Banner
Translate
Edisi No 10 Vol XXXVII - 2011 - Kolom

Praktik Dokter, Bukan Warung

Ario Djatmiko1

 

Terkadang, penyebutan istilah menunjukkan bagaimana kita menaruh bobot nilai dari sesuatu yang kita maksud. Pernahkah Anda mendengar istilah “buka warung”? Istilah itu sering kita dengar saat seorang dokter tidak bisa hadir dalam satu acara. Kita paham, maksudnya si Dokter sedang buka praktik. Jadi, harap maklum, dia tidak bisa diganggu. Dia sedang ber­hadapan dengan orang sakit yang butuh pertolongan segera.

Dahulu, kita mengenal praktik dokter sebagai kegiatan ritual sore hari selepas kerja formal untuk menerima pasien pribad­i. Di sana, pasien menunggu untuk dipanggil, sembari berharap mendapat­kan penanganan terbaik dari si Dokter. Sebutan dokter bertangan dingin sering kita dengar untuk dokter yang laris manis. Terselip di sana aroma, irrational trust untuk sosok personal si Dokter. Tidak jadi soal selama pasien memang benar-benar mendapatkan perawatan yang terbaik. Tetapi, siapakah sebenarnya yang akan menilai dan menjamin bahwa si Pasien memang benar-bena­r menerima penanganan terbaik?

 

Bukan Jual Beli                                                                                                                                                    

Saya ragu apakah penggunaan istilah ”buka warung” untuk praktik dokter akan diterima lega oleh pasien. Mengapa? Hal itu terkesan mereduksi bobot nilai pekerja­an profesi dokter. Kegiatan ”perwaru­ngan” adalah kegiatan yang teramat sederhana. Cash and carry.  Anda hanya perlu membawa selera dan uang. Pilih yang Anda sukai, bayar, dan urusan selesai. Titik! Bila kelak Anda memerlukan hal lain lagi, Anda bisa datang kembali, beli, dan bayar lagi. Sampai di sini, tampak­nya pola selling and buying yang terjadi di ruang praktik antara dokter dan pasien nyaris serupa. Artinya, bila Anda kembali membutuhkan jasa dokte­r tadi, silakan datang dan membayar kembali. Lantas apa bedanya?

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...

 

 
Banner