| Edisi No 01 Vol XXXVIII - 2012 - Kolom |
Bumi dan Langit Harus Menyatu
Prof. DR. Purnawan Junadi, MPH, PhD1
Eliyahu M. Goldratt, yang terkenal dengan The theory of constraints-nya, mengatakan bahwa sistem adalah seperti rantai. Kekuatan rantai ditentukan oleh mata rantai yang terlemah.2 Kalimat yang sederhana ini menjadi paradigma manajemen baru yang membalikkan banyak paradigma manajemen. Salah satu aplikasi praktisnya adalah tidak ada manfaatnya memperbaiki elemen yang lain selama ada elemen lain yang lebih lemah.
Saya ingat teori ini ketika dalam berbagai kesempatan ke daerah mendiskusikan berbagai kebijakan kesehatan. Dalam beberapa tahun ini, pemerintah pusat telah menggariskan kebijakan kesehatan yang “pro rakyat”. Pada 2008, diluncurkan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) yang merupakan perbaikan dari Askeskin (Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin) dan diklaim mencakup 76,4 juta penduduk Indonesia yang tidak mampu. Pada pertengahan 2010, diluncurkan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) untuk membantu kinerja puskesmas. Kebijakan nasional yang lahir pada tahun ini adalah Jampersal (Jaminan Persalinan) yang menggratiskan pelayanan ibu hamil dan ibu bersalin mulai 1 Januari 2011.
Isunya sederhana. Dengan berbagai macam kebijakan nasional semacam itu, mestinya tidak ada masalah bagi penduduk (miskin terutama) untuk menggunakan pelayanan kesehatan pemerintah. Namun, sering kali kita membaca di berbagai media massa tentang penduduk miskin yang ditolak dirawat di berbagai rumah sakit pemerintah. Di lain pihak, di berbagai daerah saya juga menjumpai belum optimalnya penyerapan berbagai dana bantuan pemerintah ini. Jawaban masalah ini akan juga sederhana kalau kita menggunakan logika teori hambatan Goldratt itu. Jadi, kita mesti membuat mata rantai atau berbagai elemen sistem yang terlibat, mulai dari dari peluncuran kebijakan sampai ke penggunaan sistem ini oleh berbagai sasaran di wilayah operasional (mulai dari staf puskesmas, bidan di desa, kader, hingga penduduk).







