| Edisi No 07 Vol XXXVII - 2011 - Editorial |
Malaria dan Filaria di Pulau Adonara
Pulau Adonara adalah salah satu pulau di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, yang endemis malaria dan filariasis. Pada 2007, di Kecamatan Adonara Barat, penderita malaria klinis (AMI) berada pada kisaran 80,1 – 239 0/00 dan penderita positif mikroskopis malaria (API) berada pada kisaran 1,08 – 85,940/00.
Di kecamatan tersebut dilaporkan 12 kasus filariasis dengan gejala klinis kronis limfedema atau elephantiasis yang tersebar di beberapa desa. Hasil survei filariasis pada 1986, di Kecamatan Adonara Barat ditemukan 19,2% mengandung mikrofilaria dan telah dilakukan pengobatan massal. Namun, survei ulang filariasis tahun 2008 di beberapa desa yang ada penderita elephantiasis menemukan mikrofilaria hanya di dua tempat, yaitu Dusun Wureh 6,68% dan Dusun Bogaliman 1,11%.Spesies nyamuk yang ditemukan di Pulau Adonara adalah An. aconitus, An. barbirostris, An. flavirostris, An. subpictus An. sundaicus, Cx. Quiqufasciatus, dan Aedes aegypti. Vektor malaria di Pulau Adonara adalah An. barbirostris, An. Subpictus, dan An. Sundaicus , tetapi nyamuk yang menjadi vektor filariasis belum diketahui. Pemberantasan malaria dan filariasis di Pulau Adonara selama ini hanya dilakukan dengan pengobatan penderita, sedangkan pengendalian vektor belum pernah dilakukan. Untuk mengetahui dinamika penularan malaria dan filariasis di Pulau Adonara dilakukan penelitian yang meliputi prevalensi malaria, penyebaran malaria dan filariasis, penularan kedua penyakit tersebut, nyamuk vektor, bionomik dan habitat larva nyamuk, serta faktor lingkungan yang mendukung kejadian malaria dan filariasis. Informasi tersebut diharapkan dapat berguna untuk menyusun perencanaan dan pertimbangan kebijakan pemberantasan malaria serta filariasis di Pulau Adonara.
Editorial Medika No. 7 Tahun ke XXXVII, Juli 2011 ini kami angkat dari artikel penelitian berjudul Studi Dinamika Penularan Malaria dan Filariasis di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT oleh Barodji, Febrianto, Yuniarti, Tunjungsari dan Barudin, Peneliti Utama pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit, Salatiga. Para peneliti menemukan Penderita malaria di semua lokasi penelitian. Sediaan darah yang positif malaria (SPR) 2,22 – 16,00% dan sediaan darah yang positif Plasmodium falciparum (SFR) berkisar antara 0,00 – 5,14%. Sediaan darah yang positif malaria pada anak umur 0-9 tahun (Parasit Rate =PR) pada tiap lokasi berkisar antara 4,54 – 50,00%. Hasil penangkapan nyamuk yang dilakukan dari Juli sampai Oktober 2008, tertangkap 5 spesies nyamuk Anopheles, yaitu Anopheles aconitus, An. barbirostris, An. flavirostris, An. Subpictus, dan An. Sundaicus; 1 spesies nyamuk Culex, yaitu Cx. Quinqufasciatus; dan 1 spesies nyamuk Aedes, yaitu Ae. Aegypti. Dua spesies nyamuk, yaitu An. subpictus dan An. sundaicus ditemukan di semua lokasi penelitian. Sedangkan An. barbirostris hanya ditemukan di 4 lokasi, yaitu di Desa Wureh, Pajinian, Hurung, dan Duwanur. An. subpictus adalah spesies yang paling dominan tertangkap pada semua lokasi, menggigit orang sepanjang malam, baik di dalam maupun di luar rumahNilai kapasitas tersangka vektor An. subpictus di Desa Adonara paling tinggi dibanding dengan di desa lain, diikuti Desa Wureh, Pajinian dan Duwanur. Kapasitas vektor An. sundaicus di Desa Adonara paling tinggi bila dibanding dengan desa lainnya, diikuti dengan Desa Wureh dan Desa Pajinian. Kapasitas vektor spesies An. Barbirostris tinggi. Jika HBI spesies tersebut tinggi maka kapasitas vektor dalam menularkan penyakit di daerah itu juga tinggi. Kapasitas vektor spesies lainya tidak bisa dihitung karena kepadatan yang sangat rendah, jumlah nyamuk tertangkap kurang dari 10 ekor sehingga angka parity rate tidak bisa dihitung.
Hasil penapisan filariasis yang dilakukan di semua desa penelitian menunjukkan bahwa mikrofilaria hanya ditemukan di dua dusun di Desa Wureh, yaitu Dusun Bogalima dan Dusun Wureh. Hasil pemetaan dengan sistem Geographical Information Sistem (GIS) meliputi pemetaan habitat larva nyamuk, pemetaan rumah kasus malaria dan filariasis, serta jarak rumah kasus dan pemukiman penduduk. Bagaimanapun, penyebaran kasus malaria dan filariasis pada semua desa penelitian berada pada radius kurang dari 400 meter dari habitat vektornya.
Bagaimanapun, masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang rendah diikuti oleh pengetahuan yang rendah. Tidur tanpa kelambu, kondisi dinding rumah yang berlubang, tidak mungkin melindungi mereka dari gigitan nyamuk vektor. Padahal, di Pulau Adonara tidak ada program pengendalian vektor. Itu semua merupakan faktor pendukung penularan malaria dan filariasis di desa-desa tersebut. Selain itu, semua pemukiman penduduk berada dalam jangkauan jarak terbang nyamuk vektor. Maka lengkaplah sudah kondisi yang mengantarkan penduduk pada petaka endemisitas atau bahkan ancamann wabah penyakit malaria dan filariasis. Mereka tenggelam dalam kegiatan rutin, tanpa menyadari bencana besar yang tengah dihadapi. Artikel tersebut seakan mengingatkan kita tentang masyarakat negeri ini yang masih terabaikan. Masih banyak yang lain yang menanti perhatian dan ketulusan. Meskipun telah terjadi penurunan frekuensi kasus, lokasi tersebut tetap berpotensi besar untuk mengalami peningkatan dan wabah. Upaya pemantauan dan pengendalian masih harus terus dilakukan. Ketika negeri ini riuh rendah dalam berbagai polemik yang berkepanjangan, penduduk desa yang malang seperti itu dikhawatirkan akan semakin suram dan dilupakan. (Nasrin Kodim)






