| Edisi No 06 Vol XXXVII - 2011 - Profil |
Masalah Diare Anak di Indonesia
Bekerja dengan pasien bukanlah hal yang asing bagi Hegar muda. Keterampilan klinis itu ia peroleh selama bertugas di daerah. Lulus pada 1983, ia tak langsung mengambil program dokter spesialis melainkan mengabdi dulu di Puskesmas Sungayang, Provinsi Sumatra Barat. Selesai masa tugas daerah, ia melanjutkan spesialis dokter anak di almamaternya dan meraih gelar spesialis anak pada 1992. Lulus dokter anak, ia langsung Inpres kedua di RSUD Samsuddin, Sukabumi, Jawa Barat, selama setahun. Dokter Hegar menyelesaikan PhD, pada tahun 2011 di Free University Brussels Belgium di bidang motility khususnya gastroesophageal reflux, dan sudah menjadi staf medik divisi gastroenterologi sejak tahun 1995 hingga saat ini.
Suami dari dr. Tantien Nugrohowati, SpKK(K), ini juga seorang yang handal dalam bidang organisasi. Sejak 1996, ia sudah menjabat bendahara di IDAI Cabang Jakarta. Kariernya menanjak dengan pasti hingga menjadi Ketua IDAI Jaya (Cabang Jakarta) periode 2005-2008. Layaknya banyak Ketua Umum IDAI Jaya yang lain, akhirnya langkah ini mengantarnya menjadi Ketua Umum IDAI Pusat menggantikan dr. Sukman Tulus Putra, SpA(K) untuk periode 2008-2011. Melihat dari kronologis tahunnya, ia akan segera mengakhiri masa bakti periode pertama pada 2011. Apakah beliau akan tetap menjabat tiga tahun ke depan atau digantikan orang lain? Kita akan lihat pada KONIKA berikutnya.
Selain praktik setiap hari, mengajar, dan berorganisasi di IDAI, dokter puskesmas teladan saat bertugas di Sumatera barat 1986 ini, juga seorang yang menyukai penelitian. Tak banyak yang mengetahui bahwa penyuka acara-acara TV ini cukup banyak meraih penghargaan di bidang penelitian, di antaranya untuk publikasinya di beberapa jurnal internasional dan Sudjono Djuned Poesponegoro Award yang diberikan untuk penulis terbaik di Majalah Kedokteran Indonesia. Publikasinya sebagian besar di bidangnya sendiri, yaitu gastroenterologi anak. Masalah infeksi, termasuk diare, kerap menjadi fokus tulisannya selama ini. Hegar sangat perhatian terhadap masalah diare pada anak di Indonesia.Diare merupakan penyakit mayor bagi seorang ahli gastroenterologi anak, termasuk Hegar. Penyakit ini
merupakan penyebab kematian yang sangat penting bagi seorang anak. Saat ini, situasi diare di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Hal ini disampaikan oleh Hegar dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI), 26 Maret 2011 lalu, acara yang diselenggarakan oleh AED/C-Change proyek yang didanai USAID, dan kerjasama dengan panitia PDUI. Kematian pada anak yang disebabkan diare masih sangat tinggi, yaitu 42% pada bayi dan 25% pada balita berdasarkan data RISKESDAS 2007. Kematian di daerah-daerah terpencil lebih tinggi lagi karena kesigapan pelayanan kesehatan masih kurang. Kejadian diare pada anak masih tetap tinggi sampai saat ini, dikhawatirkan akan menurunkan usia harapan hidup dan kualitas hidup usia muda di Indonesia secara umum. Dan hal ini tentu akan mempengaruhi pencapaian Indonesia dalam MDG (Millenium Development Goal) terutama pada penurunan kematian anak.
Saat ini kebijakan pemerintah, Kemenkes, dan didukung oleh IDAI menyebutkan bahwa adanya program LINTAS DIARE (lima langkah tuntaskan diare) telah diberlakukan di Indonesia semenjak 2008. Muatan program tersebut ada lima yaitu: pemberian oralit segera, obat zink diberikan 10 hari berturut-turut untuk semua kasus diare (pencegahan diare berulang), teruskan pemberian ASI dan makanan, antibiotik hanya boleh dipakai pada diare berdarah, serta nasihat/edukasi kepada pasien untuk beberapa hal penting terkait penyakit dan penatalaksanaannya.
Pemberian zink sebagai salah satu pilar merupakan hal yang sangat penting, namun belum diketahui oleh sebagian besar dokter umum di Indonesia. Zink sendiri merupakan mineral penting yang akan terganggu penyerapannya pada saat diare. Kekurangan zink dalam tubuh akan mengganggu metabolisme di usus dan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, zink juga mampu menghambat pertumbuhan kolonisasi bakteri di usus. Beberapa percobaan klinis yang penting sudah membuktikan manfaat zink dalam pengobatan diare pada anak.
Bagi Hegar yang juga seorang pembina di PDUI, penatalaksanaan terpadu diare anak menggunakan zink perlu diinformasikan kepada dokter-dokter umum di Indonesia. Dokter-dokter itu merupakan lini pertama (ujung tombak) pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Di sisi lain, kasus diare sangatlah banyak di lapangan. Dengan demikian, sosialisasi tata laksana diare menggunakan lima pilar itu perlu sekali dilaksanakan. Dokter umum memiliki peran yang sangat besar dalam penanganan pasien di lapangan.
Saat ini, ada banyak obat zink yang dijual di pasar farmasi, sampai ke rumah sakit. Pemberian zink rutin dilakukan pada semua pasien diare anak agar dapat menurunkan morbiditas dan mortalitasnya. Hegar yang mengacu pada pilar-pilar Lintas Diare juga mendukung program-program sejenis demi keselamatan anak-anak di Indonesia. Zink diberikan secara oral (tablet dispersible) yang dilarutkan dalam air putih atau ASI selama 30 detik, atau dikunyah bila pasien mampu. Dosis berbeda berdasarkan rentang usia. Satu tablet berisi 20 mg Zink dan tersedia pula dalam bentuk sirup atau sirup kering dalam kemasan sachet. Bersama dukungan pemerintah dan organisasi profesi seperti IDAI dan PDUII, sosialisasi penggunaan zink bersama dengan pemberian oralit pada semua kasus diare pada anak diyakini akan meningkat sehingga diharapkan dapat ikut menekan morbiditas dan mortalitas pada anak karena diare. u (a)







