| Edisi No 01 Vol XXXVIII - 2012 - Kegiatan |
Hiperkalemia Berat Pengaruhi Fungsi Jantung
Kalium merupakan elemen penting dalam pengaturan fungsi enzim intraselular dan jaringan eksitabel neuromuskular serta kardiovaskular dalam pergerakan usus, otot polos lainnya, serta kontraksi otot jantung maupun otot lurik dalam gerakan aktif dan pasif. Sebagian besar kalium berada di dalam cairan intraselular (98%), terutama di dalam sel otot dan hanya 2% terdapat dalam cairan ekstraselular yang terdistribusi dalam sel darah merah, hati, kulit, dan tulang. Demikian dikatakan dr. Ketut Suwitra, SpPD-KGH, di hadapan peserta The 11th National Congress of InaSN, di Jakarta, 25-27 November 2011.
Kalium difiltrasi secara bebas oleh kapiler glomerulus karena kalium tidak berikatan dengan protein. Sejumlah 65% direabsorpsi kembali di tubulus proksimal bersamaan dengan reabsorpsi natrium dan air dalam jumlah yang sama. Perbedaan gradien kalium ini akan mengaktifkan pompa Na+/K+ ATPase yang mengatur keseimbangan perpindahan kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular dan sebaliknya. Di loop Henle pars decending, kalium disekresikan, sedangkan di ascending loop’s diabsorpsikan kembali melalui NaK2Cl transporter. “Proses sekresi dan reabsorpsi ini merupakan bagian utama dari peran ginjal dalam pengaturan sekresi kalium di urin yang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dan hormonal, yaitu aldosteron,” terang dr. Suwitra.
Gangguan keseimbangan kalium dapat merupakan suatu kegawatan klinis karena peran kalium sangat penting dalam menjaga keseimbangan potensial membran sel yang tereksitasi, terutama otot jantung. Gangguan keseimbangan kalium dapat berupa hipokalemia dan hiperkalemia. Hipokalemia terjadi karena kehilangan kalium nonrenal, kehilangan melalui renal, dan gangguan redistribusi atau pada asupan kalium yang sangat kurang pada keadaan malnutrisi serta penggunaan obat-obatan tertentu.
Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...







