Banner
Translate
Edisi No 11 Vol XXXVII - 2011 - Kolom

Layanan Kesehatan Tanpa Arah

Dr. Pribakti B., SpOG(K)1

 

Kini, di mana-mana kita mudah menemui orang-orang yang mengaku “pinta­r dan sakti”, yang katanya sanggup mengobati segala jenis penyakit. Mereka membuka praktik seperti seorang profesional dan menjanjikan pengobatan serta kesembuhan total. Setiap hari kita juga dije­jali dengan informasi tentang alat atau bahan yang dapat “menyulap” orang saki­t menjadi sehat. Ada yang namanya peng­obat­an ion, aromaterapi, cuci perut , peng­obatan tradisional, refleksi, terapi sinar, tera­pi listrik, dan sebagainya. Semuanya diklaim sebagai “the best for the perfect health”. Kehebatan orang-orang dan produ­k-produk ini diiklankan secara bombastis di media massa, lengkap dengan pengakuan atau testimoni dari sejumlah pasien yang merasa mendapat perbaikan kesehatan berkat orang-orang dan produk-produk tersebut. Pertanyaannya, mengapa fenomena ini menjadi marak? Pertama, dunia kesehatan saat ini telah berkembang menjadi sebuah lahan kehidupan yang menjanjikan. Beda dengan zaman dahulu, zaman sekarang orang semakin peduli dengan kesehatannya. Mereka berani membayar mahal demi tercapainya kesehat­an diri yang optimal. Sarana kesehatan formal seperti rumah sakit, klinik peng­obata­n alternatif, klinik kebugaran, gym dan spa therapy, makin marak dan di­pen­­uhi oleh masyarakat. Untuk sekadar melakukan pemeriksaan general check up , tidak sedikit masyarakat yang berani memba­yar mahal dan bahkan melakukan perjalanan keluar negeri. Semua ini menun­juk­kan makin besarnya antusiasme masya­rakat tentang kesehatan dan betapa kesehatan telah menjadi ladang yang menggiurkan. Bagi pihak-pihak tertentu, kondisi yang menggiurkan ini dicermati sebagian sebuah peluang bisnis yang berpotensi mendatangkan keuntungan. Pihak-pihak ini, baik secara individu ataupun ber­ke­lompo­k, berusaha memanfaatkan peluang ini dengan merancang dan menawar­kan ber­bagai produk atau jasa yang dijanjikan dapat memberi kesehatan optimal, sekali­pun yang mereka tawarkan itu tidak memiliki landasan ilmiah yang jelas.

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...

 

 

 
Banner