| Edisi No 12 Vol XXXVII - 2011 - Profil |
Prof.Dr.dr. Satyanegara, SpBS
Salah Satu Pelopor Perkembangan Ilmu Bedah Saraf di Indonesia
Berbincang dengan tokoh yang satu ini membuka cakrawala kita akan makna perjuangan dalam kehidupan. Ya, per-juangan hidup merupakan kata kunci yang paling tepat untuk menggambarkan upaya tokoh kita ini menggapai cita-cita. Betapa tidak, berjuang mati-matian untuk bisa belajar ilmu kedokteran di negeri Sakura telah ditempuhnya. Perjuangan dilakukan tanpa bekal yang memadai. Hanya tekad di dada yang membara. Halangan, rintangan, dan tantangan dilalui pria yang terlahir dengan nama Oei Kim Seng ini, sampai akhirnya ia dapat menyandang gelar doktor dalam bidang bedah saraf. Kepada MEDIKA, Prof. Dr. dr. Satyanegara, SpBS, menuturkan kisah perjuangannya dan memaparkan pandangannya tentang ilmu bedah saraf. Cita-cita menjadi dokter dilatarbelakangi oleh keinginan kuat ibunda agar anak sulungnya menjadi dokter. Untuk mencapai harapan tersebut, sang ibu berupaya keras agar Satyanegara kecil memfokuskan diri pada ilmu pasti dan mengesampingkan bidang-bidang lain seperti seni suara dan seni drama. Rupanya, upaya tersebut tak sia-sia. Satyanegara muda lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Dengan tekad yang membaja, ia pergi ke Jepang untuk mempelajari ilmu kedokteran. Setelah menyelesaikan pendidikan di fakultas kedokteran dan menyandang gelar dokter, beliau melanjutkan pendidikan untuk mencapai gelar master (S2). “Awalnya saya tertarik pada psychosomatic medicine, namun bidang ini memerlukan waktu yang lama dalam menyembuhkan pasien,” ungkapnya. Ketika melihat serial TV berjudul Ben Casey yang bercerita tentang dokter bedah saraf, beliau menjadi tertarik untuk mempelajari bedah saraf. “Berbeda dengan psychosomatic medicine pengobatan yang dilakukan dalam bedah saraf langsung terlihat hasilnya dan ini sesuai dengan kepribadian saya,” kenang Prof. Satyanegara.







