Masalah Urogenital pada Kehamilan dan Postpartum

Tanggal : 11 Jun 2019 15:09 Wib


Pribakti B.
Departemen Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.
 
Selama kehamilan ibu akan mengalami perubahan anatomi fisiologis pada sistem organ tubuhnya. Pengenalan perubahan anatomi fisiologis tubuh selama kehamilan dapat mengadaptasikan ibu terhadap perubahan tersebut. Perubahan anatomi dan adaptasi fisiologissistem reproduksi meliputi perubahan pada vagina dan vulva. Dilaporkan hormon estrogen mempengaruhi sistem reproduksi sehingga terjadi peningkatan vaskularisasi dan hiperemia pada vagina dan vulva. Peningkatan vaskularisasi menyebabkan warna kebiruan pada vagina yang disebut dengan tanda Chadwick. Perubahan pada dinding vagina meliputi peningkatan ketebalan mukosa, pelunakan jaringan penyambung, dan hipertrofi otot polos.
Selama kehamilan ibu akan mengalami perubahan anatomi fisiologis pada sistem organ tubuhnya. Pengenalan perubahan anatomi fisiologis tubuh selama kehamilan dapat mengadaptasikan ibu terhadap perubahan tersebut. Perubahan anatomi dan adaptasi fisiologis sistem reproduksi meliputi perubahan pada vagina dan vulva. Dilaporkan hormon estrogen mempengaruhi sistem reproduksi sehingga terjadi peningkatan vaskularisasi dan hiperemia pada vagina dan vulva. Peningkatan vaskularisasi menyebabkan warna kebiruan pada vagina yang disebut dengan tanda Chadwick. Perubahan pada dinding vagina meliputi peningkatan ketebalan mukosa, pelunakan jaringan penyambung, dan hipertrofi otot polos.

Infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah komplikasi medis paling umum pada kehamilan. Insidensi bakteriuria asimptomatik selama kehamilan adalah 2‐5%1 dan jika tidak diobati sebesar 20% wanita akan mengalami ISK bawah. Insidensi ISK secara keseluruhan pada kehamilan adalah 8%. Peningkatan kerentanan terhadap ISK diduga disebabkan oleh berbagai perubahan fisiologis, yang meliputi perubahan volume kandung kemih, penurunan tonus kandung kemih, dan dilatasi ureter, yang semuanya mengarah pada statisnya urin.3 ISK selama kehamilan dapat menyebabkan morbiditas potensial yang signifikan untuk ibu dan bayi, termasuk: Khorioam nionitis, Endometritis, Pertum buhan janin terhambat (IUGR), Persa linan prematur, Meningkatkan mortalitas perinatal, Retardasi mental dan Keterlambatan perkembangan.
Mengingat hal tersebut, pengenalan dan pengobatan dini dapat mengurangi morbiditas ibu dan janin. Ulasan cochrane menunjukkan bahwa pemberian antibiotik efektif untuk menyembuhkan ISK, namun ada data yang tidak cukup untuk merekomendasikan rejimen atau durasi pengobatan. Risiko ISK berulang pada kehamilan adalah sekitar 4‐5%. Pemberian antimikroba jangka panjang, dosis rendah dan dosis tunggal pada ISK yang disebabkan oleh hubungan seks dapat dianggap sebagai tindakan profilaksis.

Inkontinensia Urine
Inkontinensia urin (IU) didefinisikan sebagai keluhan adanya keluarnya urin yang tidak terkontrol. Prevalensi IU selama kehamilan bervariasi antara 32%‐64% dan lebih tinggi pada multipara dibandingkan pada wanita nulipara. Prevalensi IU yang terrendah pada trimester pertama tetapi meningkat dengan cepat selama trimester kedua dan ketiga.8 Dalam studi longitudinal yang dilakukan selama 6 tahun, MacArthur et al menunjukkan bahwa prevalensi postpartum inkontinensia urin persisten adalah 24%.9 Inkontinen sia urin tipe stres (SUI) adalah keluarnyaurin yang tidak terkontrol saat aktivitas, bersin atau batuk.6 Hal ini umum terjadi selama kehamilan, tetapi umumnya sembuh pada periode postpartum.
Overactive Bladder (OAB) didefinisikan sebagai urgensi dengan atau tanpa inkontinensia, biasanya dengan gejala meningkatnya frekuensi dan nokturia. Kejadian gejala OAB pada kehamilan mencapai 18% dan gejala tampak meningkat dengan kehamilan yang lebih besar tetapi menurun dengan cepat setelah melahirkan. OAB kering (tanpa inkontinensia urin) tidak memiliki efek negatif pada kualitas hidup, sedangkan OAB basah (dengan inkontinensia urin) mengganggu kualitas hidup selama dan setelah kehamilan.
Brown et al.12 menunjukkan bahwa inkontinensia urin tipe stres dan campuran lebih sering terjadi selama kehamilan dibandingkan dengan inkontinensia urin urgensi dengan insidensi 5,9%. Sebuah studi populasi menunjukkan bahwa inkontinensia urin berhubungan dengan bertambahnya usia, kehamilan pertama dan meningkatnya jumlah paritas.
 
Baca Selengkapnya di Warta Mediak Edisi Mei 2019...

Post Terkait

Etiopatogenesis dan Tatalaksana Kardiomiopati Peripartum

Tanggal Publikasi: 02 Sep 2019 09:43 | 88 View

Kardiomiopati peripartum didefinisikan sebagai disfungsi ventrikel kiri yang mengarah ke gagal jantung, tanpa diketahui penyebabnya serta terjadi pada bulan terakhir kehamilan hingga 5 bulan postpartum. Kardiomiopati peripartum menjadi penyebab meningkatnya…

Selengkapnya

Upaya Pencegahan Trauma Perinium pada Persalinan

Tanggal Publikasi: 12 Jul 2019 14:59 | 113 View

Trauma perineum didefinisikan sebagai kerusakan bodi/perineum yang terjadi selama proses persalinan, baik secara spontan atau karena episiotomi. Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan sekitar 85% dari perempu an yang melahirkan akan…

Selengkapnya

Penggunaan Pesarium pada Stres Inkontinensia Urin

Tanggal Publikasi: 06 May 2019 17:40 | 115 View

Penggunaan pessarium seharusnya dipertimbangkan untuk semua wanita yang menderita SUI, khususnya bila diputuskan penanganan secara konservatif.

Selengkapnya

Etiologi dan Faktor Risiko Stres Inkontinensia Urin

Tanggal Publikasi: 30 Sep 2018 08:08 | 1329 View

Inkontinensia urin didefinisikan oleh International Continence Society Standardization Committee sebagai suatu kondisi keluarnya urin yang tidak disadari dan merupakan masalah sosial atau masalah higienitas.

Selengkapnya

Deteksi dan Penanganan Bakterial Vaginosis

Tanggal Publikasi: 30 Sep 2018 08:07 | 515 View

Rekurensi Satu bulan setelah terapi, dapat terja di kekambuhan sebanyak 20‐40%. Kekambuhan rekuren terjadi karena persisten BV dan kegagalan flora untuk rekolonisasi. Hingga kini, tidak ada data yang mendukung terapi…

Selengkapnya