| Edisi No 07 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan |
Aktivitas Cistus incanus Sebagai Anti Influenza

Pandemik virus A H1N1 telah menakutkan penduduk dunia. Ratusan kasus dan sejumlah kematian telah merebak pada Maret dan April 2009 lalu di Meksiko. Sejak saat itu, penyakit yang disebabkan virus A H1N1 tersebut telah menyebar ke seluruh dunia. Virus A H1N1 awalnya berjangkit pada babi. Transfer genetik terjadi pada manusia. Kasus pada manusia pertama kali terdeteksi di California Selatan dan Texas pada pertengahan Februari 2009.
“Di seluruh dunia telah terjadi kejadian luar biasa virus A H1N1. Pada 25 Mei 2009, secara laboratorium tercatat 12.515 kasus dan 91 kematian secara global akibat virus A H1N1. Ini meresahkan masyarakat,” papar Dr. Mulyadi Tedjapranata, MD
dalam simposium “Current of Hope Your Body Defence with Aviter”, yang diselenggarakan atas kerja sama PT. Interbat dengan Rumah Sakit Immanuel Bandung, 27 Mei 2009. “Mortalitas dan morbiditas yang diakibatkan flu ini sangat besar. Belum lagi kita menghitung dampak keresahan pada masyarakat, tak terkecuali Indonesia” tambah Tedjapranata apa adanya.
Meskipun saat ini belum ada kasus virus A H1N1 yang sudah terkonfirmasi laboratorium di Indonesia, peluang penyebaran tetap besar mengingat perjalanan internasional yang sangat mudah. “Selain itu, kita perlu memperhitungkan ‘antigenic shift’ virus antara hewan dan manusia. Perubahan struktur genetik menyebabkan virus sulit dilumpuhkan,” ungkap Tedjapranata. “Babi merupakan kandidat hewan yang mampu mengubah struktur virus sehingga dapat berpindah dan menyerang manusia,” jelasnya lagi.
Virus A H1N1 menular melalui kontak udara (droplet) dan memiliki masa inkubasi selama 1-7 hari. Apabila sudah berjangkit pada manusia, gejala yang ditimbulkannya cukup berat, tidak sama dengan influenza biasa. Penderita akan demam tinggi, gejala influenza, sakit kepala, pegal linu, menggigil, kelelahan, diare, dan muntah. Setelah hari kelima, terjadi gejala saluran napas bawah, yaitu sesak napas, napas cepat, dan batuk yang produktif. Kecurigaan bisa diarahkan bila penderita sempat berkontak dengan babi (peliharaan atau di peternakan). Pada anak-anak, gejala ditambah dengan iritabilitas, tanda dehidrasi, dan sesak napas yang sangat berat.
Pada pemeriksaan laboratorium bisa ditemukan leukopenia, limfopenia, trombositopenia, peningkatan ALT dan AST, serta penurunan rasio CD4/CD8. Pemeriksaan lain yang sangat mengarahkan adalah foto radiologi dada (foto rontgen thoraks). Kematian biasanya ditemukan pada 2,7% penderita. Sebagian besar kematian disebabkan oleh gagal napas yang berat.
“Pengobatan merupakan kompetensi dokter dan dokter spesialis. Selain terapi simtomatik antipiretik, analgesik, terapi cairan untuk mencegah dehidrasi, terapi oksigen, dan antibiotik, perlu dipikirkan beberapa antivirus yang ampuh seperti amantadine, oseltamivir, dan zanamivir,” jelas Tedjapranata. Namun, menurut Tedjapranata, pencegahan merupakan langkah terbaik dalam menurunkan insidens, morbiditas, dan mortalitas.
Mengenai vaksinasi influenza virus A H1N1, Tedjapranata berujar, “Kita boleh berharap pada vaksin bila antigennya sama. Masalahnya, vaksin yang beredar saat ini untuk flu musiman H1N1 tidak efektif untuk mencegah tipe virus A H1N1. Secara antigen, keduanya berbeda. Untuk itu, efektivitas virus masih kurang baik saat ini.” Terakhir, karena influenza merupakan penyakit virus maka cara yang bagus untuk melawan virus A H1N1 adalah meningkatkan daya tahan tubuh.
Salah satu jenis tumbuhan yang ditemukan mampu menjadi imunomodulator dan anti virus yang efektif bagi peningkatan daya tahan tubuh adalah Cistus incanus. “Tumbuhan ini berasal dari Yunani dan Turki, kandungan polifenolnya tinggi,” ungkap Dr. Cem Aydogan, PhD, dari Frutarom Switzerland, Swiss, pada kesempatan yang sama. Aydogan mengakui bahwa produk yang dipresentasikannya memang cocok untuk melawan pandemik virus A H1N1 di seluruh dunia.
Kelebihan tumbuhan Cistus incanus adalah sebagai antioksidan dan anti inflamasi, yang ditunjukkan dalam sejumlah penelitian in vitro pada mencit. Efek imunomodulator dan anti virus ditunjukkan pada sejumlah penelitian yang dipublikasikan secara internasional. Tumbuhan ini mampu meningkatkan IgA saliva pada pemberian setelah 6 minggu. Sementara, efek anti mikroba ditunjukkan pada bakteri Gram positif, negatif, dan jamur.
Efek lain yang paling penting adalah sebagai anti virus. Efek ini disebabkan kandungan polifenolnya yang tinggi sehingga mampu mengatasi infeksi virus. Dari beberapa tipe dan produk Cistus incanus, produk EFLA 717 memiliki kandungan polifenol tertinggi (75%). Kandungan yang tinggi ini sejalan dengan khasiatnya sebagai imunomodulator dan anti virus yang baik dalam mengatasi infeksi virus A H1N1. PT Interbat meluncurkan produk baru Aviter dengan salah satu kandungannya adalah Cistus incanus, yang selain berfungsi meningkatkan imunitas tubuh juga mampu mengatasi infeksi bakteri dan virus. (Aswin)







