Jalan Menuju Panjang Umur

Tanggal : 30 Aug 2018 14:07 Wib


Dr. Pribakti B,SpOG(K)
Dosen FK ULM dan Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

    Catatan WHO ditahun 2010 tentang lama kelangsungan hidup untuk orang Indonesia adalah 68 tahun. Jadi, rata‐rata berumur tidak lebih dari 70 tahun. Sedangkan dinegara tetangga kita: Malaysia 70,8 tahun, Thailand 68,6 tahun, Filipina 67,5 tahun dan Singapura 80,1 tahun. Negara lain di Asia seperti Korea Selatan adalah 74,4 tahun, China 71,4 tahun dan Jepang 80,7 tahun. Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) didunia meningkat, juga di Indonesia. Namun kenyataannya populasi usia lanjut sering mengidap penyakit yang menyebabkan kualitas hidup menjadi tidak baik, tua tapi banyak pe nyakit. Kabar gembira di Majalah Tempo 14 juli 2013 harapan hidup orang Indonesia tahun 2012 sebesar 71,6 tahun. Sebuah penelitian pada pasien lansia di Poliklinik Geriatri Terpadu RS Cipto Mangunkusumo Jakarta menunjukkan pada kelompok usia lanjut biasanya terdapat tiga penyakit degeneratif yaitu hipertensi, penyakit sendi osteoarthritis dan diabetes.
     Sebenarnya semua orang berpotensi untuk meraih umur 80 tahun. Untuk itu belum terlambat untuk memulainya hari ini. Apabila Anda sekarang berusia 40 tahun, pikirkan bahw a Anda masih bisa hidup paling tidak 40 tahun lagi. Jika Anda berusia 50 tahun, Anda harus dapa t hidup minimum 30 tahun lagi. Dan kalau sudah berusia 60 tahun, pastikan Anda tetap sehat selama 20 tahun ke depan. Lebih dari itu, hidup sehat sebenarnya tidaklah mahal, justru sakitlah yang akan menguras biaya. Lihat saja mulai dari contoh sederhana. Berolahraga misalnya. Jogging atau bersepeda pada akhir pekan adalah olahraga sederhana yang tidak membutuhkan biaya tinggi dan mudah dilakukan siapa saja. Atau kalau tidak, mendatangi pusat kebugaran yang terdekat dari tempat kerja atau rumah bisa menjadi alternatif. Sayangnya, tak sedikit orang yang enggan atau malas melakukannya. Alasannya beragam, mulai dari keterbatasan waktu atau letih karena padatnya aktivitas sehari‐hari yang menguras energi.
     Istirahat yang cukup pun terkadang menjadi masalah tersendiri. Rutinitas pekerjaan yang terkadang menuntut lembur didakwa menja di penyebab minimnya waktu istirahat. Bisa juga istirahat kurang karena gaya hidup. Hobi begadang atau tidur yang tak berkualitas. Waktu‐waktu akhir pekan dianggap sebagai “bayar utang” minimnya waktu istirahat dengan tidur seharian. Ditilik dari
segi kesehatan, tentu saja ini tidak sehat. Jika istirahat kurang, imbasnya tidak hanya pada menurunnya sistem kekebalan tubuh, tetapi juga berdampak negatif pada kondisi psikologis. Contoh selanjutnya adalah pola makan. Pola makan kita cenderung terbiasa hanya satu menu atau monodiet. 
     Nasi dengan soto, atau nasi dengan gadogado atau ceplok telur belaka. Memang tak bisa dihindari, perubahan zaman pada akhirnya berdampak pula pada perubahan pola hidup yang membawa akibat pada perubahan pola makan. Dan, apa yang terjadi kemudian pun bisa pula ditebak. Ketika orang mulai meninggalkan pola makan lebih sehat, yaitu makanan dapur ”ibu” yang terdiri dari sayuran, daging dan ikan yang selalu segar, serta tempe, tahu, lalapan dan buah‐buahan, kemudian beralih ke pola makanan cepat saji ala Amerika, yang terjadi adalah kasus kelebihan berat badan. Mungkin agak tergesa‐gesa untuk meletakkan kesalahan utama pada makan ala Amerika. Namun, kenyataannya banyak orang yang kemudian belajar menyiasati pola makan tersebut. Sayangnya, dibalik kemasan penuh pesona itu tersimpan “umpan” dahsyat yang bila tidak hati-hati bisa dengan mudah membawa konsumen kearah obesitas. 
     Selain itu, khusus untuk menu sehat yang baik tentunya tidak asal kenyang. Tubuh membutuhkan sekitar 45 zat gizi atau nutrien. Sebagian bersifat esensial, artinya tidak boleh tidak harus tersedia dalam menu harian karena tubuh sendiri tidak bisa memproduksinya. Kemunculan penyakit degeneratif orang sekarang sebagian besar disebabkan oleh karena waktu lama sel tubuh kekurangan nutrisi. Untuk itu tiap orang perlu memperhatikan kandungan nutrisi dalam makanan yang dikonsumsi. Kecukupan dengan karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin dan kekurangan nutrisi menjadi semacam kewajiban setiap orang. Makanan instan yang minim serat atau goreng‐gorengan yang banyak mengandung minyak sering kali terlihat lebih lezat daripada sayur dan buah segar. Belum lagi banyaknya makanan yang mengandung bahan pengawet, bahan pewarna, atau justru tidak higiene dalam pengolahannya. Semua makanan ini tanpa disadari menjadi pilihan alternatif bagi banyak orang dan barangkali salah satunya adalah Anda. Padahal, jika dikonsum si berlebih, jenis‐jenis makanan ini bisa berdampak negatif bagi tubuh.
     Yang pasti, timbulnya penyakit penyakit kronis menjadikan usia seorang menjadi semakin pendek. Gaya hidup yang salah  membuat orang menjadi lebih gemuk, lebih lamban, lebih tampak tua serta lebih banyak mengidap penyakit. Untuk diketahui penyakit diabetes, jantung, stroke, osteoporosis bahkan kanker sekalipun, timbul akibat gaya hidup yang kacau dan kesalahan mengatur tubuh Anda. Dan gaya hidup yang sehat akan menghasilkan hidup yang lebih sukses, hidup yang lebih optimal dan hidup yang lebih berkualitas. Sebab memiliki umur panjang bukan hanya sekadar sehat, tetapi juga harus tetap mandiri, produktif, optimis, ceria, ada masa depan yang penuh harapan. Semoga bermanfaat.

Post Terkait

Evidence Based Medicine dan Kedokteran Modern

Tanggal Publikasi: 30 Sep 2018 08:17 | 313 View

Pada beberapa dekade terakhir ini berkembang paradigma baru yang disebut Evidence Based Medicine (EBM), yang banyak dianut oleh para klinisi, ahli kesehatan masyarakat, perencana dan manajer kesehatan.

Selengkapnya


Jurnal Medika CME