| Edisi No 01 Vol XXXVIII - 2012 - Editorial |
Pelajaran dari Bencana Gempa dan Tsunami di Pulau Honshu, Jepang
Pada 11 Maret 2011, pukul 05.46 GMT atau pukul 12:46 WIB, gempa berkekuatan 9,0 skala Richter mengguncang pantai timur laut Pulau Honshu, Jepang. Pusat gempa di kedalaman 24 kilometer di bawah laut, berjarak 130 kilometer dari kota Sendai, memicu gelombang pasang tsunami 10 meter, dengan kecepatan jelajah 800 kilometer perjam.
Prefektur di kawasan timur laut Pulau Honshu yang rusak paling parah adalah Iwate, Miyagi, Fukushima, dan Ibaraki. Musibah tersebut mengakibatkan kerusakan fisik dan kematian yang sangat besar. Jumlah kematian di Prefektorat Miyagi sekitar 15 ribu orang dari seluruhnya yang mencapai 20 ribu kasus. Pencarian korban melibatkan sekitar 25 ribu pasukan, 60 kapal, dan 120 pesawat terbang. Tiga minggu pasca-gempa, sekitar 349 ribu warga Jepang masih tinggal di penampungan. Sekitar 242.927 rumah tidak mendapat aliran listrik dan sekitar 938.000 rumah tidak mendapat pasokan air bersih.Bencana termahal sepanjang sejarah Jepang tersebut menyebabkan kerugian besar mencapai 309 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2,7 kuadriliun. Kerusakan fisik melanda paling tidak 1.449 jalan, 51 jembatan, dan 15 rel kereta api serta 14.637 bangunan yang luluh lantak. Enam penyulingan minyak yang mampu mengubah 1,4 juta barel minyak mentah menjadi bahan bakar ditutup. Industri pertanian, otomotif, dan elektronik yang menyuplai enam persen ekonomi Jepang dan menjadi penggerak ekonomi kawasan itu hancur. Musibah itu juga memicu kedaruratan nuklir akibat kegagalan teknologi reaktor mengatasi terpaan badai tsunami. Enam unit pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) milik perusahaan Tokyo Electric Power Company (TEPCO) itu mampu membangkitkan listrik sekitar 4.700 Mega Watt listrik (MWe), merupakan salah satu dari 15 kawasan stasiun PLTN terbesar di dunia. Pembangunan kembali seluruh kawasan bencana diperkirakan akan menghabiskan 195 miliar dollar AS dalam waktu puluhan tahun.







