| Edisi No 11 Vol XXXVII - 2011 - Profil |
Dengan Teknologi Terkini, Gangguan Pendengaran dapat Dideteksi Lebih Dini
Rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap pendengaran dan penciuman yang dimiliki manusia, membuat tokoh kita kali ini bertekad mendalami bidang tersebut. Terlebih lagi, dua indra tersebut paling banyak disebut dalam kitab suci ajaran agamanya, yakni Al Quran. Semakin besarlah niat mempelajari indra pendengaran dan penciuman dalam dirinya. Untuk mewujudkan niat tersebut, tak berapa lama setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Tri Juda Airlangga Hardjoprawito, SpTHT, melanjutkan pendidikan ke Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) FKUI, pada 2000. Ditemui MEDIKA di ruang kerjanya di FKUI-RSCM, dokter yang kerap disapa dr. Angga ini memaparkan kisah dan pandangannya.
Setelah menyelesaikan pendidikan dokter spesialis, dokter yang pernah bergabung dengan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat Kesehatan ini bertugas di divisi THT komunitas, Departemen THT FKUI. “THT komunitas merupakan divisi yang lebih banyak memeriksa pendengaran bayi,” ungkapnya. Di divisi ini, ia mempelajari dan menemukan perkembangan ilmu dan teknologi terkini tentang pemeriksaan gangguan pendengaran pada bayi. “Dahulu, gangguan pendengaran pada bayi baru dapat diketahui setelah bayi berusia di atas dua tahun,” tukas dokter yang gemar memancing ini. Kini, dengan kemajuan ilmu dan teknologi, gangguan pendengaran pada bayi dapat dideteksi lebih dini. Bahkan, pada bayi yang memiliki faktor risiko, dengan bantuan teknologi screening ‘penapisan’ yang adekuat, deteksi dapat dilakukan saat bayi berusia dua hari.







