Banner
Translate
Edisi No 07 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan

Penatalaksanaan Terkini Kanker Kolorektal

keg-snofi-ave-kanker

Saat ini di Indonesia, kanker merupakan penyebab ke­matia­n kedua setelah penyakit jantun­g. Di seluruh dunia, jumlah kasus baru kanker kolorektal pada pria dan wanita menempati urutan ketiga di antara jenis kanker yang lainnya. Patofisio­logi kanker kolorektal terjadi karena beberapa penyebab, seperti berubahnya sel-sel epitel kolon yang normal secara hista­pa­tologi melalui kejadian mole­kular. Penyebab lain yakni polip adenomatosa yang berkembang menjadi kanker kolorektal karena proses karsinogenesis yang terjadi berada pada tahap intermediet. Selain kedua penyebab tersebut, secara genetik juga ter­­jadi perubahan adenoma men­jadi kanker kolorektal melalui mutasi APC, K-ras, yang awalnya berada pada tahap nonmalignan dan munculnya mutasi p53 yang memicu malignansi.

Proses adenoma menjadi kansinoma sendiri melalui be­be­ra­pa tahap, dimulai dari muta­si pada APC sel-sel epitel kolon normal sehingga terjadi perkembangan awal adenoma dan muta­si pada K-ras. Kondisi ini berlanjut menjadi adenoma interme­diet. Mutasi pada DCC menyebabkan sel-sel ini menjadi adenoma tahap lanjut dan akhirnya mutasi yang terjadi pad­a p53 membuat sel-sel ini menjadi karsinoma. Proses dari sel-sel normal menjadi kanker kolon ini tidak terjadi dalam hitun­gan tahun melainkan puluha­n tahun. Menurut The Biology of Cancer 2007, proses dari sel-sel epitel kolon yang normal menjadi adenoma membutuhkan waktu 5-20 tahun dan proses adenoma menjadi kanker membutuhkan waktu 5–15 tahun. Demikian diterang­kan DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD-KHOM, FACP dalam salah satu sesi “The 13th Course Basic Science of Oncology” yang juga Konferensi Kerja IV Perhim­punan Onkologi Indonesia 2009 dengan tema “To Improve Cancer Control Using Advanced Biotechnology” di Bandung, 14–17 Mei 2009.

Sudah sejak empat dekade yang lalu 5FU (5-fluorouracil) menjadi agen yang mengalami eksperimen dan digunakan se­ca­ra klinis. Dimulai pada 1960, 5FU menjadi dasar terapi lini pertama kanker kolorektal, dilanjutkan dengan penambahan LV (leucovorin) pada regimen bolus 5FU pada 1985. Terakhir, pada 2004 Oxaliplatin disetujui sebagai agen lini pertama ajuvan pada kanker kolorektal. Uji klinis untuk menilai efektivitas antikanker ini telah dilakukan. Salah satunya adalah MOSAIC Trial yang dilakukan oleh American Society of Clinical Onkology (ASCO) 2007. Uji klini­s ini mengikutsertakan 2246 pasien kanker kolorektal dari 146 senter di 20 negara. Pasien kanker kolorektal stadium II dan stadium III yang telah menjalani pembedahan tetapi belum ditera­pi dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok FOLFOX 4 mendapat Leucovorin 200 mg/m2 iv + 5-FU 400 mg/m2 bolu­s + 5-FU 600 mg/m2 iv selam­a 22 jam + Oxaliplatin 85 mg/m2 iv. Sedangkan kelompok LV5FU2 mendapat Leucovorin 200 mg/m2 iv + 5-FU 400 mg/m2 bolus + 5-FU 600 mg/m2 iv selam­a 22 jam.

Hasilnya, pada pasien kanker kolorektal stadium II Diseases-free Survival (DSF) selama lima tahun pada kelompok FOLFOX 4 sebesar 82,1% sedangkan pada kelompok LV5FU2 sebesar 74,5%. Secara keseluruhan dap­at disimpulkan bahwa keuntun­gan DFS tiga tahun dapa­t dipertahankan selama lim­a tahun, kecenderungan menu­njukkan peningkatan DFS pada pasien stadium II dengan risiko tinggi, terdapat keun­tunga­n overall survival (OS) yang signifikan pada pasien stadium III, tidak terjadi peningkatan dalam laju kanker sekunder, dan penyembuhan neuropati terus berlanjut. Eloxatin sebagai terapi kanker kolorektal ajuvan lini per­tam­a telah dibuktikan melalui beberapa uji klinis, di antaranya yang telah selesai adalah NO16968 dan MOSAIC, se­dang­­kan GERCOR:AVANT sedang berlangsung.

Sementara, untuk kanker yang telah bermetastasis atau lanjut, protokol pengobatannya berbeda dengan kanker kolo­rekt­al umumnya. Pada kanker kolorektal yang lanjut, pilihan terapi lini pertamanya meliputi FOLFOX atau CapeOx atau FOLFIRI + bevacizumab dan 5-FU/LV + bevacizumab bagi pa­sien yang tidak toleran dengan irinotecan atau oxaliplatin. Pilihan terapi lini kedua kanker yang lanjut lebih banyak seperti FOLFOX atau CapeOx, FOLFIRI, Irinotecan, FOLFIRI + cetuximab, dan agen tunggal cetuximab atau panitumumab.

Uji klinis oxaliplatin pada pasien kanker kolorektal tahap lanjut dilakukan dalam OPUS: First-line Cetuximab + FOLFOX 4 in Advanced Colorectal Cancer. Uji dilakukan terhadap 344 pasien kanker kolorektal metastasis yang tidak dapat dioperasi. Satu kelompok mendapat Cetuximab + FOLFOX4 yang meliputi cetuximab 400 mg/m2 pada hari pertama, kemudian 250 mg/m2/minggu + FOLFOX4 setiap 2 minggu, sedangkan kelompok lainnya mendapat FOLFOX4 setiap 2 minggu. Laju respons OPUS secara keseluruh­an pada kelompok cetuximab + FOLFOX4 sebesar 45,6%, se­dang­kan kelompok FOLFOX4 35,7%. Laju kontrol penyakit pada kelompok cetuximab + FOLFOX4 sebesar 85,2%, se­dang­kan FOLFOX4 81,0%.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa kanker kolorektal adalah masalah besar yang makin lama makin meningkat baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Pengetahuan kita tentang ilmu onkologi dasar mema­ng membuta kemajuan banyak dalam terapi kanker ter­sebut. Oxaliplatin (Eloxatin) menjadi komponen penting dalam regimen terapi untuk kanker kolorektal, baik sebagai ajuvan maupun untu­k metastase. u (hidayati)

 
Banner