| Edisi No 06 Vol XXXVII - 2011 - Kolom |
Keluarga dan Pendidikan Kesehatan
Laurentius Aswin Pramono1
Keluarga, tempat nilai-nilai budi pekerti dan agama berawal.
Keluarga, tempat pendidikan kesehatan pertama kali ditanamkan.
Keluarga memberi pendidikan dan keteladanan.
Setiap tanggal 29 Juni, kita memperingati hari keluarga nasional. Dulu, keluarga hanya dipandang sebagai tempat berkumpul anggota keluarga serta menjalankan fungsi reproduksi dan kekerabatan. Zaman telah berubah. Kini, peran keluarga pada pendidikan budi pekerti dan agama banyak didengungkan. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa pendidikan kesehatan pun pertama kali ditanamkan dari keluarga. Selama ini, sekolah dianggap lebih superior untuk mendidik seseorang tentang hidup sehat. Benarkah demikian? Marilah kita ungkap faktanya.
Sejak pertama kali seseorang belajar mengenal lingkungan, ia akan terpapar dengan dasar-dasar kebersihan. Seorang
bayi yang baru bersentuhan dengan benda-benda di sekitarnya akan mendapat teguran dari sang ibu: “Jangan pegang itu, itu kotor” atau “Jangan bermain tanah, banyak kuman”. Meskipun tidak semua larangan akhirnya ditaati oleh sang anak, pemahaman dasar mengenai barang-barang yang kotor sudah melekat pada dirinya. Di saat itulah ia pertama kali belajar mendeterminasi kebersihan dari lingkungan sekitarnya.
Sudah pasti kita semua pernah ditegur: ”Ayo mandi supaya bersih, setelah itu makan atau tidur” atau imbauan “Gosok gigi dua kali sehari” bukan semata iklan pasta gigi di televisi. Ibu atau ayah merupakan figur yang sangat penting menanamkan kebiasaan ini pada diri kita. Jadi teringat iklan pasta gigi di televisi yang dengan lucu menggambarkan kedekatan ayah dan anak laki-lakinya dalam rangka memotivasi sang anak untuk menggosok giginya sebelum tidur. Sederhana tapi jelas pesannya. Itulah makna pendidikan ke-sehatan dalam sebuah keluarga.
Masih banyak kebiasaan hidup sehat lain yang biasa ditanamkan sejak dini seperti “Jangan jajan sembarangan, nanti sakit perut”, atau “Buanglah sampah pada tempatnya”, atau “Cucilah tangan sebelum makan”. Nyata bukan, dalam keluargalah semuanya berasal? Mungkin kita tak pernah menyadarinya selama ini.Ada dua contoh lain pendidikan kesehatan yang menarik untuk diungkap, yaitu kebiasaan makan sayur dan berolah raga teratur. Uniknya, kedua hal ini tidak diperoleh di luar keluarga, misalnya di sekolah, meskipun ada mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. Kebiasaan makan sayur dan berolah raga tidak saja diucap oleh ayah atau ibu, tapi harus dicontohkan agar melekat pada diri anak-anaknya. Ini yang disebut sebagai keteladanan yang membiasakan. Percuma menyuruh anak rajin olah raga bila sang ayah atau ibu juga tidak membiasakan olah raga di keluarganya. Kebetulan pengalaman saya sendiri bisa menjadi contoh. Keluarga ibu saya sangat gemar olah raga renang, sampai-sampai salah satu bibi saya sering mengikuti kejuaraan nasional renang zaman kuda gigit besi. Ibu saya pun gemar renang. Kebiasaan itu akhirnya menular pada diri saya sejak kecil hingga sekarang.
Tanpa peran ayah dan ibu, sudah pasti kebiasaan hidup sehat tidak akan dimulai tepat pada waktunya. Terlambat bila hal tersebut harus menunggu kelompok bermain atau taman kanak-kanak. Apalagi, sekolah juga tidak secara intensif mengawasi semua kegiatan anak-anak. Sebagian besar waktu anak ada di rumah bersama ayah dan ibunya. Kakak atau kakek/nenek juga bisa menjadi figur lain yang mendidik untuk hidup sehat. Prinsip-prinsip pendidikan kesehatan dalam keluarga bersifat abadi, tidak berubah oleh kemajuan zaman, hanya sedikit berkembang mengikuti penemuan-penemuan dan kultur masyarakat modern.
Beranjak remaja, orang tua perlu menanamkan pendidikan seks dasar kepada anak-anaknya. Kesehatan reproduksi juga perlu diberikan secara sederhana, cerdas, mendidik, tapi tidak menggurui atau menyalahkan. Seorang ibu merupakan figur paling penting bagi anak gadisnya untuk menimba ilmu tentang masa pubertas di mana ada lonjakan-lonjakan hormon reproduksi yang mengatur perubahan seks sekunder dan menstruasi. Pendidikan seks juga memuat nilai-nilai moral, terutama ketika menyangkut pacaran, larangan berhubungan seksual sebelum menikah, dan IMS (infeksi menular seksual).
Pada masa remaja, pergaulan yang sehat merupakan bagian dari kesehatan jiwa. Orang tua memiliki peran sentral menjaga pergaulan anak di jalan yang benar, supaya anak berkembang dengan semua potensinya (olah raga, seni, sastra, akademis, kepemimpinan), serta menjauhkan sang anak dari bahaya narkoba. Saya pribadi sangat setuju dengan pendapat bahwa kesalahan orang tua bila anak-anaknya sampai terjerumus narkoba dan seks bebas. Pencegahan pergaulan hidup tidak sehat bermula dari keluarga sebab kesehatan mental dan pergaulan anak sangat berhubungan. Orang tua yang selalu memotivasi anaknya dalam kompetisi sehat, pengembangan bakat, serta penentuan visi dan misi hidup adalah orang tua ideal yang mendidik kesehatan jiwa sang anak.
Keluarga dan kesehatan tak pernah bisa dilepaskan satu sama lain. Kebiasaan hidup bersih dan sehat secara fisik dan mental adalah tanggung jawab keluarga, atau bila harus menyebut oknum: orang tua atau anggota keluarga lain (bisa kakak, nenek, kakek, paman, atau bibi). Pandangan kuno “lebih baik merawat anak-anak sendiri daripada diserahkan total kepada babysitter” memang benar adanya, meskipun tidak semua anak hasil asuhan babysitter buruk akhlak dan kesehatannya.
Kembali ke peringatan tanggal 29 Juni, kita sebagai tenaga medis dan bagian dari keluarga yang memiliki anak-anak, kakak, adik, atau orang tua, harus menyadari nilai-nilai kesehatan yang telah keluarga tanamkan selama ini. Kita yang dididik dengan baik, marilah mendidik juga dengan baik. Keluarga, unit populasi terkecil dalam sebuah negara, merupakan tempat semua hal baik berawal, termasuk kesehatan. Keluarga yang sehat menciptakan masyarakat yang sehat. Masyarakat yang sehat akan menciptakan bangsa dan negara yang sehat.
1 Magister Epidemiologi, Universitas Indonesia; Residen Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM







