| Edisi No 12 Vol XXXVII - 2011 - Kolom |
Masih Butuh Fasilitas Penyandang Cacat
Laurentius Aswin Pramono*
Suatu hari saya melihat seorang penyandang cacat ekstremitas bawah yang akan
naik bus TransJakarta. Ia tampak sangat kesulitan naik halte busway.
Banyak orang yang mengenal bahwa 1 Desember adalah hari peringatan penyakit AIDS. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa dua hari setelahnya, tepatnya 3 Desember, merupakan hari peringatan bagi penyandang cacat sedunia. Saat ini, secara umum perhatian terhadap orang cacat memang meningkat di seluruh dunia. Berbagai teknologi diciptakan untuk penyandang buta, tuli, atau bisu. Beragam fasilitas disediakan pemerintah kota di seluruh dunia bagi penyandang cacat ekstremitas bawah. Saya hanya bertanya, sudahkah Indonesia, atau lebih sempit lagi, Jakarta, memperhatikan kebutuhan mereka?
Bila kita menengok sejenak di dunia maya alias internet, beragam keluhan disampaikan para penyandang cacat yang masih diperlakukan secara diskriminatif oleh pelayanan publik. Sebagai contoh, seorang penyandang tunanetra diminta menandatangani surat pernyataan (semacam informed consent) bahwa ia tidak akan menuntut bila penyakitnya semakin berat. “Saya bukan penderita sakit, saya penyandang cacat,” demikian ia berujar geram.
Belum lagi fasilitas pelayanan publik dan pendidikan yang juga belum menjangkau mereka. Penyandang tunanetra dianggap penderita buta yang diidentikkan dengan orang miskin atau pengemis, atau malah tukang pijat dengan tongkat. Jalan-jalan ibu kota yang semrawut dan terus diperlebar untuk bangunan dan jalan mobil tentu saja tak ramah terhadap mereka. Apalagi gedung-gedung fasilitas publik macam kantor pos atau sarana transportasi darat, laut, udara? Fasilitas pendidikan tak menyediakan mereka buku dengan huruf Braille atau audiobook. Cukup menyedihkan mengingat di negara luar macam Amerika atau RRC, hal-hal semacam ini amat diperhatikan. Meskipun bangsa mereka lebih maju dalam bidang ekonomi, hal itu tidak boleh menjadi alasan mengabaikan kepentingan para penyandang cacat.







