Banner
Translate
Edisi No 12 Vol XXXVII - 2011 - Artikel Konsep

Dioksin Mengancam Kesehatan Penduduk Bumi

 

MUKHLIS AKHADI

Peneliti Utama di Badan Tenaga Nuklir Nasional.

 

Pendahuluan

Dioksin (dioxin) merupakan jenis racun sangat berbahaya yang sebetulnya suda­h dikenal sejak lama. Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak 1977 sudah menggolongkannya sebagai zat karsinogen (penyebab kanker) kelas satu.1 Agak lama dilupakan orang, nama itu secara tiba-tiba dibicarakan kembali pada awal 1999. Kepopulerannya bermula dari adanya temuan tercemarnya ternak, produk ternak, dan bahan makanan turunan lainnya oleh racun dioksin yang mencuat di Belgia.2 Perdana Menteri Belgia saat itu, Jean-Luc Dahaene, pada 8 Juni 1999, mengeluarkan pernyataan resmi mengenai pencemaran dioksin yang diidentifikasi telah terjadi pada pakan ternak dari perusahaan Verkest yang dikirimkan kepada 400 pusat peternakan perio­de 19-31 Januari 1999.

Histeria dioksin memicu terjadinya krisis politik di Belgia. Perdana Menteri negara itu yang semula bungkam terhadap kasus ini, akhirnya terpaksa mengundurkan diri dari jabat­annya pada 14 Juni 1999. Sebelumnya, menteri pertanian Karen Pinxten dan menteri kesehatan Marcel Colla telah lebih dulu turun dari kursi jabatannya.3 Mereka mendapat kecam­an keras berkaitan dengan cara penangan­an kasus percemaran dioksin yang diduga telah terjadi sejak awal 1999 itu. Krisis juga merembet ke negeri tetangga, Belanda, sehingga menteri pertanian Hayo Apotheker terpaksa mundur karena dinilai lamban dalam menyikapi kasus pencemaran dioksin.

Selain masalah politik, pencemaran dioksin ternyata juga merambah ke bidang ekonomi yang menyebabkan gagalnya ekspo­r produk pertanian dan peternakan Belgia ke seluruh penjuru dunia, hingga negeri itu menderita kerugian 500 juta USD.4 Kasus dioksin juga memicu masalah sosial berupa keresahan di mana masyarakat menja­di was-was dan takut mengonsumsi bahan-bahan makanan jenis tertentu. Tak ketinggalan masyarakat Indonesia, saat diok­sin ramai dibicarakan pada 1999, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) me­ne­ri­m­a telpon setiap harinya sekitar 100-125 kali dari anggota masyarakat yang menanyakan masalah ini.5

Tak dipungkiri lagi, senyawa kimia yang semula hanya menjadi perhatian para insinyur kimia, praktisi lingkungan hidup dan pertanian, serta hanya dibicarakan di tempat-tempat terbatas seperti ruang kuliah dan labo­ra­torium, saat itu menjadi sangat akrab di telinga masyarakat awam, terutama ke­lom­pok menengah perkotaan, yang di sam­pin­g memiliki perhatian terhadap kesehatan relatif tinggi, juga merupakan konsumen terbesar produk-produk makanan impor dari Eropa.6

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...
 
Banner