Banner
Translate
Edisi No 10 Vol XXXVII - 2011 - Fokus

Tramadol Efektif Menghilangkan Shivering Pasca-anestesi Regional

Sekitar 40-60% pasien dengan anestesi regional akan merasakan tubuhnya shivering. Demikian De Whitte dan Sessler et al menyebutkan. Padahal, saat ini anestesi regional menjadi lebih populer dan merupakan teknik anestesi yang aman untuk berbagai operasi. Shivering merupakan kondisi yang sangat tidak menyenangkan dan secara fisiologis penuh tekanan pada pasien. Shivering ringan dapat meningkatkan konsumsi oksigen seperti saat melakukan olah raga ringan, Sedangkan shivering yang berat dapat meningkatkan metabolisme dan konsumsi oksigen hingga 100% sampai 600%. Hal tersebut akan memicu terjadinya hipoksemia arteri, asidosis laktat, peningkatan denyut nad­i, tekanan darah, tekanan intraokuler, dan masih banyak lagi. Tentu akan membahaya­kan bagi pasien yang awalnya mengalami gangguan kardiorespirasi.

Berbagai metode tersedia untuk mengon­trol shivering selama anestesi. Metode non-farmakologis menggunakan alat yang dapat mempertahankan keadaan normotermia diang­gap efektif, namun sebagian mahal pengadaannya. Selain itu, tidak selalu dapat digunakan dalam tiap keadaan rumah sakit.

Metode farmakologis lebih dipilih karena lebih efektif dari segi biaya dan bisa di­sedia­ka­n dengan mudah. Beberapa obat yang dap­at digunakan untuk mengatasi shivering pada pasien yang mendapat anestesi regi­onal ialah petidin, clonidin, doxapram, ketan­serine, tramadol, nefopam, dan sebagainya.

Dhimar et al dalam penelitiannya men­cob­a membandingkan efikasi dan keamanan tramadol yang merupakan opioid sintetik standar dengan petidin, obat standar dalam penanganan shivering. Penelitian mereka bertujuan membandingkan efikasi, potensi, efek hemodinamik, dan komplikasi atau efek samping tramadol dibandingkan dengan petid­i­n dalam mengendalikan shivering selam­a anestesi regional diberikan.

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...
 
Banner