| Edisi No 07 Vol XXXVII - 2011 - Kolom |
Apakah Kita Mau Mengakhiri AIDS?
Prof. Dr. Purnawan Junadi, MPH,PhD.i
Dalam perjalanan dari Jakarta ke New Delhi, 8 Juni 2011, dalam rangka menghadiri salah satu sidang WHO, mata saya terpaku pada cover majalah The Economist terbitan 4-10 Juni 2011. Dalam haruf besar tertullis “The end of AIDS? How 5 million lives have been saved, and a plaque now can be defeated”. Memang, pada 8 Juni banyak negara berkumpul di PBB untuk mendiskusikan apa yang harus dilakukan untuk mengakhiri penyakit yang sudah menjadi masalah dunia ini.
Penyakit AIDS yang mulanya dilaporkan sebagai wabah pada 5 Juni 1981 oleh CDC Atlanta, 30 tahun kemudian telah menyebabkan 25 juta orang meninggal dan 34 juta orang sakit. Namun, dalam beberapa tahun ini, ada tanda-tanda menurunnya jumlah penderita.
Ada 3 hal yang menyebabkan turunnya angka kesakitan dan kematian akibat AIDS, yaitu ilmuwan, aktivis, dan dermawan. Kemajuan teknologi telah menemukan obat, yang meskipun belum menyembuhkan, tetapi bisa menghambat aktivitas enzim virus AIDS yang penting. Namun, masih dengan biaya yang sangat mahal. Biaya pengobatan AIDS mencapai 15 ribu dolar pertahunnya. Aktivislah, yang pada umumnya dari kelompok gay, berdemo berkali-kali agar harga obat itu bisa murah. Berkat aktivis itu, harga obat menurun jauh lebih cepat menjadi sekitar 500 dolar setahun, meskipun untuk ukuran kita tetap mahal. Dermawanlah yang kemudian berperan membeli obat yang mulai turun harganya itu untuk penderita dari kelompok negara miskin. Mengapa? Karena berbeda dengan penyakit infeksi lain, AIDS menyerang kelompok produktif: dari pengusaha sampai ke guru dan dokter. Artinya, AIDS adalah satu-satunya penyakit yang sampai sekarang mampu melumpuhkan sebuah negara.
Majalah itu berargumen: pertanyaannya bukan lagi kapan AIDS “bisa” ditaklukkan, tetapi apakah dunia “mau” membayar harganya. Obat yang tersedia sekarang, meskipun tidak menyembuhkan, namun mampu menyetop reproduksi virus di dalam badan seseorang. Artinya, tidak hanya menghindarkan kematian orang yang minum obat, tetapi juga menyetop penularannya.
Inilah yang dalam bahasa kesehatan masyarakat disebut sebagai tingkat kedua dari pencegahan. Uniknya, berbeda dengan penyakit lain yang menyebar melalui lingkungan, makanan, ataupun binatang lain; AIDS hanya menyebar melalui manusia (human to human). Meskipun sebagian penyakit ini menyebar lewat “suntikan bersama”, tetap saja peran manusia ke manusia sangat besar. Jadi, pengobatan AIDS yang efektif memang sekaligus mencegah penularan. Namun, agar efektif sebagai pencegahan, semua yang sakit harus diobati. Itu berarti, harus menjangkau 34 juta orang yang sakit. Itu berarti juga harus menjangkau orang yang mungkin sudah tertular, tetapi masih belum ada gejala. Biayanya, kalau dunia mau urunan, diperkirakan sebesar 16-22 milyar dolar setahun. Mungkin meningkat dalam beberapa tahun, kemudian menurun, sesuai dengan menurunnya jumlah penderita baru AIDS.
Dalam pandangan saya, yang perlu ditekankan adalah skenario ini baru berhasil kalau dunia, sekali lagi, mau menanggung biayanya. Dalam hal ini negara kaya, institusi, maupun individual super kaya yang mau konsisten menjadi donator. Jadi, dalam skenario ini kita memerlukan rekayasa sosial tingkat dunia —itu sebabnya mengapa perlu ketemu di PBB— agar negara kaya, lembaga yang makmur, dan individu superkaya mau terus dermawan membiayai sakitnya orang lain. Memang, selama ini Bill Gates menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk eradikasi AIDS. Siapa sangka, George Bush yunior yang kontroversial itu juga berhasil meyakinkan negara untuk mau menyumbang dalam jumlah besar. Pertanyaannya, ide karitatif ini sampai beberapa lama bertahan? Sekarang saja sudah mulai ada beberapa negara donor yang hengkang.
Skenario yang menurut saya jauh lebih murah adalah skenario pencegahan: setia pada pasangan, gunakan selalu kondom pada setiap situasi yang berisiko, dan jangan menggunakan jarum suntik bersama. AIDS adalah blessing in disguise, contoh yang baik bagaimana pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Skenario ini memang baru berhasil kalau kita berhasil mengubah perlaku kita (life styles) menjadi orang yang mau bertanggung jawab, baik untuk kesehatan dirinya maupun untuk kesehatan orang lain. Melakukan rekayasa sosial sehingga orang mau bertanggung jawab untuk menjaga kesehatannya lebih rewarding dibanding melakukan rekayasa sosial sehingga orang mau menjadi dermawan membiayai sakitnya orang lain. Rekayasa sosial membuat orang menjadi lebih dermawan, kalaupun berhasil, tidak mengubah perilaku orang yang menderita AIDS menjadi lebih bertanggung jawab menjaga kesehatan dirinya. Sedangkan kalau kita berhasil mengubah perilaku kita menjadi bertanggung jawab atas kesehatan kita maka kita akan mudah menangulangi penyakit “life styles” lainnya, seperti diabetes, darah tinggi, jantung stroke, maupun banyak penyakit lainnya.
Pada skenario dermawan, biaya kesehatan makin ke depan akan tetap mahal, atau malah semakin mahal. Sedangkan pada skenario perubahan perilaku, biaya kesehatan akan makin murah.
Secara praktis, pada tahap sekarang, kita memang harus menggunakan pendekatan kombinasi. Tekanannya, menurut saya, tetap pada perubahan perilaku. Kemudian mengobati penderita AIDS sehingga mereka tidak menular dan melakukan promosi besar-besaran sehingga mereka yang sudah tertular namun belum tampak sakit, menyadari keadaannya dan mau ikut berobat. Tentu saja tetap membujuk orang, lembaga, dan negara untuk tetap berkomitmen mengakhiri penyakit ini. Sudah pasti tidak mudah. Pertanyaannya bukan apakah kita “bisa”, tetapi apakah kita “mau”?
1 Guru Besar Universitas Indonesia







