Deteksi Dini Saraf Penciuman, Cegah Kerusakan Otak !

Tanggal : 02 Sep 2019 09:43 Wib



Di Paviliun Bonaventura ini Rumah Sakit telah membuka Klinik Unggulan berupa pelayanan di bidang Neuroscience, Orthopaedic Centre serta Senior Clinic yang menunjang pelayanan bagi para pre‐lansia dan lansia. Dengan adanya Paviliun Bonaventura ini, Rumah Sakit Atma Jaya diharapkan dapat lebih banyak lagi memberikan pelayanan kepada pasien dari semua kelas dan tentu nya tetap berlandaskan motto Bersatu Mengabdi Sesama, Andal Layan Peduli Hati. Terkait dengan peluncuran Paviliun Bonaventura, Ir. Aswin Wirjadi, selaku Ketua Pengurus Yayasan Atma Jaya dalam sambutannya mengatakan dan berharap, “Agar dengan diluncur kannya Paviliun Bonaventura dapat semakin melengkapi sarana dan prasarana program‐program studi yang berhubungan dengan pendidikan dan penelitian di lingkungan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya”. Peluncuran ini sesuai degan misi RS Atma Jaya, yaitu menyelenggara kan dan mengembangkan layanan kesehatan komprehensif yang bermutu sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Disamping itu, RS juga memiliki misi untuk menyediakan sarana dan iklim pembelajaran yang kondusif bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Katolik Atma Jaya dalam upaya menghasilkan dokter yang memiliki kompetensi medik, kepekaan sosial, kesadaran, sikap dan perilaku etis, serta mampu menunjang kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi. Dalam acara yang sama diadakan juga Press Conference terkait salah satu tema terkini yang diangkat adalah penting nya mendeteksi dini saraf penciuman yang merupakan data kesehatan penting untuk mendeteksi tanda awal kerusakan diotak sekaligus menjadi fakto r risiko demensia. Hadir pula dalam press conference beberapa dokter ahli selaku pembicara diantara nta Dr. Meta Dewi Thedja, M.Biomed, Ph.D, yang juga selaku Direktur Utama RS Atma Jaya dalam sambutan mengatakan, Visi RS Atma Jaya adalah menjadi RS Pendidikan Utama bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya yang Kristiani, Unggul, Peduli, Profesional dan menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan masyarakat Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.Evidence‐based medicine adalah pendekatan pengobatan kepada pasien dengan berdasarkan hasil dan bukti ilmiah yang diperoleh dari penelitian yang baik sehingga dapat memberikan tata laksana pengobatan berbasis ilmiah kepada para pasien.Evidence‐based medicine merupakan hal penting bagi para praktisi kesehatan profesional termasuk para dokter dalam memberikan pendekatan pengobatan bagi pasien dan keluarga pasien karena mengedepankan basis bukti ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga penelitian yang baik sangatlah dibutuhkan untuk menjadi dasar keputusan paraprofesional bidang kesehatan mengambil ke putusan bagi tiap pasien yang ditangani, tambahnya. Ia pun melanjutkan,“ Terdapat beberapa Center of Excellent RS Atma Jaya, yakni Atma Jaya Neuro scienceand  Cognitive Center (ANCC), dimana banyak keunggulan RS Atma Jaya dibandingkan RS lain. Diantaranya adalah deteksi awal kelainan cognitive pada berbagai tingkatan usia yang juga dikembangkan pada dokter ahli saraf RS Atma Jaya berdasarkan clinical research sebagai basis ilmiah dan dilengkapi denga n pemeriksaan kognitif berbasis komputer. Di samping itu, Pelayanan Geriatri, dengan bertambahnya usia harapan hidup orang Indonesia, tentu peranan para praktisi kesehatan dalam mempertahankan quality of life para pre‐lansia dan lansia menjadi penting. Bidang lain, yaitu Orthopedic Center. Bone and joint merupakan hal yang sangat penting sebagai modalitas individu dalam melakukan aktivitas sehari‐hari. Dengan dukungan kompetensi para dokter Orthopedic yang ahli dalam ber bagai bidang knee dan hip, hand sur gery, spine, pain management, dan fa si li tas pendukung, menjadikan Orthopedic Center RS Atma Jaya terdepan dalam penanganan masalah boneand joint.”
Menurut beberapa sumber survey kependudukan, Indonesia memiliki popula si sebanyak 265 juta penduduk dan selama kurun waktu hampir 50 tahun (1971‐2018), jumlah penduduk lansia Indonesia meningkat menjadi dua kali lipat. Menurut Peraturan Peme rintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2004, lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas. Pada tahun 2018, jumlah lansia mencapai 9,27 persen atau sekita r 24,49 juta orang.
Beikut ini adalah golongan karegori dan jumlah lansia di Indonesia dikategorikan sebagai berikut:
  •  Lansia muda (kelompok umur 60‐69 tahun) sebanyak 63,39 persen 
  •  Lansia madya (kelompok umur 70-79 tahun) sebanyak 27,92 persen
  •  Lansia tua (kelompok umur 80+) sebany ak 8,69 persen
Namun tidak seluruh penduduk usia lanjut merupakan pasien Geriatri. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) RI No. 79 tahun 2014, pasien Geriatri adalah pasien lansia yang memiliki 1 atau lebih penyakit dan mengalami gangguan akibat penuruan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi dan lingkungan yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Geriatri diartikan sebagai cabang ilmu kedokteran yang mempelajari penyakit dan masalah kesehatan pada usia lanjut menyangkut aspek preventif, diagnosis, dan tata laksana. Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ seperti sistem sensorik, saraf pusat, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi. Selain ituterjadi pula perubahan komposisi tubuh, yaitu penurunan masa otot, peningkatan masa dansentralisasi lemak, serta peningkatan lemak intramuskular. Masalah yang sering dijumpai pada pasien geriatri adalah sindrom geriatri yang meliputi diantaranya, imobilisasi, instabilitas, inkontinensia, insomnia, depresi, infeksi, defisiensi imun, gangguan pendengaran dan penglihatan, gangguan intelektual, kolon irritable, impecunity, dan impotensi. Imobilisasi adalah keadaan tidak bergerak ataupun terbaring selama 3 hari atau lebih, diiringi gerak anatomis tubuh yang menghilang akibat perubahan fungsi fisiologis. Imobilisasi menyebabkan komplikasi lain yang lebih besar pada pasien usia lanjut bila tidak ditangani dengan baik. Gangguan keseimbangan (instabilitas) akan memudahkan pasien geriatri terjatuh dan dapat mengalami patah tulang. Proses menua juga bisa meng akibat kan gangguan penglihatan dan pen dengaran, gangguan ini sering dianggap sebagai hal yang biasa akibat proses menua. Gangguan penglihatan berhubungan dengan penurunan kegiatan waktu senggang, status fungsional, fungsi sosial, dan mobilitas. Gangguan penglihatan dan pendengaran berhubungan dengan kualitas hidup. Dalam kesempatan yang sama pula Dr. Rensa, Sp.PDK. Ger, Sebagai Spesialis Geriatri di RS Atma Jaya dalam presentasi I Menjelaskan, “Proses menua secara alamiah akan dialami oleh setiap manusia. Proses menua akan terus berjalan, tidak dapat dihentikan atau dicegah, hanya dapat diperlambat. Dengan bertambahnya usia, fungsi fisiologis mengalami penurunan akibat proses penuaan sehing ga penyakit lebih mudah terjadi pada lansia. Selain itu, proses degeneratif di berbagai organ menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena infeksi penyakit menular.” Data dari Statistik Penduduk Lanjut Usia yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017, menyebutkan bahwa dalam waktu hampir lima dekade, persentase lansia di Indonesia meningkat sekitar dua kali lipat (1971‐2017), yakni menjadi 8,97% (23,4 juta) dimana lansia perempuan sekitar 1 % lebih banyak dibandingkan lansia laki‐laki (9,47% ban ding 8,48%). Selain itu, lansia Indonesia didominasi oleh kelompok umur60‐69 tahun (lansia muda) yang persentasenya mencapai 5,65% dari pen duduk Indonesia. Hal ini yang menguatkan bahwa Indonesia memiliki struktur penduduk tua. Dari aspek kesehatan, hampir separuh lansia mengalami keluhan kesehatan sebulan terakhir. Angka kesakitan lansia cenderung menurun setiap tahun. Pada tahun 2017, angka kesakitan lansia dinyatakan sebesar 26,72%. Artinya, dari 100 lansia terdapat sekitar 27 lansia yang sakit. Dibandingkan tahun 2015, angka kesakit an lansia hanya turun sebesar 2%. Sebesar 7,68% lansia pernah rawat inap dalam setahun terakhir. Persentase lansia yang sakit lebih dari 3 minggu cukup besar, yakni sekitar 14%,” jelas dr Rensa. Terkait dengan rumitnya permasalahan kesehatan yang dialami serta karakter khusus yang dimiliki oleh pasien lansia dan geriatri, maka diperlukan cara dan pendekatan yang berbeda  dibandingkan dengan pasien yang usianya lebih muda (<60 tahun). Pengkajian Paripurna Pasien Geriatri (P3G) merupakan suatu prosedur untuk mengevaluasi pasiengeriatri secara multidimensi, dengan mengurai semua masalah pasien, bertemu dan kenali semua aset pasien, mengidentifikasi jenis pelayanan yang dibutuhkan, dan mengembangkan rencana asuhan secara terkoordinasi. Metode pengkajian ini mencakup hampir seluruh aspek dalam kehidupan lansia tersebut (bio‐psiko‐sosio‐spiritual), tambah Dr. Rensa, Sp.PD‐K.Ger.“ Salah satu komponen penting dalam P3G adalah penilaian fungsi kognitif. Beberapa penyakit kronis tertentu seperti diabetes, dislipidemia (kenaikan kadar lemak darah), dan hipertensi dianggap sebagai faktor risiko dari gangguan/penurunan fungsi kognitif melalui interaksi kompleks yang menyebabkan perubahan seluler di otak manusia,” Bagian dari proses penuaan juga bisa berupa banyak hal dalam istilah kedokteran diantaranya, inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya, sehingga mengakibatkan masalah sosial dan higienis. Insomnia merupakan gangguan tidur yang sering dijumpai pada pasien geriatri. Umumnya mereka menge luh bahwa tidurnya tidak memuaskan dan sulit memertahankan kondisi tidur. Gangguan depresi pada usia lanjut kurang dipahami sehingga banyak kasus tidak dikenali. Gejala depresi padausia lanjut seringkali dianggap sebagai bagian dari proses menua. Infeksi yang sering dijumpai adalah infeksi saluran kemih, pneumonia, sepsis, dan meningitis. Kondisi lain seperti kurang gizi, multipatologi, dan faktor lingkungan memudahkan usia lanjut terkena infeksi. 
 
Sementara itu pada kesempatan yang sama, selaku narasumber dalam presentasi press conference yang sama Dr. dr. Yuda Turana, SpS, Selaku Narasumber Presentasi ke II dan juga selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan kesehatan UNIKA Atma Jaya, mengatakan, “Pola hidup sehat sejak masa muda, menentukan kesehatan otak di masa tua. Tanpa sadar semua invest asi yang sudah mulai Anda lakukan sekarang sangat bergantung pada satu hal yang utama yaitu ketangkasan intelektual Anda. Investasi otak adalah bagaimana tetap menjaga otak Anda tetap sehatdan produktif.” Untuk memastikan kondisi kesehatan otak perlu dilakukan pemeriksaan, terutama untuk individu yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahankerusakan otak pada saat lansia. “Dalam konteks proses penuaan di otak, setiap orang saat usia 40 tahun, sebaiknya sudah pernah melakukan medical check up atau yang umur lebih muda namun dengan faktor risiko, misaln ya obesitas, adanya DM dan lain-lain Pemeriksaan medical check up, harus komprehensif, termasukdeteksi dini kerusakan otak”, Dr. dr.Yuda Turana, SpS menambahkan. Berdasarkan Penelitian Enhancing Diagnostic Accuracy of aMCI in the Elderly, Combination of Olfactory Test, Pupillary Response Test, BDNF Plasma Level and APOE Genotype, 20141 yang dilakukan di Fakultas kedokteran Atma Jaya dan telah dimuat pada International Journal of Alzheimer Disease 2016, menunjukkan skor yang rendah pada pemeriksaan saraf penciuman menjadi prediktor prademensia. Dari penelitian diketahui bahwa gangguan saraf penciuman yang tidak disadari, dapat merupakan tanda awal proses penuaan di otak dan menjadi faktor risiko demensia Lebih lanjut dalam presentasinya, Dr.dr. Yuda Turana, SpS menjelaskan, “Pemeriksaan menggunakan aroma yang familiar denga n kondisi Indonesia. Bila pasien tidak mampu mengidentikasi jenis aroma (padahal tidak sedang ‘pilek’ atau ada gangguan hidung lain), maka kemungkinan besar, sebagai prediktor prademensia ada banyak cara untuk memelihara kesehatan pada lansia dalam bidang kedokteran diantaranya Medical Check Up (MCU) Merupakan salah satu cara dalam memelihara kesehat an tubuh secara konsisten dan komprehensif, biasanya dilakukan dimulai usia 40 tahun keatas. Selain itu, MCU juga bertujuan untuk mendeteksi secara dini faktor risiko ataupun penyakit yang ada dalam tubuh lansia dan dapat segera diobati sehingga menambah kualitas hidup serta mengurangi komplikasi yang dapat terjadi pada pasien terutama lansia. Mild Cognitif Impairment (MCI) digambarkan sebagai kondisi seseorang berada di bawah fungsi kognitif normal namun tidak termasuk dalam diagnosis demensia. Diprediksikan sekitar 50‐80% seseorang yang terkena MCI dapat mengalami demen sia jika memasuki stage selanjutnya, sehingga fase MCI sering disebut sebagai fase prademensia. Berdasarkan laporan baru, screening MCI dapat dilakukan
dengan menggunakan tes Indra Penciuman dan tes respon terhadap dilatasi. Tes Indera Penciuman dilakukan dengan menggunakan 10 bau yang biasa ditemukan di Indonesia: minyak cajuput, kopi, melati, mentol, tembakau, minyak tanah, pandankapur barus, coklat, dan jeruk. Pasien akan diperbolehkan mencium bau 2 kali, masingmasing selama 5 menit sebelum menjawab. Penelitian tes indra penciuman telah dilakukan di Indonesia dengan jumlah 109 subyek dengan rentan usia 54‐64 tahun. Penelitian ini menunjukkan bahwa jika kemampuan indera penciuman berkurang maka diprediksi 80% seorang lansia juga dapat mengalami kemunduran ingatan dan kognitif lainnya. Selain itu, jika seorang lansia mengalami kemuduran indera penciuman dan diikuti dengan respons pupil mata yang hipersensitif, maka kedua pemeriksaan ini mampu memprediksi 90% kemunduran kognitif pada lansia. Seperti diketahui bahwa neurotransmiter ransmiter asetilkolin). Jadinya pada seseorang yang mengarah ke demensia alzheimer, akan mengalami kemunduran pula pada respons cahaya dimatanya. (RAL)

Post Terkait

“Sentuhan Cinta“

Tanggal Publikasi: 13 Aug 2019 10:51 | 50 View

Sukses Mendapatkan Dukungan Lebih dari 145.000 para Ibu di Indonesia untuk Tingkatkan Kualitas Kesehatan dan Kesejahteraan Bayi Indonesia.

Selengkapnya

Tanggap Herpes Genital: Kenali Penyakitnya, Waspadai Penularannya!

Tanggal Publikasi: 12 Jul 2019 14:59 | 79 View

Dilansir dalam data WHO pada tahun 2014 tercatat bahwa 417 juta orang di dunia mengidap penyakit infeksi virus herpes genital‐1. Minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang apa itu sebenar nya herpes…

Selengkapnya

Masker Cegah Penularan TBC karya Sivitas Akademika UI Raih Medali Emas pada Ajang I3F

Tanggal Publikasi: 12 Jun 2019 08:55 | 100 View

Empat sivitas akademika Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menciptakan sebuah terobosan masker terbaru bernama MASKIT atau Mask in Tech. MASKIT merupakan solusi untuk mencegah penularanpenyakit TBC ataupun penyakit lainnya yang…

Selengkapnya

Mengokohkan Kesadaran Gaya Hidup Rendah Karbohidrat kepada Masyarakat secara Ilmiah dan Bisa Menjadi Salah Satu Pilihan Gaya Hidup yang Aman

Tanggal Publikasi: 11 Jun 2019 16:45 | 82 View

Low Carb Indonesia (LCI) bekerjasama dengan Low Carb USA mengadakan Indonesia International Low Carb Conference (IILCC ) 2019. Berlangsung selama dua hari dan bertempat di Indonesia International Institute for Life‐Science…

Selengkapnya

UI Tambah Tiga Guru Besar Rumpun Ilmu Kesehatan

Tanggal Publikasi: 07 May 2019 10:30 | 120 View

Melalui pemanfaatan teknologi pada era 4.0, Prof.dr.Asri mendorong para epidemiologoi untuk dapat berinovasi mewujudkan implementation science, Selanjutnya, Prof. Budi memaparkan Pidato Pengukuhan bertajuk “Perubahan Iklim dan Polusi Udara di Indonesia:…

Selengkapnya