Banner
Translate
Edisi No 07 Vol XXXVII - 2011 - Dari Redaksi

Wabah Escherichia coli, Geliat Penyakit Infeksi di Negara Maju

Beberapa pekan belakangan ini kita dikejutkan oleh wabah Escherichia coli (E. coli) di sebagian negara Eropa dan di Jerman. Sampai 15 Juni 2011, tercatat 37 orang me­ninggal dunia karena terinfeksi E. coli jenis Enterohaemorrhagic E. coli (EHEC) tersebut. Pusat Pencegahan dan Kontrol Penyakit Eropa (ECDC) menyatakan jumlah korban terinfeksi E. coli kini menjadi 3.256 orang. Sebanyak 812 di antara mereka sudah parah. Pihak berwenang mengindikasikan bahwa infeksi kemungkinan besar berasal dari makanan, terutama kecambah dan sayur mayur lain produksi Niedersachsen, Jerman. ECDC sudah memerintahkan agar produk yang dihasilkan daerah tersebut ditarik dari pasaran. Namun, sumber lain menyatakan bahwa E. coli yang kini mewabah berasal dari pupuk organik yang banyak digunakan petani di negara tersebut. Sebagaimana diketa­hui bahwa kotoran hewan banyak mengandung bakteri E. coli yang harus diwaspadai.  

Robert Koch Institute (RKI), badan yang bertanggung jawab atas pencegahan penyakit di negara tersebut, menyatakan bahwa dari jumlah orang yang terinfeksi tersebu­t, 782 kasus di antaranya ditangani secara serius karena terjangkit hemolytic uremi­c syndrom (HUS), penyakit ginjal yang timbul akibat infeksi EHEC. Kondisi ini jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan kematian. Kalaupun bertahan, pasien ini akan membutuhkan transplantasi ginjal dan dialisis sepanjang hidupnya. Lebih parah lagi, bakteri varian baru ini kebal terhadap antibiotik sehingga tidak mudah diobati.  Hal ini diduga karena terlalu berlebihan dalam penggunaan berbagai jenis antibiotik dan membuat bakteri ini menjadi resistan.

Escherichia coli atau biasa disingkat E. coli umumnya terdapat dalam usus besar manusia. Kebanyakan E. coli tidak berbahaya, tetapi beberapa di antaranya, seperti E. coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia. Selain itu, E. coli EHEC memiliki akibat yang lebih fatal, yakni mengakibatkan HUS dan dapat mengakibatkan kematian seperti disebutkan di atas.  

Banyaknya jumlah korban yang terinfeksi dan meninggal dunia karena E. coli di Jerman, selain karena ganasnya bakteri varian baru ini juga karena perilaku higienis orang Eropa yang cukup tinggi sehingga rentan terinfeksi E. coli. Kebalikannya, orang Indonesia umumnya berperilaku higienis rendah sehingga di usus besarnya terdapat banyak E. coli dan seakan resistan dengan bakteri tersebut.  

Mencermati kasus wabah E. coli ini, beberapa hal patut menjadi perhatian. Misalnya, menerapkan pola hidup sehat dengan menerapkan kebiasaan mencuci tangan sebelum melakukan kegiatan, terutama sebelum makan. Kebiasaan lain yang harus diperhatikan adalah mencuci sayur mayur dan buah-buahan dengan benar agar E. coli yang mungkin terdapat dalam sayuran dan buah-buahan sirna. Terlebih lagi orang Indonesia seringkali menyantap sayuran sebagai lalap. (Redaksi)
 
Banner