Banner
Translate
Edisi No 01 Vol XXXVIII - 2012 - Kegiatan

Penatalaksanaan Hipertensi Kompleks dan Hipertensi Krisis

Hipertensi merupakan faktor risiko utama tingginya morbid­itas dan mortalitas pe­nya­kit kardiovaskular. Oleh ka­ren­a itu, penanganan hipertensi memerlukan kehati-hatian. Pada hipertensi dengan risiko tinggi diperlukan target tekanan darah yang lebih rendah. Demi­kian pandangan Prof. Dr.dr. Suhardjono, SpPD-KGH, KGer, yang dipaparkan di hadapan pese­rta Workshop Management of Hypertension yang merupakan bagian dari The 11th National Congress of InaSN di Jakarta, 25 November 2011.

Membahas tentang hiper­tensi kompleks, dokter yang bertugas di FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo ini mengata­kan, ”Hipertensi kompleks ada­lah istilah yang dipakai untuk pasien hipertensi yang mempunyai tanda klinik ke­ru­sak­an organ target, seperti pe­nyakit jantung iskemik, stroke, dan penyakit ginjal kronik.” Dalam keadaan ini, pasien hiper­ten­si yang disertai dengan sindrom kardiometabolik, diabetes melitus tipe 2, dan penya­kit jantun­g koroner juga termasuk dalam kategori hipertensi komple­ks. Beberapa populasi dengan risiko tinggi seperti usia lanjut dan ras Afrika Amerika dapat diklasifikasikan dalam hipertensi komplek­s.

Pada pasien hipertensi, semakin banyak faktor risiko dan kerusakan organ target, risiko morbiditas dan mortalitas kardiovaskular semakin bertambah. Panduan hipertensi dari Euro­pean Society of Hypertension (ESH) menggambarkan hubung­an an­ta­ra tekanan darah (TD), faktor risiko, dan organ target, dengan risiko komplikasi kardiovaskular ini. “Seseorang dengan TD 120/80 mmHg (norma­l) denga­n kerusakan orga­n target sudah tergolong memiliki risiko moderat sampai sangat tinggi,” ujar Prof. Suhardjono mengilustrasikan.

Pada kelompok pasien ini ha­­rus diberikan pengobatan yang adekuat. Sehubungan dengan pengobatan, Prof. Suhardjono menerangkan salah satu studi Valsartan Antihyper­tensive Long-term Use Eva­luation (VALU­E) yang membandingkan pengobatan berbasis valsartan dan amlodipine. Keduanya me­nurunkan TD secara bermakna, mencapai target TD dalam wakt­u 6 bulan pertama yang bertahan sampai selama 5 tahun pengobatan. Meski demikian, amlodipine menurunkan TD le­bih besar dibandingkan val­sart­a­n dalam 6 bulan pertama. Sementara, studi the Heart Outcomes Prevention Evaluation (HOPE) mendapatkan data bahw­a pemberi­an ramipril dapa­t menurunkan infar­k miokard, stroke, dan ke­mati­an kardiovaskular rata-rata sebesar 22%. Jika dirinci, penurunan infar­k miokard sebesar 20%, stroke 31%, dan kemati­an kardio­vaskular sebesar 25%.

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...
 
Banner