Banner
Translate
Edisi No 11 Vol XXXVII - 2011 - Fokus

Neurotransmiter pada Tidur

 

YUSRI HAPSARI UTAMI

Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta.

 

Pendahuluan

Tidur merupakan fenomena fisiologis menarik sehari-hari dalam kehidupan yang didefinisikan sebagai keadaan perilaku reversibel yang dipersepsikan sebagai  pelepasan diri dari dan untuk melepaskan tanggung jawab dari lingkungan.1 Tidur adalah suatu keadaan organisme yang teratu­r, berulang, mudah dikembalikan, yang ditandai oleh keadaan yang relatif tidak ber­gera­k disertai dengan peningkatan besar  ambang respons terhadap stimuli eksternal.2 Kita menghabiskan kira-kira sepertiga dari hidup kita untuk tidur. Tanpa tidur yang cukup dan kekurangan tidur yang signifikan akan menyebabkan masalah kejiwaan serta fisik. Rata-rata waktu tidur yang kita butuh­kan adalah 7,5 jam.3  Menurut suatu pene­litia­n, seekor tikus yang kekurangan tidur karena ditahan tidurnya lebih cepat mati dibandingkan ditahan diberi makan.3

Sampai abad ke-20, tidur masih dianggap sebagai fenomena pasif hingga observasi Von Economo dan percobaan klasik dari Moruzzi yang menyatakan bahwa tidur bukanlah fenomena pasif. Sebaliknya, terjadi karena aktifnya bagian otak di ensephalon dan batang otak yang mengontrol tidur dan arousal.  Kemudian Kleitman mengenalkan 2 fase tidur, yaitu Rapid Eye Movement Sleep (REM Sleep) dan Non-Rapid Eye Movement Sleep (NREM).

 

Organisasi Tidur

Tidur merupakan organisasi tingkat tinggi dan pola fisiologis yang  terstruktur yang terdiri dari 2 fase, yaitu tidur dengan gerakan mata tidak cepat (Non-rapid eye movement: NREM) dan tidur dengan gerakan mata cepat (Rapid Eye Movement: REM). Fase tidur NREM 75-80% dan fase  tidur REM 15-20% dari Total Sleep Time (TST). Kedua fase ini bersifat siklik dengan periode tidur REM terjadi setiap 90 menit. Siklus REM-NREM ini terja­di 4-6 kali per malam dan waktu yang dibutuhkan untuk tidur REM semakin me­ningkat.3 Pada tidur NREM, fungsi fisiologis jelas menurun. Secara kualitatif, ini berbeda dengan tidur REM yang biasanya ditandai dengan tingkat aktivitas otak dan fisiologis sangat aktif yang mirip dengan keadaan terjag­a. Sekitar 90 menit setelah onset tidur, tidur NREM berubah menjadi episode REM pertama. REM latensi 90 menit tersebut konsist­en ditemukan pada dewasa normal.2

 

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...
 
Banner