| Edisi No 03 Vol XXXVI - 2011 - Studi Kasus |
Akne Steroid
ANDRY YOSHUA , EDDY KARTA *
*Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Pendahuluan
Hanya sedikit laporan kasus mengenai akne akibat konsumsi kortikosteroid oral dari semua pasien yang datang dengan keluhan penyakit kulit. Hal ini sangat mungkin terjadi karena diagnosis akne steroid dikaburkan dengan malassezia folikulitis. Hal ini terjadi karena gambaran morfologisnya sangat serupa sehingga mengakibatkan kegagalan terapi.1,2
Akne steroid dapat pula dianggap sebagai penyakit akne vulgaris dengan akibat kurang holistiknya pengobatan dan pendidikan kesehatan yang diberikan kepada pasien.1
Diperkirakan, angka kejadian akne steroid sejalan dengan efek samping lazim dari penggunaan kortikosteroid oral lainnya. Hanya saja, dapat terjadi dalam waktu yang relatif lebih singkat, yaitu hanya dua minggu setelah penggunaan kortikosteroid oral.3 Kortikosteroid oral terindikasi digunakan cukup luas, meliputi penyakit yang mencakup sistem adrenal, disregulasi imun, rematik, ginjal, asma, alergi, kulit, mata, gastrointestinal, hepar, keganasan, edema serebral, transplantasi organ, dan beberapa penyakit infeksi.4 Selain itu, penggunaan kortikosteroid oral dalam regimen pengobatan penahan sakit, bahkan regimen pengobatan batuk-pilek umum, juga marak.5 Oleh karena itu, layak diduga prevalensi penyakit akne akibat kortikosteroid oral ini cukup tinggi.
Kasus ini diangkat untuk membuat praktisi kesehatan familiar dengan jenis erupsi akneiformis akibat zat kimia, khususnya yang disebabkan oleh golongan obat kortikosteroid, mampu membedakannya dari bentuk-bentuk penyakit infeksi, dan akne vulgaris melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik sehingga dapat melakukan penatalaksanaan yang tepat dan mengevaluasi lebih lanjut penggunaan kortikosteroid pada pasien.
Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.







