steroids
Banner
Translate
Edisi No 09 Vol XXXV - 2009 - Kegiatan

Peran Obat-obatan dalam Mencegah Komplikasi Kardiovaskular pada Pasien Diabetes

0909-70Salah satu komplikasi kronik diabetes yang dapat terjadi adalah komplikasi kardiovaskular. Bahkan, sebagian besar pasien diabetes meninggal akibat komplikasi tersebut. Dalam seminar Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu Penyakit Dalam (PIT IPD) yang berlangsung pada 24-26 Juli 2009 di hotel Sahid Jaya, Jakarta, topik tersebut dibahas.

Dalam acara tersebut, Prof. Dr. Slamet Suyono, Sp.PD-KEMD memaparkan tentang hubungan antara kontrol glikemik dengan risiko kardiovaskular berdasarkan hasil penelitian. Pada studi ACCORD yang dilakukan terhadap 10.251 partisipan risiko tinggi diabetes tipe 2, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mendapat tata laksana intensif dengan target kadar HbA1c <6% dan kelompok kedua mendapat tata laksana standar dengan target kadar HbA1c 7-7,9%. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok intensif terjadi peningkatan mortalitas serta penurunan kejadian infark miokard yang tidak fatal.

Berbeda dengan studi ACCORD, studi ADVANCE dilakukan terhadap 12.877 pasien diabetes tipe 2. Pada kelompok standar yang mendapat glibenklamid, target kadar HbA1c adalah 7,3%. Sedangkan pada kelompok intensif yang mendapat gliklazid MR (Diamicron MR), kadar HbA1c sebesar 6,5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kontrol glukosa intensif dengan kadar HbA1c 6,5% dapat mencegah komplikasi mikro dan makrovaskular sebesar 10%, kejadian atau perburukan nefropati sebesar 21%, serta kematian kardiovaskular sampai 12%.

Salah satu komplikasi kardiovaskular yang berhubungan dengan diabetes adalah penyakit jantung koroner. Dalam kuliahnya di acara PIT IPD ini, Prof. DR. Dr. Teguh Santoso, Sp.PD-KKV menjelaskan bahwa tujuan tata laksana angina pektoris stabil (APS) adalah memperbaiki prognosis dan mengurangi gejala. Mengurangi gejala dapat dilakukan dengan memberikan obat antiangina dan revaskularisasi.

Obat antiangina bekerja dengan mengubah hemodinamik, yaitu mengurangi denyut jantung, vasodilatasi koroner, dan sebagai inotropik negatif. Selain itu, dapat pula memperbaiki kebutuhan serta asupan oksigen miokard. Terapi metabolik untuk APS terdiri dari modulator metabolisme spesifik dan nonspesifik. Salah satu modulator metabolisme spesifik adalah trimetazidin (Trizedon MR) yang merupakan agen antiangina spesifik yang efektif. Obat ini bekerja dengan menurunkan produksi laktat, mengurangi produksi kalsium, serta meningkatkan produksi ATP dengan konsumsi oksigen yang lebih sedikit.

Berkaitan dengan komplikasi kardiovaskular yang mungkin terjadi pada pasien diabetes, dibutuhkan pula obat yang dapat memproteksi. Kali ini, DR. Dr. Idrus Alwi, Sp.PD-KKV menjelaskan tentang peran ACE-I dalam memproteksi kardiovaskular. Penelitian klinis telah membuktikan manfaat ACE-I pada kelompok pasien dengan risiko kejadian kardiovaskular. Tidak hanya sebagai obat antihipertensi, ACE-I juga berperan dalam mencegah gagal jantung, pasca-infark miokard, penyakit jantung koroner risiko tinggi, diabetes, penyakit ginjal kronik, dan mencegah stroke rekuren.

Perindopril (Bioprexum), salah satu ACE-I, dapat diberikan pada pasien hipertensi yang baru didiagnosis atau mereka yang tekanan darahnya tidak terkontrol dengan terapi sebelumnya. Perindopril memiliki waktu paruh yang paling lama dibandingkan ACE-I lain, yaitu 30-120 jam, sehingga dapat mengontrol tekanan darah selama 24 jam dan cukup diberikan sekali sehari. Jika tekanan darah belum terkontrol dengan satu macam obat maka dapat diberikan obat kombinasi. Sebagai contoh adalah kombinasi perindopril 5 mg dengan indapamid 1,25 mg (Bioprexum Plus). Bila dibandingkan dengan hidroklorotiazid (HCT), indapamid memiliki keunggulan. Indapamid bekerja maksimal pada otot polos vaskular, sementara HCT hanya minimal. Selain itu, kerja ginjal pun minimal pada penggunaan indapamid. Pengaruh lain pada ginjal adalah diuresis, natriuresis, dan kaliuresis yang minimal serta jarang menyebabkan hipokalemia yang signifikan.

Mourad J.J. kemudian melakukan studi STRATHE (2004) untuk membandingkan efektivitas valsartan dengan kombinasi HCT, pengobatan sekuensial (atenolol, valsartan, kemudian amlodipin), dan Bioprexum Plus. Hasilnya menunjukkan bahwa Bioprexum Plus mampu menurunkan tekanan darah sistolik paling besar, yaitu 26,6 mmHg. Selain itu, didapatkan normalisasi tekanan darah pada 62% pasien.

Pada studi ADVANCE Collaborative Group (2007) terhadap pasien diabetes dengan hipertensi, obat tersebut juga terbukti dapat menurunkan mortalitas sebesar 14% jika dibandingkan dengan plasebo (p=0,025). Bahkan, berbagai penelitian lain menunjukkan manfaat Bioprexum Plus bagi organ tubuh lainnya. Pada studi PROGRESS, Bioprexum Plus terbukti dapat mengurangi kejadian stroke rekuren sebesar 43%. Pada studi ADVANCE, obat tersebut terbukti mampu menurunkan angka kematian akibat kardiovaskular sebesar 18% serta angka kejadian gangguan ginjal sebesar 21%. Sementara itu, studi EUROPA dan HYVET memberikan hasil lain, yaitu berturut-turut berupa penurunan kejadian infark miokard sebesar 24% dan lama perawatan di rumah sakit karena gagal jantung sebesar 64%. (Resultanti)
 
Banner
Banner
http://truberx.com/?search=xnxx&x=0&y=0 red tube porn order dapoxetine
hamster porn price jelly HQ PORN X mature porn movies XXX daredorm