Banner
Translate
Edisi No 07 Vol XXXVII - 2011 - Profil
Dr. Dien Emmawati, MPH

Berupaya Memberikan Pelayanan Kesehatan yang Terbaik bagi Masyarakat Jakarta

 

 

Tokoh yang kami angkat kali ini memiliki cita-cita yang sangat mulia. Ia ingin menjadikan masyarakat Jakarta sehat. Jika dilihat sepintas, cita-cita tersebut sederhana, namun bila dilihat perjalanan panjang proses membuat masyarakat menjadi sehat ternyata sangat rumit. Rumit karena masyarakat Jakarta sangat heterogen, dengan status sosio-ekonomi dan budaya yang sangat beragam. Terlebih lagi kebutuhan akan kesehatan masyarakat Jakarta juga berbeda-beda. Hal ini cukup me­nyu­litkannya mewujudkan tujuan tersebut. Namun demikian, Dr. Dien Emmawati, MPH, tidak patah semangat. Kepada MEDIKA beliau memaparkan seluk-beluk kesehatan dan pandangannya tentang kese­hatan di wilayah itu. Menjelaskan tentang cita-cita tersebut beliau mengatakan, “Ibarat diri kita sakit dan tidak ditolong oleh layanan kesehatan maka kita akan kesal.” Hal tersebut membu­at ia mengajak seluruh jajarannya untuk mengutamakan masyarakat yang membutuhkan bantuan mendapatkan pelayanan kesehatan. Kepada stafnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta ini menyatakan,”Coba kalau kamu sakit, tidak punya uang, dan dimarahi akan seperti apa rasanya.”

Kepedulian beliau terhadap kebutuhan masyarakat akan kesehatan bukan tanpa latar belakang. Sebelum sampai pa­d­a jabatan yang sekarang, dahulu beliau bertugas di berbagai puskesmas, mulai dari Jawa Barat, DKI Jakarta, sampai menja­di kepala Suku Dinas (Sudin). Saat bertugas di puskesmas tersebut, ia melihat bahwa puskesmas merupakan tempat masyarakat menengah ke bawah mendapatkan pelayanan kesehatan. Dari tempat tersebut akan terlihat apa yang dibutuh­kan oleh masyarakat dan kebutuhan terseb­ut sudah tercukupi atau belum. Kemudian, beliau ditugaskan menjadi kepala Suku Dinas. “Alhamdulillah saya diberikan amanah. Ini bagi saya adalah amanah yang harus saya jaga terus. Artinya, saya harus ngopeni, ngopeni masyarakat Jakarta apabila mereka membutu­hkan pelayanan kesehatan,” ungkapnya. Beliau bertekad memperbaiki pelayanan kesehatan bagi masyarakat Jakarta yang masih kurang di sana sini. Terlebih lagi terhadap penolakan pasien, terutama pasien miskin.  

Berbicara mengenai penolakan pasien, beliau sangat antusias sekali. Sebenarnya, yang terjadi bukan semata-mata penolakan pasien miskin di rumah sakit ter­tentu. Ada alasan yang mendasari penolakan tersebut. “Banyaknya penolakan pasien miskin yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) karena rumah sakit yang dituju kekurangan tem­pa­t tidur,” uangkapnya. Kekurangan yang terjadi juga karena kecenderunngan pa­sien untuk berobat di rumah sakit tertentu saja. Beliau mengatakan,” Misalnya, di RSUD Pasar Rebo pasiennya penuh, sedang­kan Rumah Sakit Polri Kramat Jati kosong. Sebaiknya pasien dipindahkan ke rumah sakit yang masih dapat menampung pasien sehingga tidak ada kesan penolakan pasien.”

Untuk memberikan pelayanan ke­sehat­an bagi masyarakat kurang mampu, pemerintah memberikan berbagai ke­bijaka­n pelayanan kesehatan. Kebijakan tersebut di antaranya KepMenKes 920.1986. Aturan tersebut menyatakan bahwa rumah sakit pemerintah harus mengalokasikan 60 persen tempat tidurnya untuk kelas 3. Selain kebijakan tersebut, kekurangan tempat tidur pasien SKTM dicari dari optimalisasi rumah sakit pemerintah, puskesmas rawat inap, dan optimalisasi Ikatan Kerja Sama (IKS) de­ngan 85 rumah sakit. “Artinya, sudahkah 85 rumah sakit tersebut digunakan oleh pasien yg menggunakan SKTM,” tanya Dr. Dien berapi-api. Bila kedua kebijakan tersebut belum juga menyelesaikan masalah kekurangan tempat tidur pasien SKTM maka pemerintah berencana akan membangun rumah sakit khusus. “Pilihan terakhir adalah membangun Rumah Sakit Jakarta Selatan dengan kapasi­tas 300-400 tempat tidur,” kata beliau. Dengan de­mikian, pemenuhan terhadap kekuranga­n tempat tidur pasien miskin dapat teratasi.

Masalah kekurangan tempat tidur bagi masyarakat kurang mampu juga dipengaruhi oleh pasien dari luar Jakarta yang mencari pelayanan kesehatan di Jakarta. “Selain itu, jumlah pasien miskin yang ada saat ini ditambah dengan pasien miskin luar Jakarta,” ungkapnya. Sebanyak 30 persen pasien luar Jakarta masuk ke Jakarta. Mereka mencari tempat tidur kela­s 3, kelas 2, atau kelas 1. Mereka tidak bisa ditolak. Meski demikian, wanita kelahir­an Kediri ini tidak patah semangat. Ia bersama staf terus bekerja keras untuk mewujudkan masyarakat Jakarta yang seha­t. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Penyuluhan yang dilakukan perilaku hidup bersih dan sehat, imunisasi, life style, mengurangi stres, dan lain-lain. “Program-program yang kita lakukan menuju ke arah sana, baik di puskesmas kelurahan, kecamatan, suku dinas, mau­pun dinas,” katanya. Namun demikian, meski tindakan pencegahan sudah dilaku­kan, tetapi penyakit tidak dapat dicegah maka disiapkan pola pengelolaan jaminan kesehatan keluarga miskin.  (hidayati)  

 

 

 
Banner