Banner
Translate
Edisi No 06 Vol XXXVII - 2011 - Studi Kasus

Gangguan Fobia Sosial pada Individu Dengan Gangguan Kepribadian Cemas Menghindar

 

ELLY INGKIRIWANG

Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana.

 

Pendahuluan

Fobia sosial adalah suatu diagnosis yang termasuk dalam gangguan cemas. Prevalensinya di populasi umum sekitar 3-13%. Pada penelitian epidemiologis, kondisi ini lebih sering dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki walaupun pengamatan secara klinis yang terjadi adalah kebalikan­nya. Kondisi ini sering dihubungkan dengan keadaan psikologis masa kecil pasien yang mengalami inhibisi perilaku karena kondi­si orang tua yang juga mengalami gangguan cemas, terutama gangguan panik. Kepribadian yang pemalu dan sulit bergaul pada masa kanak adalah salah satu hal yang paling sering ditemukan selain peran orang tua yang terlalu melindungi dalam pergaulan sosial.1,2 Di bawah ini akan dibahas suatu kasu­s gangguan fobia sosial pada pasien denga­n gangguan kepribadian cemas menghindar.

 

Ilustrasi Kasus

Pasien laki-laki, 21 tahun, pendidikan tamat SMA, suku Sunda, Islam, belum menikah, tinggal di rumah orang tua di Bekasi. Pasien datang ke dengan keluhan sakit kepala belakang yang dirasakan semakin lama semakin mengganggu sejak dua tahun  yang lalu. Pasien merasa tidak enak, kepala sakit, berkunang-kunang apabila henda­k menemui orang baru. Sejak tiga bulan ini, pasien juga merasa tidak enak apabila hendak bertemu dengan teman-temannya yang selama seminggu atau lebih tidak dijum­pai. Pasien menghindari pertemuan dengan teman-temannya karena merasa minder dan tidak enak.

Sejak lima tahun yang lalu, pasien akan merasa berdebar-debar, telapak tangan dan kaki keringatan, kepala pusing, hidung tersumbat, perut nyeri, apabila pasien merasa tegang, takut, ketika akan menghadapi ujian, berbicara di depan umum, atau dipanggil naman­ya di sekolah. Pasien juga sering memikirkan peristiwa yang sudah terjadi, misalnya pertemuan dengan gurunya ataupun ujian yang sudah berlalu. Pasien mengingat kembali apa yang telah ia katakan dan menduga-duga apa pendapat guru tentan­g dirinya.

Pasien tidak pernah menggunakan zat psikoaktif. Sejak lima tahun yang lalu, pasien sudah merasa cemas apabila hendak tampil di depan teman-temannya.

Dari riwayat kehidupan pribadi didapat­kan pasien seorang anak yang pendiam dan pemalu, biarpun cukup senang bergaul denga­n teman-temannya. Pasien pernah tidak naik kelas sewaktu di Sekolah Dasar. Pada waktu SMP, pasien dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Pasien menjadi cadanga­n ketiga pada waktu masuk SMA negeri, dan akhirnya bisa masuk sekolah negeri yang diinginkannya setelah ada yang mengundurkan diri. Setelah masuk bagian IPA, di tahun ketiga pasien mulai merasa kesulit­an dalam pelajaran, terutama pelajaran matematika. Pasien pernah bekerja sebagai desain pelaminan selama beberapa bulan. Selama dua tahun berturut-turut, pasien kerja magang di Jasa Marga, sebagai penjaga gerbang tol pada saat lebaran. Pasien termasuk orang yang taat beragama. Pasien belum pernah berpacaran.

Dari status mental didapatkan  seorang laki-laki, sesuai usia, penampilan cukup rapi. Aktivitas psikomotor agak gelisah, sering memperbaiki posisi duduk, menggoyang-goyangkan kaki, kooperatif terhadap pemeriksa. Pasien berbicara spontan, lancar, dengan intonasi yang sesuai. Mood cemas, afek cukup luas, serasi dan dapat dirabarasa­kan. Tidak ditemukan gangguan persepsi. Isi pikir preokupasi tentang kekuatiran timbulnya sakit kepala apabila bertemu dengan orang baru, merasa takut dan tidak percaya diri. Kesadaran dan kognisi baik. Tilikan baik, serta dapat dipercaya. Tidak ditemukan kelainan fisik dan di bidang neurologis ditemu­kan tension headache.   

Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.

 

 

 
Banner