| Edisi No 10 Vol XXXVII - 2011 - Studi Kasus |
Diagnosis dan Tata Laksana Gangguan Skizoafektif
Pendahuluan
Gangguan skizoafektif, seperti terminologi bahasanya, adalah gangguan yang mempunyai dua sisi, yaitu gejala skizofrenia dan gejala afektif atau mood. Terminologi skizoafektif pertama kali diperkenalkan oleh Jacob Kasanin pada 1933. Gangguan skizoafektif saat ini didiagnosis jika pada pasien terdapat satu dari beberapa kategori berikut ini: pasien skizofrenia yang memiliki gejala mood, pasien dengan gangguan mood yang memliki gejala skizofrenia, pasien dengan gangguan skizofrenia dan gangguan mood, pasien dengan gangguan yang merupakan kesinambungan antara skizofrenia dan gangguan mood, dan pasien dengan beberapa kombinasi kategori di atas. Prevalensinya di populasi umum seperti layaknya gangguan skizofrenia masih berkisar di bawah 1% dengan tenggang antara 0,5%-0,8%. Sampai saat ini, penyebab pasti gangguan skizoafektif belum diketahui. Tulisan ini akan membahas diagnosis dan tata laksana gangguan skizoafektif, baik secara psikofarmaka maupun psikoterapi.
Ilustrasi Kasus
Pasien adalah seorang nona, usia 20 tahun, beragama Islam, suku Minang, pendidikan terakhir kelas 2 SMP, saat ini belum bekerja dan belum menikah. Tiga hari sebelum masuk perawatan, pasien mengamuk di rumah. Hal itu terjadi karena saat itu ada tetangganya, seorang nenek, yang meninggal dan malam itu arwahnya datang ke rumah pasien untuk meminta tolong kepada pasien. Pasien kemudian ketakutan karena menurut pasien muka nenek tersebut sangat seram. Pasien juga memecahkan piring-piring dan kaca di rumah. Pasien melakukan hal tersebut karena ada suara-suara yang menyuruhnya melakukan hal tersebut.
Tiga bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien sudah mulai berjalan ke sana ke mari dan tidak mau diam. Pasien juga menjadi gampang tersinggung dan mudah marah. Saat kambuh dari sakitnya, pasien biasanya tidak bisa tidur sama sekali dan membangunkan anggota keluarganya ketika tidur. Ayah pasien mengatakan bahwa sejak 3 bulan yang lalu pasien ini sudah tidak makan obat secara teratur, hanya kadang-kadang. Dua minggu sebelum masuk rumah sakit, pasien sudah berhenti minum obat sama sekali karena menurut pasien obat yang diberikan menyebabkannya sesak napas. Pasien mengatakan bahwa dirinya sudah sembuh dan obat yang dimakannya menimbulkan rasa tidak enak di dada.
Pasien mengatakan bahwa dirinya cantik dan mirip dengan bintang film serta bintang sinetron. Menurut pasien, banyak tetangganya yang suka samaa pasien sehingga membuat pasien pusing menghadapi mereka. Pasien juga mengatakan kalau dirinya dapat melihat surga dan neraka lewat mata kanannya yang ajaib yang disebutnya sebagai mata Tuhan. Pasien mengatakan ia adalah orang yang pintar dan mengetahui banyak ilmu pengetahuan. Pasien juga dapat membaca pikiran orang di saat orang itu dekat dengan dirinya.







