Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVII - 2011 - Studi Kasus

Strategi Pemeriksaan Laboratorium Amenorea Primer pada Empty Sella Syndrome

 

ANIK WIDIJANTI, RAHMA TRILIANA, LOLY RD SIAGIAN,

Bagian Patologi Klinik RS Syaiful Anwar, FK Universitas Brawijaya, Malang .

 

Pendahuluan

Amenore primer adalah kondisi tidak terjadinya perdarahan mentruasi pertama (menarche) pada wanita sampai usia 16 tahun atau tidak adanya menstruasi sampai 2 tahun dari munculnya tanda-tanda perkembangan seks sekunder.1 Karena data usia menarche pada dekade ini semakin muda, sebuah literatur mendefinisikan amenore primer sebagai tidak adanya menstruasi di usia 13 tahun apabila tanda seks sekunder tidak ada dan 15 tahun bila memiliki tanda seks sekunder yang normal sesuai usia.2 Amenore primer dapat timbul akibat kelainan anatomis yang menyebabkan gangguan alira­n darah menstruasi (misal pada hymen imperforata), kelainan ovarium (misal pada agenesis ovarium atau kegagalan ovarium), serta kelainan pada sentral di hipotalamus atau hipofise.1,2

Hipofise atau kelenjar pituitari adalah kelenj­ar kecil pada dasar otak yang secara parsial dikelilingi oleh struktur tulang yang disebut sella turcica dan terdiri atas hipofise anterior serta hipofise posterior.3,4 Hipofise anterior menghasilkan Thyroid-stimulating hormone (TSH, thyrotropin) yang mempe­nga­ruhi kelenjar tiroid, Adrenocorticotropic hormone (ACTH, corticotropin) yang mempengaruhi zona fasciculata dan zona reticularis korteks adrenal, Growth hormone (GH, somatotropin, STH) yang mempengaruhi pertum­buhan badan dan sekresi IGF-I, Follicle-Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) yang mempenga­ruhi ovarium, pertumbuhan folikel dan sperma­togenesis pada pria, Prolactin (PRL) yang mempengaruhi produksi ASI, dan Melanocyte-stimulating hormone (MSH, me­lanotropin, intermedin) yang mempenga­ruhi sintesa melanin pada melanocytes manusia. Hipofise posterior memproduksi Antidiuretic Hormone (ADH, Vasopressin) yang menyebabkan retensi cairan dan Oxytocin yang menyebabkan pelepasan ASI dan kontraksi rahim saat bersalin. Beberapa hormon lain se­perti Lipotropin (LPH), corticotropinlike inter­mediate lobe peptide (CLIP), pro-opiomelanocortin, gastrin, renin, angiotensin II, dan calcitonin gene-related peptide (CGRP) juga diproduksi di hipofise walau dalam jumlah yang sedikit. Perubahan pada struktur dan fungsi hipofise dapat menyebabkan gangguan pada tubuh, tergantung pada hormon yang mengalami defisiensi.3,4,5,6

Empty sella syndrome (ESS) adalah per­ubahan radiologi dan anatomis yang terjadi akibat pelebaran subarachnoid space ke posisi intrasellar yang menyebabkan remodeling sella turcica dan pendataran atau penyusutan kelejar hipofise sehingga tidak tampak pa­da Computed Tomography Scanning (CT-sca­­n) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI).7,8 Terdapat dua tipe ESS, yakni ESS primer yang terjadi pada pasien tanpa riwaya­t trauma, radiasi, atau terapi bedah pada hipofise; dan ESS sekunder bila muncul akibat trauma, bedah atau radiasi dengan insiden pada hasil otopsi berkisar 5,5% -23,5%7; se­dang­kan pada populasi umum prevalensi­nya sekitar 8–35% dengan jumlah penderita wanita 4 kali lebih banyak dibanding pria.8,9 ESS banyak ditemukan saat pemeriksaan radio­logi otak pada pasien dengan atau tanpa gejala, sedangkan pada wanita 4-16% dapa­t menyebabkan galaktore atau amenore.9

Mengingat tingginya insiden ESS pada amenorea primer maka kami akan melapor­kan kasus amenore primer pada empty sella yang datang dengan keluhan tidak menstrua­si dan tubuh cebol.

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...
 
Banner