| Edisi No 10 Vol XXXVII - 2011 - Artikel Konsep |
Efek Antagonis Reseptor Mu-Opioid Perifer pada Saluran Cerna
ANNE ADIWIJAYA
Puskesmas Pahauman, Kalimantan-Barat
Opioid telah digunakan selama lebih dari 4000 tahun. Opioid tetap menjadi obat yang paling diterima untuk pengobatan pasien dengan nyeri akut dan kronik dengan derajat sedang sampai berat, akan tetapi efek analgesianya berhubungan dengan beberapa efek yang tidak menyenangkan. Efek opioid dapat sentral maupun perifer melaui reseptornya. Analgesia, depresi pernapasan, dan miosis adalah contoh efek sentral. Sedangkan penurunan motilitas saluran cerna merupakan efek perifer.1 Opioid memiliki 3 reseptor, yaitu mu, delta, dan kappa, dengan reseptor mu sebagai reseptor utama dalam efek analgesia di susunan saraf pusat (mu1) dan efek-efek opioid pada saluran cerna (mu2).2
Opioid dapat endogen dan eksogen. Sekresi opioid endogen seperti dinorfin dan enkefalin sebagai respons dari trauma operasi maupun opioid eksogen seperti morfin, dapat menstimulasi reseptor opioid perifer di saluran cerna yang dapat menyebabkan disfungsi saluran cerna dan penundaan pemulihan saluran cerna.2
Efek opioid terhadap saluran cerna seperti konstipasi, ileus, penurunan nafsu makan, peningkatan refluks gastro-esofagus, mual, muntah, penundaan pencernaan (feses yang keras dan kering), penundaan absorpsi obat, sendawa, distensi abdomen, konstipasi, spasme, dan kram perut.2
Konstipasi karena opioid merupakan salah satu bagian dari sindrom yang dikenal dengan Opioid-induced Bowel Dysfunction (OBD), yang termasuk di dalamnya penghambatan pengosongan lambung, peristaltik, sekresi, dan peningkatan tonus sfinkter usus.3 Transit saluran cerna yang lambat, peningkatan absorpsi cairan, dan pengeringan feses menyebabkan konstipasi. Seiring berjalannya waktu, pasien yang mengalami toleransi tehadap opioid membutuhkan dosis yang lebih besar untuk mengurangi nyeri, akan tetapi mereka hanya bertoleransi sedikit terhadap OBD.4 Sebagai hasilnya, OBD adalah masalah klinis yang terjadi pada 60-90% pasien yang menerima opioid untuk keganasan kronik dengan metastase atau nyeri kronik non-kanker.5 Konstipasi sering sulit diatasi dengan pelunak feses atau laksatif dan hal ini dapat membatasi dalam pengontrolan yang nyeri yang efektif.6







