Banner
Translate
Edisi No 01 Vol XXXVIII - 2012 - Artikel Konsep

Perlindungan Radiologis pada Anggota Masyarakat Pasca-kecelakaan Nuklir Fukushima

 

MUKHLIS AKHADI

Peneliti Utama di Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – BATAN.

 

Pendahuluan

Pada 11 Maret 2011 pukul 05.46 GMT (1246 WIB), gempa dengan kekuatan 9,0 skala Richter mengguncang pantai timur laut Pulau Honshu, Jepang. Pusat gemp­a berada di kedalaman 24 kilometer di bawah laut yang berjarak 130 kilometer dari kota Sendai. Gempa ini memicu terjadinya gelombang pasang tsunami yang menjalar ke berbagai wilayah dengan kecepatan 800 kilome­ter perjam.1 Ada empat prefektur di kawasan timur laut Pulau Honshu yang paling parah menderita akibat gempa dan tsunami, yaitu Iwate, Miyagi, Fukushima, dan Ibaraki. Di pusat gempa di Sendai, Perfektorat Miyagi, gelombang tsunami mencapai ketinggian hingga 10 meter.

Begitu tingginya gelombang tsunami yang ditimbulkan, Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat (US National Weather Service) pada saat itu juga langsung menge­luarkan peringatan tsunami terhadap se­kurang­nya 20 negara dan sejumlah pulau di Pasifik, seperti Rusia, Taiwan, Filipina, Papua Nugini, dan lain-lainnya.1 Badan Pertahanan Sipil Hawai memerintahkan seluruh pendu­duk di kawasan pantai, termasuk Honolulu, dievakuasi pada 12.00 GMT (pukul 19.00 WIB), sebab gelombang tsunami diperkirakan akan mencapai wilayah ini pada pukul 13 GMT. Pemerintah Filipina telah mengevakuasi warga yang bermukim di sekitar 20 kawasan pantai.

Musibah gempa disusul tsunami yang melan­da Jepang mengakibatkan korban fisik maupun nyawa yang sangat besar. Polisi menyebutkan bahwa jumlah orang meninggal bisa mencapai 15 ribu orang di Pre­fek­torat Miyagi, sedang jumlah keseluruhannya bisa mencapai 20 ribu orang. Paling tidak, 1.449 jalan, 51 jembatan, dan 15 rel kereta api mengalami kerusakan. Operasi pencarian korban dilakukan dengan melibatkan sekitar 25 ribu pasukan keamanan, 60 kapal, dan 120 pesawat terbang. Sekitar 242.927 rumah tidak memperoleh penerangan listrik karena hancurnya infrastruktur jaringan listrik akibat tsunami. Sekitar 938.000 rumah tidak men­da­patkan pasokan air bersih di 12 prefektorat. Setelah tiga minggu pasca-gemp­a, 349 ribu warga Jepang masih tinggal di tempat penampungan. Sekurangnya 14.637 bangunan luluh lantak.2

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...
 
Banner