| Edisi No 02 Vol XXXVI - 2011 - Studi Kasus |
Pendekatan Terapi Farmakologi pada Gangguan Gerak
YUDA TURANA*, SHEILA AGUSTINI**, GEORGE DEWANTO*
*Departemen Neurologi FK Unika Atma Jaya
** PPDS Departemen Neurologi FKUI / RSUPN-CM
Pendahuluan
Gangguan gerak merupakan gangguan saraf yang seringkali dihadapi oleh seorang neurologis dalam praktik sehari-hari. Pendekatan terapi pada gangguan gerak telah banyak mengalami perubahan selama 15 tahun terakhir dengan berbagai macam terapi yang secara dramatis meningkatkan kualitas hidup pasien. Secara garis besar, gangguan gerak dibagi menjadi 2, yaitu hipokinesia dan hiperkinesia. Gejala hipokinesia: secara tipikal dapat dilihat pada penyakit Parkinson dan gejala hiperkinesia dapat dilihat pada khorea, mioklonus, tremor, distonia, tiks, dsb.Pada tulisan ini, penulis akan membahas mengenai pendekatan praktis terapi farmakologi Penyakit Parkinson (PP) dan beberapa gangguan gerak lainnya. Penulis tidak membahas mengenai penelitian potensi neuroprotektif beberapa obat, karena belum terbukti efektivitasnya.
Penyakit Parkinson
Terapi farmakologi PP tidak banyak mengalami perubahan sejak ditemukannya L-Dopa sebagai terapi utama pada awal 1960. Sampai saat ini terapi PP masih bersifat menghilangkan gejala dan belum ada satu pun obat yang dapat memperlambat progesivitas penyakit.1,2,3,4 Diskusi awal para ahli adalah mengenai pro- kontra- efek terapi jangka panjang L-Dopa dan progresivitas penyakit. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar adanya Agonis Dopamin yang mempunyai t 1/2 lebih lama. Setelah fase ini, timbul diskusi mengenai pilihan terapi pada fase awal, L-Dopa atau Agonis Dopamin? Juga kombinasi terbaik apa yang harus diberikan pada perjalanan PP.4 Saat ini, fokus PP juga pada aspek non-motor (seperti depresi, gangguan otonom, dan gangguan kognitif ), karena aspek ini sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien.4,5







