| Edisi No 11 Vol XXXVI - 2010 - Studi Kasus |
Systemic Lupus Erythematosus dengan Splenomegali
ANIK WIDIJANTI, RAHADIANTO
Laboratorium Patologi Klinik RS Daerah Dr. Saiful Anwar/FK
UNIBRAW, Malang.
Pendahuluan
SLE (Systemic Lupus Erithematosus) merupakan penyakit otoimun di mana organ atau jaringan rusak akibat adanya otoantibodi dan imun kompleks, dengan manifestasi klinis yang sangat luas. Penyakit rematik otoimun meliputi: SLE, rheumatoid arthritis (RA), progressive systemic sclerosis (PSS) atau systemic scleroderma, polymyositis (PM), dermatomyositis (DM), dan sjogren´s syndrome (SS), yang merupakan penyakit jaringan ikat (CTDs). Sebanyak 90% penderita SLE adalah wanita usia subur, meskipun terjadi pada kedua jenis kelamin. Semua usia dan semua etnik dapat menjadi kelompok yang suseptibel. Prevalensi SLE di US (United States) sebesar 15-50 per 100.000. Prevalensi lebih tinggi terdapat pada etnik Afrika-Amirika. SLE terutama menyerang wanita muda berusia 15-44 tahun dengan rasio laki-laki : wanita adalah 1 : 5. Mekanisme patogenik SLE adalah adanya interaksi antara suseptibilitas genetik dengan lingkungan yang dapat menimbulkan respons imun abnormal. Jadi, antigen self, oto-antibodi, dan kompleks imun yang ada dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan inflamasi jaringan sehingga berkembang menjadi penyakit. Berbagai alele gen bertanggung jawab terhadap suseptibilitas penyakit dengan mempengaruhi klirens dari sel apoptotik. Namun, tak ada hipotesis yang pasti mengenai patogenesis SLE. Wanita yang mendapatkan estrogen dari penggunaan kontrasepsi dapat meningkatkan risiko terjadinya SLE. Berbagai rangsangan dari lingkungan dapat mempengaruhi SLE, ekspos dengan sinar ultraviolet menyebabkan flare pada 70% kasus SLE, juga berbagai virus misalnya Ebstein Barr virus (EBV) dapat menjadi pencetus terjadinya SLE pada individu yang suseptibel.1,2Diagnosis SLE ditegakkan dari gejala klinis dan adanya otoantibodi, yaitu didapatkannya 4 dari 11 kriteria ARA (Amirican College of Rhematology 1997 yang dikembangkan pada 2006). Adapun kriterianya adalah: malar rash, discoid rash, photsensitivity, oral ulcers, artritis, serositis, kelainan ginjal, kelainan neurologik, kelainan hematologi, kelainan imunologi, serta antibodi antinuklear (ANA tes).1,4
Splenomegaly berhubungan dengan berbagai penyakit, antara lain leukemia mielositik kronik, limfoma, hairy cell leukemia, myelofibrosis with myeloid metaplasia, penyakit mieloproliferatif seperti polisitemia vera, penyakit Gaucher’s, leukemia limfositik kronik, sarkoidosis, anemia hemolitik otoimun (AIHA), diffuse splenic hemangiomas, hemoglobinopathy, sferositosis, infeksi malaria, penyakit hati (sirosis), amiloidosis, reaksi obat, tirotoksikosis, infeksius mononukleosis, dan lain-lain.5 Splenomegali terdapat juga pada 15% dari SLE, sedangkan AIHA terdapat pada 10% SLE. Trombositopenia terjadi pada 15%, sedangkan anemia terjadi pada 70% SLE.1,5
Artikel lengkap khusus PELANGGAN, silahkan Login di BERANDA.







