Keluarga Berencana dan Kualitas Penduduk

Tanggal : 14 Aug 2019 13:31 Wib


 

Dr. Pribakti B, SpOG(K)
Dosen FK Universitas Lambung Mangkurat
dan Dokter RSUD Ulin Banjarmasin​
 
Harus diakui kesuksesan Keluarga Berencana (KB) era Orde Baru adalah suatu prestasi. Mampukah pada Era Refor masi ini pemerintah mengerem laju pertambahan pendudu k? Saat ini laju pertumbuhan penduduk kita adalah 1,49%. Artinya 4,5 juta bayi lahir setiap tahun. Konsekuensinya sangat luas mulai dari bidang penyediaan lapangan kerja, ketersedia an pangan, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Proyeksi Penduduk Indonesia 2015‐2045 hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) tahun 2015 Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bappenas menunjukkan bawah jumlah pendu duk Indonesia tahun 2019 diproyeksikan sebanyak 266,91 juta jiwa dan terus bertambah hingga mencapai 318,96 juta jiwa ditahun 2045. Jadi akan ada tambahan sekitar 52 juta penduduk dalam kurun waktu 26 tahun kedepan.
Seperti diketahui pertumbuhan penduduk sangat dipengaruhi oleh angka kelahiran, kematian dan migrasi.
Berkem bangnya ilmu kesehatan turut berperan dalam mengur angi angka kematian akibat penyakit. Oleh karena itu, di negara‐ negara maju pertumbuhan penduduk lebih renda dibandingkan di negara berkembang karena pelayanan kesehatan yang semakin baik sehingga mengurangi risiko kematian penduduknya. Keinginan untuk beranakpun banyak berkurang ketika risiko kematian penduduk menurun.
Di samping itu, pemahaman tentang pentingnya keluarga kecil, tetapi berkualitas telah dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat di negara‐negara maju dibandingkan di negara‐ negara terbelakang. Peningkatan angka kematian bayi dan anak dapat terjadi karen faktor gizi. Kurangnya asupan gizi menyebabkan rendahnya status gizi anak dan anak akan semakin mudah terserang infeksi yang menyebabkan kematian. Demikian pula apabila ibu hamil kekurangan gizi, akan lahir bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) yaitu berat kelahiran kurang dari 2,5 kg. Bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2,5 kg berisiko mengalami gangguan kesehatan.
Saat ini prevalensi BBLR di Indonesia adalah 10,2%, balita penderita kurang gizi kronis 37,2%, dan angka kematian bayi 34 per 1000 kelahiran hidup. Bank Dunia akan mengumumkan negara‐negara yang gagal menurunkan prevalensi stunting/pendek (kurang gizi kronis). Indonesia pantas untuk merasa khawatir karena jumlah anak stunting bukan menurun, tetapi malah meningkat berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2010‐ 2013. Negara‐negara lain seperti Bangladesh, Brasil, Thailand, dan China telah sukses menurunkan angka stunting, sedangkan Indonesia nyaris tidak bergerak. Apa yang salah dengan pembangunan gizi di Indonesia?
Faktor budaya dapat berperan dalam menentukan berapa jumlah anak yang diinginkan dalam keluarga. Anak terkadang dianggap sebagai investasi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu orang tuanya mencari nafkah. Dengan demikian, mempunyai banyak anak dianggap dapat meningkatkan derajat ekonomi keluarga. Lebih dari itu, ada sebagian masyarakat, anak laki‐laki sangat penting sebagai pewaris keturunan. Akhirnya, orang tua akan terus berusaha untuk mendapatkan anak laki‐laki meski anak‐anaknya mungkin sudah banyak, namun berkelamin perempuan. Membesarkan anak memerlukan biaya tinggi karena anak tidak cukup kalau diberi makan saja, tetapi juga harus disekolahkan.
Struktur penduduk sering digambarkan dalam bentuk piramida kependudukan. Di negara berkembang struktur penduduknya seperti piramida Mesir yaitu di bagian bawah yang mencerminkan penduduk usia muda jumlahnya sangat banyak, sedangkan di puncak yang merupakan penduduk usia tua jumlah nya sangat sedikit. Dampak pembangunan yang berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan mengubabentuk piramida penduduk yang semula seperti piramida Mesir menjadi bentuk Candi Prambanan. Artinya kelompok usia tua akan semakin banyak sehingga proporsi penduduk tidak lagi didominasi oleh usia anak‐anak. Usia Harapan Hidup (UHH) bangsa kita diakui semakin membaik yaitu dari 66 tahun pada 1995‐2000 menjadi 70,1 tahun pada 2010‐2015. 
Dalam waktu dekat akan ada sejumlah 20 juta lansia yang tentu memerlukan layanan‐layanan kesehatan yang lebih baik seiring dengan semakin kompleksnya jenis penyakit yang dihadapi. Ini tantangan berat bagi bangsa yang sedang mengala mi transisi demografis. Fenomena double burden saat ini terjadi di Indonesia. Persoalan gizi kurang belum tuntas diatasi, namun kini kita juga mengalami persoalan gizi lebih (obesitas) yang membawa dampak pada merebaknya penyakit degeneratif (stroke, penyakit jantung, diabetes, kanker, hipertensi, dan sebagainya). 
Survei terakhir tentang penyebab kematian tertinggi di Indonesia ternyata didominasi oleh stroke (21,1%), penyakit jantung (12,9%), dan diabetes (6,7%). Dalam hal pangan, mengacu hasil Global Food Security Index (GFSI), indeks keta‐
hanan pangan Indonesia menduduki peringkat ke‐71 dari 113 negara. Posisi ini masih kalah dibandingkan Vietnam (67), Filipina (65), Thailand (49), Malaysia (34), dan Singapura (5). 
Jadi meski konon indeks ketahanan pangan Indonesia mengal ami perbaikan, negara‐negara tetangga kita ibaratnya berlari cepat dan kita sekadar berjalan lambat. Kelalaian dalam perencanaan kependudukan akan berakibat fatal bagi bangsa ini. Jangan lagi teperdaya oleh asumsi bahwa penduduk yang banyak akan menjadi aset pembangunan dan bonus demografi akan dapat diraih oleh Indonesia. Kenyataannya, jumlah penduduk yang banyak akan menjadi bebanpemban gunan bila tidak diiringi dengan upaya‐upaya mendongkrak kualitas penduduk.
 

Post Terkait

Mungkinkah Mengulur Umur?

Tanggal Publikasi: 10 Jul 2020 17:28 | 407 View

Sudah jamak bila manusia terus mencari cara bagaimana umur bisa terus lebih terulur panjang. Dunia medispun tidak berhenti mencari. Makin tahun makin terungkap rahasia membuat tubuh lebih bertahan hidup dibanding…

Selengkapnya

Peremajaan Miss V dan Ginekologi Estetika

Tanggal Publikasi: 02 Sep 2019 09:42 | 768 View

Harus diakui gencarnya perkembangan teknologi informasi dan komun ikasi turut menyumbang gambaran ideal tentang kecantikan. Tak terkecuali dengan penampilan organ intim wanita ini. Tren kecantikan terus berkembang seiring waktu .…

Selengkapnya

Gaya Hidup dan Ancaman Kanker

Tanggal Publikasi: 12 Jul 2019 15:01 | 637 View

Harus diakui untuk mengubah gaya hidup tak segampang menulisnya. Kalau dari kecil lidah anak terbiasa mengecap cita rasa gurihnya daging bakar atau steak, tak mudah membujuknya jadi suka menu nenek.

Selengkapnya

Defisit BPJS, Rumah Sakit, dan Farmasi

Tanggal Publikasi: 13 Jun 2019 10:25 | 835 View

Seperti diketahui permasalahan keuangan BPJS Kesehatan terjadi dari tahun ke tahun belum mampu menemukan solusi jitu. Setiap tahun selalu mengalami defisit dan semakin besar. Pada 2014 defisit sebesar Rp3,8 triliun.…

Selengkapnya

Saatnya Regulasi Layanan e-Kesehatan

Tanggal Publikasi: 08 May 2019 09:30 | 635 View

Tidak diragukan lagi, saat ini sektor kesehatan mulai memasuki era disrupsi. Pasien kini dapat berkonsultasi dengan dokter melalui berbagai aplikasi seluler. Layanan perawatan di rumah, pemeriksaan laboratorium maupun pemesanan obat,…

Selengkapnya