Hemoroid, Sebagian Besar Tanpa Operasi

 

Dr. Toar J.M. Lalisang, SpB-KBD, membuka presentasinya pada Muktamar Ikatan Ahli Bedah Digestif Indonesia (IKABDI) IX di Jakarta dengan data kasus hemoroid di Klinik Wijayakusuma Rumah Sakit Cipto Mangun­kusumo. Dalam presentasi ter­sebu­t, 104 kasus dilaporkan selam­a tahun 2004. “Delapan puluh delapan pasien dari angka tersebut tidak membutuhkan pengobatan operatif, “demikian tambahan dr. Toar.

Dahulu, definisi hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah vena (varices) di rektum bagian bawah dan anus. Namun, pengertian tersebut tidak diakui lagi. “Pengertian hemoroid saat ini ialah tonjolan anal cushion yang di dalamnya berisi pem­bulu­h darah vena,” demikian penjela­san Prof. DR. Dr. Abdus Syukur, SpB-KBD, dalam muktamar yang diselenggarakan pada 22-23 Oktober 2011, itu.

Selanjutnya, Prof. Abdus Syukur mengatakan bahwa pembuluh darah di anal cushion tersebut berpenetrasi hingga ke dasar. Pada pembuluh darah ini dapat terjadi kongesti bila seseora­ng melakukan manuver Valsava, terdapat peningkatan tekanan intraabdomen, atau peningkatan tonus anus. Faktor di atas menyebabkan kanalis anus selalu tertutup. Bila ber­lanju­t terus, tonus anus menjadi berkurang dan menyebabkan hilangnya kongesti sehingga terja­di prolaps.

Diagnosis hemoroid ditegakkan dengan melihat massa langsung melalui anuskopi atau proktoskopi. Setelah diagnosis tegak, kemudian ditentukan de­raj­at hemoroid. Pada derajat I, hemoroid masih terletak di da­lam dan hanya mengalami protrusi pada saat mengejan. Pada derajat ini mungkin ada perdarahan dan rasa tidak nyaman.

Sementara, hemoroid derajat II didiagnosis bila hemoroid mengalami prolaps pada saat mengejan, namun dapat masuk kembali sendiri. Sedangkan bila hemoroid timbul pada saat mengejan namun tidak dapat masuk sendiri kecuali dengan bantuan tangan, maka sudah masuk pada derajat III. Hemo­roid berada pada derajat IV bila selalu ada di luar, baik dengan mengejan ataupun tidak. Dera­jat hemoroid harus dinilai untuk menentukan penatalaksanaan lebih lanjut pada pasien.

Prof. Abdus Syukur menambahkan bahwa hemoroid me­rupa­kan penyakit kronik yang sering rekuren. Namun, terbukti bahwa 90% pasien tidak membutuhkan operasi untuk mengurangi gejalanya. 

Menurut penelitian yang disampaikannya, pasien yang mendapatkan office procedure di klinik baru akan menjalani ope­r­asi pada 5-10 tahun ke­mudi­an. Sementara itu, 26% pasien yang menjalani hemo­roidektomi mengalami rekurensi dengan 11% di antaranya akan menjalani pengobatan yang sama karena rekurensi.

Pada prinsipnya, penyakit hemo­roid derajat I dan II bisa di­oba­ti secara konvensional sela­m­a minimal enam minggu dengan kontrol teratur per dua minggu. Operasi dilakukan ha­nya untuk derajat hemoroid III dan IV.

Hal penting dalam peng­obata­n konvensional penyakit hemoroid ialah modifikasi gaya hidup, disertai pemberian obat per oral dan per anal yang harus dilakukan bersamaan dengan sinergis.

Modifikasi gaya hidup pada pasien hemoroid yang harus dilakukan ialah olah raga teratur, minum air putih yang cukup, kon­sumsi sayur dan buah, rendam duduk dengan kalium perm­anganat bila ada luka di daerah anus, buang air besar dengan posisi jongkok dan tidak lebih dari 30 menit, tidak duduk lebih dari 1,5 jam dalam pe­kerja­an, pengaturan kehamilan, dan menjaga obesitas.

Pemberian obat harus di­be­ri­­k­an selama dua minggu hingga enam minggu. Setelah dua minggu pertama, penyakit hemoroid diukur kembali karena seharusnya mengalami regresi hingga 30% dari ukuran hemoroid awal.

Kemudian, pengobatan ha­rus dilanjutkan dua minggu lagi agar tidak terjadi rekurensi gejala perdarahan, protrusi, atau nyeri. Setelah itu dievaluasi apakah sudah berkurang hingga 70% atau belum. Agar peng­obata­n lengkap, pemberian dilan­jutkan kembali selama dua minggu. Total pengobatan hing­g­a enam minggu ini mesti di­in­for­masikan agar pasien mengerti dan mau mengikutinya.

Apa yang diharapkan pasien dalam pengobatannya harus menjadi perhatian dokter. “Sebanyak 87,6% pasien yang diberikan terapi oral Micronized Purified Flavonoid Fraction (MPFF) dalam seminggu akan mengalami perbaikan, hemoroid mengecil atau menghilang dan perdarahan berhenti. Padahal, untuk benar-benar sembuh, pengobatan harus dilanjutkan hingga enam minggu. Tetapi, semua keputusan harus dikembalikan kepada pasien,” demi­kian Prof. Abdus Syukur kembali menjelaskan.

Bila setelah dua minggu peng­­­obatan tidak terdapat pengu­rangan gejala, terutama protrusi, maka dapat dilakukan tindakan invasif rawat jalan (offic­e procedure). “Sebanyak 13% pasien yang menjalani peng­obatan konvensional, di dua minggu pertama tidak meng­­a­lami perbaikan. Ini pun be­lum tentu harus dioperasi, hanya perlu office procedure,” lanjut profesor yang ramah ini.  (Icha)