda inflamasi yang telah dikenal antara lain meliputi laju endap darah (LED), C-reactif Protein (CRP), dan hitung lekosit. Pada penderita yang terinfeksi parasit malaria, sering ditemukan LED yang normal, tetapi dengan kadar hemoglobin, hitung lekosit, dan hitung trombosit yang menurun. LED dapat ditemukan meningkat ketika penyakit berkembang semakin parah dan menurun ketika penyakit membaik. Marker CRP dengan teknik pemeriksaan yang sudah sangat berkembang, kini digunakan sebagai penanda peradangan akut. Dengan demikian, beralasan jika CRP diharapkan dapat digunakan sebagai marker inflamasi akut pada penderita penyakit malaria.
Inflamasi, pada kasus infeksi dan noninfeksi, berhubungan dengan reaksi inflamasi berupa produk sitokin dan protein fase akut. Dengan demikian, pengukuran sitokin dan protein fase akut dapat digunakan sebagai marker untuk mendeteksi inflamasi. Telah dikenal beberapa petanda inflamasi, antara lain meliputi laju endap darah (LED), CRP (C reaktif protein), dan hitung lekosit yang masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihan tersendiri. Pada infeksi malaria sering dijumpai keadaan LED yang normal, tetapi dengan kelainan pada kadar hemoglobin, jumlah lekosit, dan jumlah trombosit yang biasanya menurun pada evaluasi pemeriksaan darah tepi. Laju endap darah biasanya digunakan untuk mengetahui proses radang kronik dan akut. Untuk melihat peradangan akut, saat ini banyak dipakai marker C-reactif Protein (CRP). Teknik pemeriksaan CRP kini sudah sangat berkembang, mulai dari aglutinasi sampai immunoassay. Pertanyaan yang perlu jawaban penelitian adalah: “Apakah penderita malaria dengan LED normal memperlihatkan kadar CRP yang normal pula?”. Hal tersebut penting karena CRP diharapkan dapat digunakan sebagai marker inflamasi akut pada infeksi malaria.
Editorial ini kami angkat dari artikel penelitian berjudul “Perbandingan Antara C-Reactif Protein dan Laju Endap Darah sebagai Marker Inflamasi pada Infeksi Malaria Akut” oleh Widijanti, Putriani, dan Satyaputra dari Laboratorium Patologi Klinik RSU Dr. Saiful Anwar/FK Unibraw, Malang. Para peneliti tersebut menemukan nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai ramal positif, nilai ramal negatif, LED (51%, 69%, 88%, 24%) yang ternyata relatif lebih rendah daripada CRP (96%, 77% , 95%, dan 83%). Meskipun demikian, kedua hasil pemeriksaan tersebut bukan merupakan marker umum yang spesifik untuk penyakit malaria. Para peneliti tersebut masih menyarankan penelitian lebih lanjut tentang pemeriksaan LED dan CRP menggunakan jumlah sampel yang lebih besar serta penilaian terhadap hubungan dengan derajat keparahan/indeks parasitemia dari infeksi malaria.
Malaria adalah penyakit klasik yang sejak lama dikenal. Selain itu, teknologi medis pengendalian telah sejak lama ditemukan dan digunakan secara efektif. Berbagai negara di berbagai belahan bumi pernah menikmati kondisi eradikasi. Namun, sampai kini, penyakit ini kembali muncul akibat resistansi obat dan insektisida. Upaya pengendalian dan sikap pemerintah terhadap penyakit ini mengalami pasang surut dari waktu ke waktu. Berbagai teknologi kedokteran untuk diagnosis dan pengobatan yang dihadirkan ikut menyemarakkan upaya eradikasi penyakit yang mengusik ketentraman khalayak. Namun, penyakit yang menurunkan produktivitas dan mengancam kehidupan ini tetap eksis dan mencemaskan orang banyak. Penelitian ini menjadi penanda penting bahwa malaria masih menarik perhatian yang menyunggingkan senyum harapan kita semua. Kita berharap semangat untuk mencegah dan mengeliminasi penyakit malaria tetap terpelihara secara berkesinambungan. Semoga! (Nasrin Kodim)






