Banner
Translate
Edisi No 10 Vol XXXVII - 2011 - Artikel Penyegar

Defisiensi Vitamin D Faktor Risiko Asma

Pendahuluan

Asma merupakan penyakit kronik yang semakin sering ditemukan di kalang­an anak. Di Inggris, prevalensi asma pada 1973 sebesar 5,5%, pada 1988 sebesar 12%, dan pada 2003 (27,3%), memperlihat­kan kecenderungan yang meningkat pesat.1 Di Amerika Serikat, pada 2007, sekitar 9,1% atau 6,7 juta anak dilaporkan menderita asma dengan angka kematian pada 2005 sekitar 2,3 per satu juta anak. Peningkatan prevalensi ini akan menimbulkan dampak negatif, yaitu mengganggu aktivitas penderita dan keluarganya, serta menambah kebutuhan biaya medis untuk proses terapi.2 Menurut pedoman nasional asma anak, asma adalah wheezing dan/atau batuk dengan karakteristik yang meliputi timbul secara episodik dan/atau kronik, cenderung pada malam atau dini hari (nokturnal), musiman, ada faktor pencetus antara lain aktivitas fisik, dan bersifat reversibel secara spontan atau dengan pengobatan.3 Berbagai penelitian menunjukkan interaksi antara faktor genetik yang multipel dan faktor lingkungan sebagai penyebab asma. Pada seorang anak, per­ubaha­n pola hidup merupakan faktor risiko untuk menderita asma.4

Defisiensi vitamin D yang didefenisikan oleh para ahli sebagai kondisi yang ditandai oleh kadar 25-hidroksivitamin D (25[OH]D) lebih kecil dari 20 ng/ml (50 nmol/L) dan insufis­iensi apabila kadar tersebut <30 ng/ml (75 nmol/L). Namun, sampai demikian jauh, belum ada konsensus yang menyatakan kadar vitamin D yang ideal.5,6 Studi NHANES pada 2001-2004, di AS, menemukan bahwa 9% dari seluruh populasi anak-anak di negara itu mengalami defisiensi vitamin D.7 Penelitian lain juga menemukan bahwa 12,1% bayi dan balita sehat di Boston meng­ala­mi defisiensi vitamin D.8 Defisiensi vitamin D dapat mengakibatkan asma. Hasil dari bebera­pa penelitian menunjukkan bahwa vita­m­in D mempunyai  fungsi imuno­modula­tor.4,9,10 Studi di Costa Rica menemukan 28% dari 616 anak penderita asma memiliki kadar 25(OH)D kurang dari 30 ng/ml. Selain itu, studi tersebut juga menemukan hu­bunga­n yang terbalik  antara kadar vitamin D dengan kadar IgE total dan hitung eosinofil.11 Ibu hamil dengan asupan vitamin D yang tinggi dapat menurunkan risiko anak menderita wheezing berulang di awal masa kanak-kanak mereka.12

Selengkapnya, silahkan baca di edisi cetaknya...
 
Banner