| Edisi No 09 Vol XXXVII - 2011 - Dari Redaksi |
Olah raga sebagai Salah Satu Bentuk Aktivitas Fisik
Ramadhan telah meninggalkan kita. Semarak Hari Raya Idul Fitri pun perlahan mulai sirna. Pemudik kembali ke kota. Pegawai kembali bekerja. Pedagang kembali menata barang dagangannya. Jalan-jalan raya di kota besar kembali padat. Aktivitas telah kembali seperti sedia kala.Begitu pula dengan gaya hidup warga metropolitan, kembali seperti semula. Pola makan kembali pada konsumsi bahan pangan tinggi lemak dan rendah serat. Kebiasaan merokok masih berlanjut. Stres karena pekerjaan masih sering menghantui. Mobilitas warga lebih didominasi dengan sarana kendaraan bermotor dibandingkan dengan aktivitas fisik seperti berjalan kaki.
Ada baiknya kita meninjau ulang gaya hidup ala metropolitan tersebut. Gaya hidup ini merupakan keseharian sebagian besar warga kota besar seperti Jakarta. Padahal, sudah diketahui bahwa gaya hidup yang demikian ini akan berakibat pada semakin meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskular. Bukan hanya prevalensinya, kasus-kasus penyakit kardiovaskular juga terjadi pada usia yang lebih muda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Himbauan untuk selalu menerapkan gaya hidup sehat sudah digembar-gemborkan oleh banyak kalangan, termasuk pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. Anjuran mengatur pola makan, menghentikan kebiasaan merokok, melakukan aktivitas fisik, dan menghindari stres sudah kerap didengar. Bahkan, pemerintah sudah sejak 1948 menetapkan 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional (HAORNAS). Olahraga di sini mencakup dua jenis, yakni olahraga kompetisi dan olahraga sebagai aktivitas fisik. Dalam pidato HAORNAS beberapa tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa kecintaan masyarakat akan olahraga masih perlu ditingkatkan. “Karena itulah, pemerintah terus mendorong dilakukannya kegiatan olahraga, baik di sekolah-sekolah, kantor-kantor pemerintah dan swasta, maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat.”Peran pemerintah dan swasta dalam memajukan olahraga, khususnya olahraga sebagai bentuk aktivitas fisik, semakin nyata saat ini. Hal ini terbukti dengan semakin banyak klub senam seperti senam jantung sehat, senam diabetes, senam osteoporosis, dan sebagainya. Peran ini semakin terasa dengan pemberlakuan Hari Bebas Kendaraan Bermotor setiap minggu ke-2 dan ke-4. Pada hari-hari tersebut, kendaraan bermotor dilarang melintas di Jalan Thamrin dan Sudirman. Sebaliknya, masyarakat bebas menggunakan jalan tersebut untuk berolah raga. Peran pemerintah juga dapat dilihat dari peresmian jalur sepeda di Jakarta Selatan. Meski baru beberapa kilometer, jalur ini membuktikan bahwa pemerintah memberikan respons positif atas kebutuhan warga akan sarana dan prasarana olahraga.
Tinggal bagaimana kita menyikapi hal ini, berpartisipasi aktif dalam olahraga demi kesehatan atau tetap mengikuti gaya hidup yang tak menyehatkan. Pilihan ada pada Anda. Redaksi.






