Banner
Translate
Edisi No 06 Vol XXXVII - 2011 - Editorial

Pestisida yang Berbahaya, tetapi Perlu

 

Editorial Juni 20011 yang Anda baca ini, kami nukil dari artik­el konsep berjudul ”Ancaman Kesehatan dari  Residu  Pestisida” oleh Mukhlis Akhadi, Peneliti Utama di Badan Tenaga Nuklir Nasional, Jakarta, untuk mengingatkan salah satu tragedi kemanusiaan paling dahsyat di dunia.

Tragedi ini bermula dari pengumuman rencana perusahaan multinasional Amerika Serikat (AS) Union Carbide, yang berpusat di Virginia Barat untuk membangun pabrik kimia di kawasan Bhopal, yang akan menyerap 800 tenaga kerja lokal. Berita tersebut tentu disambut gembira oleh penduduk di wilayah miskin ibu kota Negara Bagian Madhya Pradesh, India. Pabrik mulai dibangun pada 1969 dan mulai berproduksi pada 1979. Penduduk kota yang malang itu tentu tidak pernah membayangkan bahwa kehadir­an pabrik tersebut akan berujung pada sebuah tragedi kemanusiaa­n yang sangat memilukan. Dini hari, 3 Desember 1984, sekitar pukul 01.00 waktu setempat, ketika sebagian besar penduduk terlelap tidur, tangk­i penyimpan gas methyl isocyanate (MIC) dan gas kimia lain boco­r. Sekitar 40 ton racun bahan dasar pestisida terlepas dan mencemari lingkungan di kawasan seluas 40 kilometer per­segi. Pagi harinya, ratusan jasad manusia tidak bernyawa ditemukan berserakan di sepanjang jalan di sekitar pabrik. Dikabarkan 1.750 penduduk tewas seketika, dan 2.500 lainnya meninggal sepekan setelah kecelakaan. Berbagai kota sekitar Bhopal melapor­kan 10 sampai 15 orang meninggal setiap minggu.  Racun yang sangat persisten di lingkungan itu terus meminta korban jiwa. Sekitar 10.000 orang yang lain menyusul meningg­al dunia. Pihak otoritas mengklaim  sekitar 15.000 kor­ba­n meninggal dunia, sementara para aktivis memperkirakan korban tewas mencapai 33.000 orang. Dalam laporan berjudul Clouds of Injustice, Amnesti Internasional menyebutkan 7.000 hingga 10.000 orang meninggal dunia dalam tiga hari pertama musibah, dan setahun kemudian korban bertambah 15.000 orang. Sementara, Bhopal Peoples Health and Documentation Clinic (BPHDC) mengklaim angka kematian 8.000 orang, dan lebih dari 500.000 orang terluka akibat terpaan racun MIC pada saat dan sesudah kecelakaan. Sebanyak 155.203 penduduk yang tidak luka perlu mendapat pemeriksaan medis.1 Jumlah pasti korban keracunan bahan pestisida tidak diketahui. Banyak korban yang tidak meninggal membutuhkan perawatan seumu­r hidup karena cacat permanen. Gas beracun yang terlepas ke lingkungan berdampak jangka panjang. Pasca-tragedi, banyak anak yang lahir mengalami keterbelakangan mental. Pada 7 Desember 1984, polisi India menahan pemimpin tertinggi Union Carbide Warren Anderson, Chairman Keshav Mahendra, dan direktur pelaksana BP Dokhale. Namun, Warren Anderson dibebaskan dan diminta meninggalkan India setelah membayar jaminan 25.000 Rupe. Pihak Union Carbide dituntut ganti rugi 15 milyar dollar AS oleh para korban. Akhir 1985, pengadilan di Connecticut memerintahkan Union Carbide membayar ganti rugi lima juta dollar AS kepada korban cacat yang selamat dan sanak keluarga korban yang tewas. Proses pem­bayaran ganti rugi berjalan alot. Pada 23 Maret 1986, Union Carbide Corp menyetujui tuntutan ganti rugi yang di­aju­ka­n penduduk Bhopal yang berjumlah 350 juta dollar AS (sekita­r Rp 350 milyar), jauh lebih rendah dari tuntutan pemerintah India yang hampir satu milyar dollar AS (sekitar Rp 1 triliun). Hingga Desember 1994, ratusan ribu warga kota Bhopal masih menunggu ganti rugi yang dijanjikan. Dari sekitar 600.000 korban, termasuk 7.000 jiwa saudara korban yang meninggal, baru sekita­r 120.000 yang telah menerima ganti rugi.

Sekitar 20 tahun pasca-tragedi Bhopal, pada 19 Juli 2004, Mahkamah Agung India memerintahkan Bank Sentral membaya­r sekitar Rp 3 triliun kepada para korban. Pada 28 Maret 2008, sekitar 50 korban tragedi Bhopal tiba di New Delhi setelah menempuh perjalanan 800 kilometer selama 37 hari untuk memohon pembersihan lingkungan tinggal dari sisa racun pestisida. Hingga kini, 25 tahun lebih pasca-kecelakaan, lahan sekitar lokasi kecelakaan masih beracun. Studi oleh para pakar lingkungan hidup menemukan sisa racun masih berpotensi meracuni sumber air ribuan penduduk kota Bhopal. Sunita Narain, Direktur Centre for Science and Environment, lembaga thingk-tank yang bermarkas di New Delhi, menyata­kan lokasi pabrik dan sekitarnya masih terkontaminasi pestisida kadar tinggi yang ditemukan dalam air dan lahan di sekitar pabrik. Sampai jarak 3 kilometer dari pabrik, pestisida masih melekat kuat pada komponen lingkungan dan mengancam penduduk. Sekitar 100.000 penduduk mengidap penyakit akiba­t keracunan dan terus menderita karena kontaminasi racun yang tak kunjung dibersihkan. Penyakit yang dialami pendud­uk Bhopal bervariasi, mulai dari kanker, kebutaan, kesul­itan bernafas, kehilangan kekebalan tubuh, gangguan saraf, kemandulan, dan cacat lahir.

Tragedi Bhopal menjadi pelajaran yang sangat berharga. Pestisida di lingkungan berpotensi mengancam kehidupan. Asupan pestisida dapat berakibat kematian seketika atau mengganggu fungsi organ yang mengganggu kesehatan, tergantung dosis pestisida. Kini, pestisida menjadi bagian penting kehidupan umat manusia untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan menjamin suplai makanan. Pencemaran pestisida di lingkungan dan pada bahan makanan dapat memicu gangguan kehidupan umat manusia. Diperkirakan sekitar 100-250 kejadian kanker per tahun akibat pemakaian aneka pestisid­a.  Paling tidak, 67 dari sekitar  300 jenis pestisida yang digunakan pada tanaman pangan dapat menyebabkan kanker dalam satu atau lebih hewan percobaan. Pemerintah Federal di AS melarang pemakaian sejumlah pestisida karena meng­kha­watirkan dampak pada kesehatan. Namun, berbagai pestisida itu tetap diproduksi di AS dan dikonsumsi oleh negara-negara lain yang belum mengatur masalah tersebut. Berbagai negara dunia ketiga tidak mempunyai cukup dana dan terancam bahaya kelaparan, sehingga tidak punya banyak pilihan. Mereka menjadi pasar berproduk pestidida yang di negeri asalnya sudah dilarang beredar. (Nasrin Kodim)

 
Banner