Sekadar mengingat kembali, pada Mei 2015 lalu, MEDIKA telah meluncurkan Rubrik Baru. Rubrik ini merupakan hasil kerjasama MEDIKA dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dalam menyelenggarakan Program Pengembangan Kedokteran Berkelanjutan (P2KB).

Dalam rubrik ini, kami memberikan sepuluh soal sekaligus lembar jawaban. Bagi sejawat yang mampu menjawab minimal 70 persen jawaban dengan benar maka sejawat berhak mendapat dua Satuan Kredit Partisipasi (2SKP) dari PB IDI. Program ini menjadi wujud nyata sumbangsih MEDIKA dalam ikut memajukan dunia kedokteran di Indonesia karena dengan program ini diharapkan para dokter bisa memperbarui ilmunya. 

Kini, setelah Rubrik CME kami luncurkan, MEDIKA kembali ingin memberikan sumbang­sih kepada dunia kedokteran di Indonesia dengan meluncurkan Rubrik Baru bernama “Penyegar Kompetensi”. Dalam rubrik ini akan dimuat materi tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Primer secara berseri pada setiap edisi. Materi kami ambil dari buku aslinya berjudul Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Primer yang diterbitkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Rubrik ini menjadi rangkaian kesinambungan dari rubrik CME yang telah lebih dahulu kami luncurka­n.

Sesuai dengan tujuan buku ini, rubrik ini juga bertujuan membantu memberikan acuan bagi dokter dalam memberikan pelayanan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, baikmilik pemerintah maupun swasta, dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan sekaligus menurunkan angka rujukan. Seperti diketahui bahwa tingkat kemampuan dokter dalam pengelolaan penyakit di dalam SKDI dikelompokan menjadi 4 tingkatan, yakni tingkat kemampuan 1, 2, 3A, 3B, 4A, dan 4B. Kemampuan tersebut berturut-turu­t mengenali dan menjelaskan; mendiagnosis dan merujuk; mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan merujuk; bukan gawat darurat; gawat darurat; mendiagnosis, melaku­kan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas; kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter; serta profisiensi (kema­hir­an) yang dicapai setelah selesai internsip dan/ atau Pendidikan Kedok­teran Berkelanjutan (PKB).

Panduan ini selanjutnya menjadi acuan bagi seluruh dokter pelayanan primer dalam menerapkan pelayanan yang bermutu bagi masyarakat. Panduan ini diharapkan dapat membantu dokter layanan primer untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan sekaligus menurunkan angka rujukan dengan cara: memberi pelayanan sesuai bukti sahih terkini yang cocok dengan kondisi pasien, keluarga, dan masyarakatnya; menyediakan fasilitas pelayanan sesuai dengan kebutuhan standar pelayanan; meningkatkan mawas diri untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan profesional sesuai dengan kebutuhan pasien dan lingkungan; serta mempertajam kemampuan sebagai gatekeeper pelayanan kedokteran dengan menapis penyakit dalam tahap dini untuk dapat melaku­kan penatalaksanaan secara cepat dan tepat sebagaimana mestinya layanan primer.

Dengan rubrik ini MEDIKA membantu mensosialisasikannya. Semoga rubrik ini bermanfaat untuk pembaca dan membuat pembaca semakin tertarik membaca MEDIKA.  (Redaksi)